Al-Qur’an, Manusia dan Makanannya

Foto Dokumentasi

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

Al-Qur’an adalah kalamullah, wahyu Allah ta’ala sebagai pedoman hidup bagi manusia. Bukan hanya terkait dengan aqidah dan kepercayaan, tetap juga dalam seluruh aspek kehidupan termasuk masalah makanan dan kesehatan.

Bacaan Lainnya

Sebagai makhluk yang memiliki dimensi fisik, maka manusia terikat dengan jasadnya yang terdiri dari benda materi sehingga akan terikat dengan waktu, tempat dan sifat kebendaan lainnya. Tubuh manusia memerlukan asupan makanan dan minuman agar dapat terus berada pada kesehatan yang optimal. Sayangnya tidak semua manusia memperhatikan tentang makanan dan minuman yang dikonsumsinya, padahal Allah ta’ala telah berfirman:

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. QS. ‘Abasa (80): 24.

Allah Ta’ala dalam ayat ini secara jelas memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan makanan dan minumannya. Untuk apa? Tentu saja kembali kepada tujuan utama makan dan minum adalah agar metabolisme tubuh dapat berjalan dengan baik sehingga akan mampu untuk digunakan dalam beribadah kepadaNya. Hal ini telah menjadi sunnatullah sehingga bila tidak diindahkan akan memunculkan berbagai persoalan, utamanya gangguan kesehatan.

Penelitian yang dilakukan terhadap berbagai penyakit yang ada adalah karena sebab makanan, dari penyakit yang ringan semisal mual-mual hingga yang paling berat semisal jantung dan strook sebab utamanya adalah makanan yang dikonsumsinya. Maka sampai kapan manusia selalu memenuhi hawanya untuk mengonsumsi berbagai makanan yang sejatinya dapat mengancam kesehatannya?

Kasih sayang Allah ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, di dalamnya terkandung aturan (syariah) bagaimana manusia harus menjalani kehidupan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat sana. Bukan hanya satu ayat yang membahas mengenai masalah makanan di dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat lain serta hadits-hadits Nabawi yang memberikan pedoman kepada kita untuk selalu memperhatikan makanan dan minuman yang kita konsumsi. Mulai dari yang jelas-jelas diharamkan seperti daging babi, darah, bangkai dan minuman keras (khamr), hingga makanan yang tidak thayyib dan harus dihindari. FirmanNya:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ * إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya. (114) Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah, tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. An-Nahl: 114-115.

Kedua ayat ini menjadi pedoman bagi manusia dalam mengonsumsi makanan dan minuman, diawali dengan perintah konsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik) sebagai bentuk peribadahan kepadaNya. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa makanan dan minuman yang diharamkan dalam Islam.

Ketika manusia tidak memperhatikan kalamNya serta tuntunan yang sudah ada di dalam Al-Qur’an maka manusia akan berada dalam kesesatan, kesusahan dan ujungnya adalah Kesehatan yang terganggu karena tidak mengikuti petunjuk Allah ta’ala di dalam Al-Qur’an khususnya terkait dengan makanan. Jika saat ini banyak sekali penyakit yang diderita oleh manusia, maka sudah saatnya kita kembali kepada tuntunan Al-Quran, tuntunan Islam sebagai solusi terbaik dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam makanan dan minuman. Wallahua’lam, 13102022.[]

Pos terkait