ASWAJA yang Terdzalimi

Foto Ilustrasi

Oleh: Misno Mohd Djahri

Secara jujur kita bisa menyatakan bahwa umat Islam saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Berbagai sendi kehidupan umat Islam tengah menghadapi berbagai cobaan dan tantangan, dari mulai masalah keseharian bidang fiqh yang berbeda dalam amalan hingga masalah aqidah mengenai definisi syirik dan kebid’ahan.

Bacaan Lainnya

Apabila diperluas lagi, maka berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam di berbagai wilayah akan semakin kelihatan. Dari mulai problem negeri yang mayoritas muslim hingga minoritas yang sering sekali didzalimi. Belum lagi perseteruan antar umat Islam karena beda negara atau budaya hingga dengan mudah diadu domba.

Begitu banyak permasalahan pada diri umat Islam hingga banyak di antara mereka yang membuat madzhab, kelompok, aliran dan manhaj beragama. Masing-masing membuat nama dan istilah tersendiri untuk membedakan dengan golongan lainnya. Sebagian nama kelompok mereka lebih populer dengan istilah yang diberikan di luar kelompoknya. Istilah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Sufi dan yang lainnya adalah nama yang melekat pada beberapa golongan umat Islam yang berasal dari luar mereka. Sementara sebagian lainnya mencoba untuk memberikan nama sesuai dengan dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga muncullah istilah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah atau disingkat dengan ASWAJA. Makna dari istilah ini adalah pengikut Sunnah Nabi dan Jama’ah (kelompok) umat Islam. Permasalahan yang muncul adalah istilah ini begitu populer dan dianggap sebagai standar kebenaran hingga banyak orang yang menggunakan, memanfaatkan hingga memperebutkannya.

ASWAJA yang terdzalimi dalam konteks ini adalah nama yang begitu mulia namun diperebutkan oleh banyak golongan manusia. Hampir semua komunitas umat Islam menggunakan istilah ini hingga Sebagian umat Islam justru bingung,“ Komunitas mana yang disebut ASWAJA?”

ASWAJA yang pertama adalah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dengan dasar Aqidah dari Abu Hasan Al Asy’ari yang terkenal dengan Aqidah Asy’ariyah yang kemudian ditambahkan dengan Aqidah Maturidiyah. Golongan ini juga menisbatkan pada Madzhab Fiqh Imam Syafii dan Tasawuf Imam Al Ghazali. Saat ini sebagian besar umat Islam di Indonesia melalui organisasi Islam terbesar menggunakan istilah ASWAJA sebagai karakter beragamanya. Sebagian mereka adalah masyarakat “tradisional” yang ada di pedesaan, walaupun saat ini banyak juga yang berpendidikan dan tinggal di perkotaan.

ASWAJA versi kedua adalah istilah yang digunakan oleh umat Islam yang beragama dengan corak reformis (pembaharu), sebagai kelanjutan dari pemikiran para pembaharu Islam khususnya di Timur Tengah. Ada Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaludin Al Afghani, Hasan Al Banna, Muhammad bin Abdul Wahab dan yang lainnya. Corak ASWAJA ini menyebar melalui para pemikir Indonesia melalui organisasi keagamaan yang bercorak modern. Tentu saja mereka juga mengklaim sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, sebagai kelompok umat Islam yang sama dengan yang lainnya.

Analisis saya berikutnya adalah pemikiran yang dibawa oleh Muhamad bin Abdul Wahab yang kemudian menamakan dirinya Salafi, saat ini juga menggunakan istilah ASWAJA sebagai karakter beragama mereka. Mereka seperti memisahkan diri dari pemikiran umat Islam reformis lainnya, karena memang beberapa bagian pemikirannya berbeda, misalnya dalam masalah politik, sikap terhadap pemerintah hingga wala dan bara.

Merujuk pada fakta ini maka terlihat nyata bagaimana istilah ASWAJA digunakan oleh sebagian besar umat Islam. Walaupun faktanya di antara mereka memiliki berbagai perbedaan, baik dari sisi Aqidah, Syariah dan Muamalah. Ini fakta dan realita yang ada, salah satu bukti bidang aqidah adalah perbedaan dalam masalah tawasul, ziarah kubur, sesaji dan yang lainnya. Apalagi kalau sudah menyangkut istilah Sunnah dan bid’ah, yang selalu menjadi perdebatan panjang. Dalam masalah Syariah khususnya Fiqh lebih banyak lagi perbedaan hingga seringkali memunculkan istilah sesat, ahli bid’ah dan lainnya. Pada bidang Muamalah yang saat ini berkembang pun demikian, banyak pendapat dan pemahaman hingga membuat masyarakat awam menjadi bingung.

Melihat fakta ini maka sudah selayaknya bagi kita untuk terus belajar dan memahami Islam dengan benar. Mengikhlaskan niat belajar agama untuk mencapai kebenaran tanpa dicampur dengan hawa nafsu pribadi atau kepentingan golongan. Memahami Islam yang memiliki pedoman yang jelas yaitu Al Qur’an dan As Sunnah yang sudah disepakati oleh semua umat Islam. Kemudian Memahami fiqh dalam konteks pemikiran dan memberikan ruang untuk berbeda dalam hal ijtihadiyah. Pada masalah Aqidah maka harus dipahami dulu sejarah dan latar belakang dari setiap pemikiran. Menganalisis secara mendalam setiap pemikiran aqidah yang ada, terus belajar untuk memahami akar perbedaan dan penafsiran hingga tidak mudah menyalahkan pihak lain, apalagi menyesatkannya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan inayahNya, sehingga umat Islam selalu dalam lindunganNya. Demikian juga semoga istilah ASWAJA juga dapat terimplementasi dalam kehidupan umat Islam, hingga tidak ada yang mengklaim lebih ASWAJA dibanding dengan kelompok lainnya. Semoga ASWAJA semakin berjaya… tapi kembali ke pertanyaan semula  “ASWAJA yang mana?” Jawabannya akan didapatkan ketika kita terus belajar Islam dengan ikhlas tanpa kepentingan dunia dan seisinya. Wallahu a’alam, depan Terminal Baranangsiang, Bogor. 04082022. []

Pos terkait