Berikan Pelayanan Terbaik, Kader Kesehatan TB Warakas Terima Piagam Penghargaan

Foto Dokumentasi

Barometernews.id | Jakarta, – Kegigihan Sandra Setyaningsih dalam menjalani tugas sosialnya sebagai kader kesehatan Tuberkulosis (TB) di wilayah Kelurahan Warakas mendapatkan apresiasi langsung dari Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara, Ali Maulana Hakim. Bertepatan dengan acara peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Sandra memperoleh piagam penghargaan atas kontribusinya dalam upaya penanggulangan Tuberkulosis di wilayah Jakarta Utara.

“Piagam penghargaan ini menjadi semangat baru untuk bisa berbuat lebih maksimal lagi dalam melakukan upaya pencegahan ataupun melayani pasien TB yang saat ini masih menjalani pengobatan rawat jalan secara rutin,” tutur Sandra Setyaningsih saat ditemui di Ruang Fatahillah, Kantor Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara, Rabu (30/3).

Dijelaskannya, TB merupakan penyakit menular akibat infeksi bakteri yang umumnya menyerang paru-paru. Kalau sudah dinyatakan positif TB maka pasien akan langsung menjalani pengobatan secara rutin. “Harus rutin minum obatnya kalau tidak maka akan mengulang lagi dari awal. Jangka waktu pengobatannya ada yang 6 bulan, 9 bulan, dan 24 bulan,” ujarnya.

Beragam tantangan di lapangan kerap dihadapinya seperti pasien TB yang sudah putus asa dengan penyakitnya hingga tidak mau menjalani pengobatan lagi dan penolakan untuk dilakukan skrining TB. “Sebagai kader TB, saya terus memberikan semangat kepada pasien TB dan keluarganya untuk melanjutkan pengobatan. Kalau pasien tidak bisa mengambil obat ke Puskesmas maka saya yang ambilkan obatnya di Puskesmas,” ungkap Sandra.

Menjalani tugas sebagai kader kesehatan TB yang kerap berinteraksi dengan pasien TB tidak membuatnya takut akan risiko tertularnya penyakit TB. “Waktu itu dalam sehari sempat melayani pasien TB sehari ada lima atau tiga orang. Untuk penyakit TB, penularannya bisa dari udara dan ciri-ciri terindikasi TB seperti batuk terus menerus selama 14 hari, badan kurus dan berat badannya tidak naik, nafsu makan berkurang, tidak beraktivitas tapi berkeringat, dan hal lainnya,” terangnya.

Bercermin dari sosok ibunya yaitu Ike Nimah yang lebih dulu terjun ke dunia TB sebagai relawan pendamping pasien TB memberikannya keberanian untuk berbuat serupa dan menghadapi berbagai tantangan kedepan. “Ibu saya hanya punya satu ginjal tapi semangatnya luar biasa untuk mendampingi pasien TB. Itu yang memotivasi saya untuk ikut turun ke lapangan dan bergabung bersama empat kader kesehatan TB lainnya di wilayah Kelurahan Warakas,” pungkas Sandra. [Kominfotik JU]

 

Pos terkait