Bisnis Mie Instan Antar Lima Pengusaha Menjadi Terkaya

DR. Basuki Ranto

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Baru-baru ini ramai dalam pemberitaan soal akan terjadinya kelangkaan gandum sebagai akibat geopolitik adanya perang Rusia-Ukraina yang berakibat bagi dunia akan terjadi krisis pangan dan energi. Sebagai mana diketahui khusus untuk gandum kedua negara tersebut adalah penghasil gandum terbesar dunia. Hal tersebut akan berdampak terhadap makanan berbahan gandum seperti mie instan.

Mie Instan merupakan produk makanan berbahan baku gandum yang memiliki peluang pasar yang sangat menjanjikan. Mie Instan sangat dikenal dan digemari semua kalangan baik sebagai menu pokok maupun makanan yang praktis, fleksibel dan kapan saja. Mulai anak kecil, remaja , dewasa menggemari makanan ini dan dari kelas konsumen banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan rendah sampai kelas menengah atas sebagai makanan penyela.

Tingginya konsumsi mie instan ini tergambar dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2020. Hasil olah data Lokadata atas hasil survei itu mendapati bahwa 92 persen atau sekitar 248,7 juta penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi mie instan (satuan bungkus sekitar 80 gr). Konsumsi mie instan Indonesia porsinya mencapai 11,27% dari total konsumsi mie instan dunia yang mencapai 118,18 miliar bungkus pada tahun lalu.

Dari sisi bahan baku yang digunakan, dari data Statista Indonesia merupakan negara pengonsumsi gandum peringkat ke-14 dunia pada 2021/2022, yaitu sebanyak 10,4 juta ton.

Mie goreng adalah varian mie instan paling populer di Indonesia, dengan variasi gurih rasa ayam, sayuran, dan udang. Terutama karena Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Pertumbuhan penjualan juga mengalami pergerakan naik dan tidak mengalami penurunan ketika produk lain terkena dampak pandemi Covid 19.

Menurut World Instant Noodles Association, Indonesia adalah negara konsumen mie instan terbesar kedua di dunia. Pada 2021 Indonesia menghabiskan 13,27 miliar bungkus mie instan. Nilai penjualan mie instan di Indonesia juga tercatat terus meningkat dalam lima tahun terakhir.

Menurut data Euromonitor, pada 2017 nilai penjualannya masih US$2,63 miliar. Kemudian naik menjadi US$2,7 miliar pada 2018, US$2,73 miliar pada 2019, dan US$2,92 miliar pada 2020. Sampai 2021 nilainya sudah naik lagi menjadi US$3,03 miliar, meningkat 15% jika dibandingkan dengan nilai penjualan tahun 2017.

Adapun di kuartal pertama tahun 2022 industri mie instan sempat dikejutkan dengan kenaikan harga gandum.
Kenaikan harga terjadi karena konflik militer antara dua eksportir gandum besar dunia, yakni dua Negara: Rusia dan Ukraina.

Begitu cemerlangnya prospek mie instan di Indonesia menjadikan pengusaha masuk dalam kategori orang terkaya di Indonesia dan Siapa saja kah mereka?

Menjadi Pengusaha Terkaya

Dengan bisnis yang digeluti selama ini yang berkait dengan produk mie instan dan dengan kinerja bisnis yang cemerlang, maka menjadikan beberapa pengusaha mie instan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Melansir dari CNBC Indonesia, berikut ini daftar pengusaha mie instan terkaya di Indonesia:

(1) Anthony Salim, merupakan orang terkaya ke-tiga di Indonesia tahun 2021. CEO Salim Group ini memiliki kekayaan dengan hartanya mencapai US$ 8,5 miliar atau setara Rp 126,30 triliun.
Mie instan menjadi salah satu sumber kekayaan Anthoni Salim. Produsen mie instan terbesar di Indonesia yakni Indofood merupakan anak perusahaan milik PT Salim Group yang saat ini di bawah kendali oleh Anthoni Salim.

(2) Jogi Hendra Atmadja, adalah pemilik kelompok usaha Mayora Group, dan menjadi orang terkaya nomor 9 di Indonesia tahun 2021, dengan nilai kekayaan mencapai US$ 4,1 miliar atau setara Rp60,92 triliun.
Harta kekayaan itu diperoleh dari Mayora Group yang merupakan salah satu produsen mie instan dengan beragam produk inovatif, seperti Bakmi Mewah dan Mi Gelas.

(3) Eddy Katuari, memiliki kekayaan US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 14,85 triliun dan menjadikannya orang terkaya nomor 39 di Indonesia. Pria ini adalah bos dari Wings Group yang memiliki pangsa pasar terbesar kedua untuk mie instan di Indonesia. Wings Group mengedarkan produk dengan merek Mie Sedaap, Eko Mie, So Yumie dan Mie Suksess.

(4) Husain Djojonegoro, memiliki kekayaan USD1,25 miliar atau setara dengan Rp18,57 triliun. Ia merupakan orang terkaya di Indonesia pada posisi ke-34 pada tahun 2021. Husain dan adiknya Pudjiono mengelola Grup ABC. ABC Holding yang saat ini di bawah PT ABC President Indonesia, perusahaan tersebut mengedarkan mie instan bermerek ABC dan Gurimi.

(5) Djajadi Djaja, sosoknya adalah pemilik bisnis di PT Jakarana Tama yang dirintis sejak Mei 1993. Adapun merek mie yang diproduksi adalah Gaga. Berbeda dari empat pengusaha mie instan terkaya lainnya, Djajadi Djaja tidak masuk daftar Forbes. Sehingga tidak diketahui harta kekayaannya. Meski demikian, nama Djajadi Djaja tidak bisa dikesampingkan. Dia punya peran besar dalam menghasilkan peoduk Indomie karena pada awalnya bukan produk asli buatan group Salim.

Ternyata bisnis mie instan menjanjikan dan hal ini menjadikan bukan saja usahanya menjadi tumbuh dan berkembang akan tetapi juga pengusaha nya terus mengumpulkan pundi keuntungan yang mengantar menjadi orang terkaya di Indonesia dalam kondisi berbeda urutan.

Hal yang perlu dipikirkan kemudian adalah ketika gandum mahal dan langka, perlu dicari alternatif barang substitusi lain yang akan menggantikan gandum sebagai bahan baku mie instan dan produk makanan lain berbahan baku gandum.

Tahap awal sudah ada wacana dari Pemerintah sorgum sebagai pengganti gandum, hal ini masih diperlukan kajian lebih lanjut dan respon cepat dari pelaku usaha agar produk yang selama ini dikonsumsi masyarakat tidak langka dan harganya tetap terjangkau.

Sesungguhnya selain sorgum sudah ada komoditas pangan pengganti gandum di Indonesia, bahkan melimpah dan gampang nanamnya yaitu singkong. Beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan, tetapi kok seperti hilang begitu saja. Dengan teknologi pangan yang sudah semakin maju, singkong diolah menjadi tepung”mocaf” (modified cassava flour). Viral bahwa tepung ini kualitasnya setara tepung terigu, dapat menjadi bahan membuat kue basah kering dan makanan lain berbasis terigu. Di Sumatera Barat sempat ramai dengan munculnya mie berbahan mocaf. Konon tepung mocaf sdh diekspor, ekspor mocaf Banjarnegara pun sempat ramai diberitakan.

Pesaing mocaf adalah tepung porang, umbi-umbian yang menanamnya juga mudah. Porang juga sempat viral, banyak dijumpai/ditanam di Jawa Timur Jawa Tengah Riau Sumsel dan sesungguhnya dapat ditanam di banyak daerah lainnya di Indonesia. Pabrik tepung porang sdh ada di Riau, banyak di Jawa Timur dan pabrik terbesarnya ada di Madiun diresmikan Presiden Jokowi setahun yang lalu Tepung porang juga sudah diekspor. Berbeda dengan mocaf, tepung porang digadang dijadikan bahan beras sintetis dan di Madiun juga sdh dibangun pabrik beras porang. Tetapi sekarang karena produksi padi sedang surplus, bahkan berasnya ada yg diekspor, maka tepung porang pun saat ini mungkin lebih berorientasi ekspor.

Kembali tentang mocaf, konon proses pembuatannya sederhana, beda sedikit dengan cara pembuatan tepung tapioka, sehingga sesungguhnya dapat dijadikan industri rumahan. Perbedaannya, jika tepung tapioka dibuat langsung dari krekel singkong, mocaf dibuat dari krekel singkong yang difermentasi dulu sebelum digiling.

Catatan masukan ini disampaikan oleh sahabat saya SR saat diskusi kecil dan merupakan alternatif lain yang perlu menjadi bahan pertimbangan selain sorgum, hal ini beralasan karena begitu variasinya produk pertanian di nusantara ini yang bisa menjadi alternatif namun diperlukan tehnologi produksi yang memenuhi persyaratan untuk kebutuhan bahan pengganti untuk produksi makanan berbahan baku gandum.

Kesimpulan

Dari beberapa uraian sebelumnya , maka dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama : Akan terjadi kelangkaan gandum ketika perang Rusia-Ukraina tidak kunjung berakhir, mengingat dua negara ini merupakan produsen pangan terbesar selain energi. Sehingga diperlukan langkah solutif untuk menjamin ketersediaan .

Kedua : Indonesia sebagai pengguna gandum urutan keempat belas dunia akan merasakan dampaknya ketika pasokan gandum dari kedua negara tersebut terganggu, sehingga perlu langkah cerdas dan tepat mencari barang substitusi untuk mengantikan gandum sebagai bahan baku mie instan dan produk makanan lain berbahan baku gandum.

Ketiga : Potensi pasar mie instan sungguh fantastis hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian SUSENAS tahun 2020. Hasil olah data Lokadata atas hasil survei itu mendapati bahwa 92 persen atau sekitar 248,7 juta penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi mie instan (satuan bungkus sekitar 80 gr). Hal ini menjadi potensi yang kuat untuk industri mie instan di Indonesia.

Keempat : Dengan potensi sebagaimana dimaksud pada butir ketiga, membawa pengaruh kepada jumlah penjualan.
Menurut data Euromonitor, terjadi trend kenaikan penjualan mulai 2017 nilai penjualannya masih US$2,63 miliar. Kemudian naik menjadi US$2,7 miliar pada 2018, US$2,73 miliar pada 2019, dan US$2,92 miliar pada 2020.
Sampai 2021 nilainya sudah naik lagi menjadi US$3,03 miliar, meningkat 15% jika dibandingkan dengan nilai penjualan tahun 2017. Adapun di kuartal pertama tahun 2022 industri mie instan sempat dikejutkan dengan kenaikan harga gandum. Hal ini menunjukkan bahwa mie instan terus tumbuh dan mantap sebagai suatu bisnis yang menjanjikan.

Kelima : Dengan potensi konsumen dan pertumbuhan penjualan yang trend-nya terus meningkat menjadikan pelaku usahanya setidaknya lima pengusaha tercatat sebagai orang terkaya pada posisi yang berbeda. Hal ini harus menjadi suatu hal yang patut dipertahankan pada situasi bahan baku mie instan langka dan perlu pengganti barang substitusi.(14082022@br) [jbm]

Pos terkait