Dari Pandemik Covid-19 Kita Belajar Penanganan Risiko Bencana Non Alam

Foto : Muslim Khadri, S.STP, M.SM

Oleh : Muslim Khadri, S.STP, M.SM

Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Pidie Jaya, Pengurus Forum Menulis Aceh Chapter Pidie Jaya dan Direktur Eksekutif Bestuur Institute

Bacaan Lainnya

 

Sejak kemunculannya di triwulan keempat tahun 2019 infeksi 2019-nCoV menjadi masalah kesehatan dunia. Kasus ini diawali dengan informasi dari World Health Organization (WHO) pada Desember 2019 yang menyebutkan adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Kasus ini terus bertambah parah hingga akhirnya diketahui bahwa penyebab kluster pneumonia ini adalah novel coronavirus. Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar China. Sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi hal tersebut maka penting bagi kita semua saat ini kesiapan dalam menghadapi 2019-nCoV.

Tulisan ini mengadopsi Pedoman Umum menghadapi Pandemi COVID-19 Bagi Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri RI dan Panduan Menghadapi Penyakit Virus Corona 2019 Model RRC yang dikeluarkan oleh People’s Medical Publishing House.

Secara resmi pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Pada tanggal 7 Januari 2020, China mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (novel coronavirus).

Pada awal tahun 2020 NCP mulai menjadi pendemi global dan menjadi masalah kesehatan di beberapa negara di luar RRC. Berdasarkan World Health Organization (WHO) kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan itu telah menjadi permasalahan kesehatan di seluruh dunia.

Novel Coronavirus

Penyebaran epidemi ini terus berkembang hingga akhirnya diketahui bahwa penyebab kluster pneumonia ini adalah Novel Coronavirus. Pandemi ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan kasus-kasus baru di luar China, hingga pada tanggal 30 Januari 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/ Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia (KKMMD).

Pada tanggal 12 Februari 2020, WHO resmi menetapkan penyakit novel coronavirus pada manusia ini dengan sebutan Coronavirus Disease (COVID-19). COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya.

Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibanding COVID-19 (saat ini kurang dari 5%), walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibanding SARS. COVID-19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS. Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan dan negara lain.

Sampai dengan 28 Maret 2020, secara global dilaporkan 601.238 kasus konfimasi di 199 negara dengan 27.432 kematian ( 17 %), sedangkan 133.443 pasien dinyatakan sembuh. Artinya ada peluang untuk sembuh kembali bagi yang tekena Coronavirus (sumber: compas.com).

COVID-19 telah menjadi patogen utama dari wabah penyakit pernapasan yang muncul. Mereka adalah keluarga besar virus RNA untai tunggal (+ ssRNA) yang dapat diisolasi pada spesies hewan yang berbeda.

Untuk alasan yang belum dijelaskan, virus ini dapat melintasi batas spesies dan dapat menyebabkan, pada manusia, penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yangl ebih parah seperti MERS dan SARS. Yang menarik, virus yang terakhir ini kemungkinan berasal dari kelelawar dan kemudian pindah ke inang mamalia lain – musang palem Himalaya untuk SARS-CoV, dan unta dromedaris untuk MERS-CoV- sebelum melompat ke manusia. Dinamika SARSCov-2 saat ini tidak diketahui, tetapi ada spekulasi bahwa ia juga memiliki asal hewan

Dari laporan setiap negara maka Amerika Serikat menduduki posisi tertinggi dengan kasus terbanyak yakni 104.205 pasien dan total angka kematian 1.701 jiwa pasien serta 2.525 pasien dinyatakan sembuh. Kemudian negara Italia dengan 86.498 kasus dan 9.134 pasien meninggal serta 10.950 pasien dinyatakan sembuh. Yang ketiga adalah RRC dengan total kasus 81.394 pasien dan total kematian mencapai 3.295 pasien serta 74,971 pasien sembuh.

Keempat yaitu negara Spanyol dengan kasus 65.719 pasien meninggal mencapai 5.138 pasien dan dinyatakan sembuh sebanyak 9.357 jiwa. Yang kelima negara Jerman dengan kasus 50,871 jiwa yang meninggal 351 jiwa dan yang sembuh mencapai 6,658 jiwa. Negara yang masuk dalam 10 besar Covid-19 yaitu posisi keenam negara Prancis dengan jumlah kasus 32,964 jumlah yang meninggal 1,995 jiwa total dinyatakan sembuh 5,700 pasien.

Negara ketujuh yaitu Iran dengan jumlah kasus 32,332 dan 2,378 meninggal serta 11,133 pasien dinyatakan sembuh. Negara ke 8 adalah Inggris dengan jumlah kasus 14,543 dan 759 jiwa meninggal serta 135 pasien sembuh. Ke 9 yaitu negara Swiss dengan jumlah 12,928 kasus dan 231 orang meninggal serta 1,530 pasien sembuh. Ke 10 adalah Korea Selatan dengan jumlah kasus 9,478 yang meninggal 144 jiwa dan 4,528 pasien dinyatakan sembuh. (sumber: serambinews.com)

Bahwa kasus COVID-19 berada 199 Negara dan disemua benua yang ada di dunia selain Asia, Amerika, Eropa, Australia juga masuk menjadi negara yang ke 18 Kasus coronavirus dengan 3,573 Kasus, meninggal mencapai 14 jiwa dan dinyatakan sembuh 170 pasien. Sedangkan kasus di benua Afrika adalah negara Afrika Selatan berada pada urutan ke 33 dengan jumlah kasus 1,170, meninggal 1 jiwa dan dinyatakan sembuh 31 Pasien.

Tokoh Dunia

Jadi semua negara di bumi ini bisa menjadi suspect bahkan setiap orang. Tanpa kecuali pejabat negara seperti Wakil Presiden Iran urusan wanita dan keluarga, Masoumeh Ebtekar. Ia dinyatakan positif mengidap virus corona pada akhir Februari 2020. Ebtekar merupakan salah satu di antara ratusan orang yang terinfeksi virus corona di Iran.

Diketahui, ketika Ebtekar didiagnosis terinfeksi virus corona, Iran tengah mengalami kondisi penyebaran yang meluas, bahkan dengan jumlah kasus kematian telah melebihi China. Pada 9 Maret 2020, Kepala Staf Angkatan Darat Italia, Salvatore Farina juga dinyatakan positif virus corona.  Farina mengungkapkan, dirinya melakukan isolasi mandiri setelah merasa tidak enak badan dan usai dites, hasil ternyata positif mengidap virus corona.

Salah satu anggota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles dilaporkan positif terinfeksi virus corona.  Kemudian, Putra Mahkota bergelar Prince of Wales ini mengarantina diri di Skotlandia. Meski begitu, belum diketahui asal muasal Charles terpapar virus corona Sebab, baru-baru ini ia menghadiri sejumlah acara publik, antara lain acara jamuan makan malam di Mansion House pada 12 Maret 2020, pertemuan WaterAid pada 10 Maret 2020, dan lainnya.

Adapun pengujian atau tes terhadap Charles dilakukan oleh National Health Service (NHS) setelah ia mengalami gejala ringan. Begitu juga Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson dinyatakan terinfeksi virus corona. Awalnya, Boris mengaku mengalami gejala ringan, seperti demam, dan batuk yang tidak frekuentif selama 24 jam. Terkait hal itu, Otoritas Kesehatan Inggris meminta Boris untuk menjalani uji virus corona dan hasilnya positif. Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengungkapkan dirinya terinfeksi virus corona.

Sejak penyebarannya di indonesia hingga pada tanggal 28 Maret 2020, masuk dalam urutan ke 36, pemerintah telah mengumumkan sejumlah 1,155 kasus terinfeksi Covid-19. Dari jumlah tersebut 102 pasien diantaranya meninggal dan 59 orang pasien dinyatakan sembuh (sumber achmad yurianto di gedung BNPB).

Tidak terlepas bahwa pejabat di indonesia juga suspect corona virus sebagaimana yang terjadi pada Pejabat publik pertama yang terekspose media positif terinfeksi covid-19 adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang diumumkan positif Covid-19 beberapa waktu silam. Setelah Menteri Perhubungan, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Zulfikri, dikonfirmasi positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Sejumlah pejabat di provinsi Jawa Barat juga terinfeksi virus corona. Sebelum kepala daerah Kabupaten Karawang Bupati Cellica Nurrachadiana dan wakil walikota Kota Bandung Yana Mulyana, Wali Kota Bogor Bima Arya telah terlebih dahulu positif terjangkit Covid-19. (sumber: CNBC Indonesia.com)

Perlu dipahami Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Penyakit ini terutama menyebar di antara orang- orang melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin. Virus ini dapat tetap bertahan hingga tiga hari dengan plastik dan stainless steel SARS CoV-2 dapat bertahan hingga tiga hari, atau dalam aerosol selama tiga jam. Virus ini juga telah ditemukan di feses, tetapi hingga Maret 2020 tidak diketahui apakah penularan melalui feses mungkin, dan risikonya diperkirakan rendah.

Corona virus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan China, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS- COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19). COVID-19 termasuk dalam genus dengan flor elliptic dan sering berbentuk pleomorfik, dan berdiameter 60- 140 nm.

Virus ini secara genetik sangat berbeda dari virus SARS-CoV dan MERS-CoV. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa homologi antara COVID-19 dan memiliki karakteristik DNA coronavirus pada kelelawar-SARS yaitu dengan kemiripan lebih dari 85%. Ketika dikultur pada vitro, COVID-19 dapat ditemukan dalam sel epitel pernapasan manusia setelah 96 jam. Sementara itu untuk mengisolasi dan mengkultur vero E6 dan Huh-7 garis sel dibutuhkan waktu sekitar 6 hari.

Paru-paru adalah organ yang paling terpengaruh oleh COVID-19, karena virus mengakses sel inang melalui enzim ACE2, yang paling melimpah di sel alveolar tipe II paru-paru. Virus ini menggunakan glikoprotein permukaan khusus, yang disebut “spike”, untuk terhubung ke ACE2 dan memasuki sel inang.

Kepadatan ACE2 di setiap jaringan berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit di jaringan itu dan beberapa ahli berpedapat bahwa penurunan aktivitas ACE2 mungkin bersifat protektif. Dan seiring perkembangan penyakit alveolar, kegagalan pernapasan mungkin terjadi dan kematian mungkin terjadi

Karakteristik Epidemilogi

  1. Orang dalam pemantauan (ODP) Seseorang yang mengalami gejala demam (≥38°C) atau memiliki riwayat demam atau ISPA tanpa pneumonia. Selain itu seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala juga dikategorikan sebagai dalam pemantauan.
  2. Pasien dalam pengawasan (PDP) Seseorang yang mengalami memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala-gejala COVID-19 dan seseorang yang mengalami gejala- gejala, antara lain: demam (>38°C); batuk, pilek, dan radang tenggorokan, pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan/atau gambaran radiologis; serta pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas. Atau Seseorang dengan demam>38°C atau ada riwayat demam ATAU ISPA ringan sampai berat DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki salah satu dari paparan berikut: Riwayat kontak dengan kasus konfirmasi COVID-19, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi COVID-19, memiliki riwayat perjalanan ke Provinsi Hubei, memiliki sejarah kontak dengan orang yang memiliki riwayat perjalanan pada 14 hari terakhir ke Provinsi Hubei.
  3. Mekanisme penularan COVID-19 paling utama ditransmisikan oleh tetesan aerosol penderita dan melalui kontak langsung. Aerosol kemungkinan ditransmisikan ketika orang memiliki kontak langsung dengan penderita dalam jangka waktu yang terlalu lama. Konsentrasi aerosol di ruang yang relatif tertutup akan semakin tinggi sehingga penularan akan semakin mudah.
  4. Karakteristik klinis Berdasarkan penyelidikan epidemiologi saat ini, masa inkubasi COVID-19 berkisar antara 1 hingga 14 hari, dan umumnya akan terjadi dalam 3 hingga 7 hari. Demam, kelelahan dan batuk kering dianggap sebagai manifestasi klinis utama. Gejala seperti hidung tersumbat, pilek, pharyngalgia, mialgia dan diare relatif jarang terjadi pada kasus yang parah, dispnea dan / atau hipoksemia biasanya terjadi setelah satu minggu setelah onset penyakit, dan yang lebih buruk dapat dengan cepat berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik sulit untuk dikoreksi dan disfungsi perdarahan dan batuk serta kegagalan banyak organ, dll. Pasien dengan penyakit parah atau kritis mungkin mengalami demam sedang hingga rendah, atau tidak ada demam sama sekali. Kasus ringan hanya hadir dengan sedikit demam, kelelahan ringan dan sebagainya tanpa manifestasi pneumonia

Dari kasus yang ditangani saat ini, sebagian besar pasien memiliki prognosis yang baik. Orang tua dan orang-orang dengan penyakit kronis yang mendasari biasanya memiliki prognosis buruk sedangkan kasus dengan gejala yang relatif ringan sering terjadi pada anak-anak.

Studi kasus Li et al. diterbitkan dalam New England Journal of Medicine (NEJM) pada 29 Januari 2020, merangkum 425 kasus pertama yang dicatat di Wuhan. Data menunjukkan bahwa usia rata-rata pasien adalah 59 tahun, dengan kisaran 15 hingga 89 tahun. Dengan demikian, mereka melaporkan tidak ada kasus klinis pada anak di bawah 15 tahun. Tidak ada perbedaan gender yang signifikan (56% pria).

Epidemiologis

Data klinis dan epidemiologis dari CDC China dan mengenai 72.314 catatan kasus (dikonfirmasi, dicurigai, didiagnosis, dan kasus tanpa gejala) dibagikan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) (24 Februari 2020), memberikan ilustrasi penting tentang kurva epidemiologi dari wabah China.

Ada 62% kasus yang dikonfirmasi, termasuk 1% dari kasus yang tidak menunjukkan gejala, tetapi positif laboratorium (tes asam nukleat virus). Selanjutnya, tingkat fatalitas kasus secara keseluruhan (pada kasus yang dikonfirmasi) adalah 2,3%. Dari catatan, kasus-kasus fatal terutama adalah pasien usia lanjut, khususnya mereka yang berusia ≥ 80 tahun (sekitar 15%), dan 70 hingga 79 tahun (8,0%).

Sekitar setengah (49,0%) dari pasien kritis dan terkena komorbiditas yang sudah ada sebelumnya seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan penyakit onkologi, meninggal. Sementara 1% pasien berusia 9 tahun atau  lebih muda, tidak ada kasus fatal yang terjadi pada kelompok ini.

Staf medis di semua level dan semua tipe institusi medis harus segera mengisolasi dan menangani setiap kasus terduga yang memenuhi definisi, di sebuah ruangan terpisah (single room). Setelah dilakukan konsultasi dengan in-hospital expert maupun dokter tamu, orang yang masih dianggap sebagai kasus terduga perlu melapor secara daring dalam dua jam.

Harus dilakukan pengambilan spesimen dan tes asam nukleat nCoV-2019. Pasien suspek (suspected patients) harus dipindahkan ke rumah sakit rujukan secepatnya. Orang yang kontak dekat dengan pasien COVID-19 atau bahkan mereka dengan hasil positif untuk tes patogen pernapasan umum, dianjurkan untuk nantinya melakukan deteksi patogenik nCoV- 2019.

Perawatan terduga COVID-19

  1. Terapi umum Dalam kondisi umum, istirahatkan pasien di tempat tidur, tingkatkan terapi suportif, dan pastikan nutrisi yang cukup. Jaga keseimbangan air dan elektrolit untuk memelihara stabilitas kondisi internal. Hal yang paling penting awasi dengan cermat tanda vital, saturasi oksigen, dan sebagainya.
  2. Lokasi yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakit Kasus terduga dan terkonfirmasi harus diisolasi dan ditangani di rumah sakit rujukan dengan kondisi isolasi yang efektif dan yang protektif. Kasus harus ditangani di ruangan terpisah, sedangkan kasus terkonfirmasi dapat diterima dalam satu bangsal (ward) yang sama. Sedangkan untuk kasus-kasus kritis harus segera dirujuk ke ICU.
  3. Terapi pengobatan tradisional Dalam konteks China, Pemerintah China menggunakan pendekatan pengobatan tradisional China. Beberapa daerah masih menganggap penyakit ini disebabkan oleh faktor patogen epidemi yang terletak di paru. Daerah yang berbeda dapat merujuk pada skema berikut untuk perawatan dialektik sesuai dengan kondisi penyakit, karakteristik iklim lokal, dan kondisi fisik yang berbeda. Beberapa resep yang dipakai, antara lain:
  • Rekomendasi Pengobatan China: Butiran Jinhua Qinggan, Kapsul Lianhua, Qingwen (butiran), Kapsul Shufeng Jiedu(butiran).
  • Sup untuk Pembersihan dan Detoksifikasi Paru: cocok untuk kasus ringan, kasus yang parah dan umum; kasus kritis yang masuk akal untuk diterapi sesuai dengan gejala klinis.
  • Penggunaan injeksi obat tradisional China harus mengikuti prinsip dimulai dengan dosis rendah, dimodifikasi secara bertahap dan dialektik sesuai dengan instruksi obat.

Dalam konteks tradisional Indonesia, pengobatan tradisional diarahkan untuk penguatan daya tahan tubuh. Menurut Bruce Beutler dan Jules Hoffmann, tubuh manusia dan hewan memiliki mekanisme unik untuk menangkal berbagai patogen berbahaya seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit.

Mekanisme “penjaga gerbang” dari sistem kekebalan tubuh. Respons imun punya fase bawaan dan adaptif untuk menangkal patogen. Seperti dilansir dari laman nature, patogen menginvasi tubuh lewat luka terbuka atau mukosa. Karenanya untuk mencegah penularan COVID-19, kita diminta rajin mencuci tangan dan menghindari memegang wajah.

Sudah sejak lama ramuan jahe dipercaya memiliki kemampuan untuk meredakan berbagai macam gejala penyakit seperti pilek, mual, radang sendi, migrain, dan hipertensi. Fakta ini tercantum dalam edisi kedua Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects. Herbal yang lazim dikonsumsi dengan madu ini menawarkan senyawa anti-inflamasi termasuk antioksidan zat yang melindungi tubuh dari kerusakan oleh radikal bebas.

Studi oleh Sepide Mahluji, dkk (2013) menyimpulkan bahwa suplemen jahe yang dikonsumsi oral berhasil mengurangi peradangan pada pasien diabetes tipe 2. Suplemen jahe juga dapat mengurangi gangguan pencernaan, kembung, dan kram usus.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) Hardhi Pranat menyebut tanaman herbal lain, yakni kunyit mengandung zat kurkumin yang bekerja meningkatkan daya tahan tubuh. Manfaat serupa diberikan oleh zat polifenol dalam jahe. Kunyit juga memiliki zat anti kataral yang dapat memperbanyak produksi lendir.

Proses pemulangan pasien

Pasien yang memenuhi standar yang disebutkan di atas dapat dilepaskan dari isolasi dan dipulangkan dengan memenuhi kriteria, antara lain:

  • Suhu tubuh normal selama 3 (tiga) hari berturut-turut;
  • Perbaikan gejala gangguan pernapasan yang signifikan;
  • Rontgen paru menunjukkan absorbsi dan perbaikan lesi eksudatif akut yang nyata; • Hasil negatif dari tes asam nukleat patogen pernapasan selama dua kali berturut turut.

Catatan penting setelah pemulangan:

  • Rumah sakit rujukan harus meningkatkan komunikasi dengan layanan kesehatan primer (basic medical institution) di tempat tinggal pasien;
  • Kasus pasien yang boleh pulang dianjurkan untuk memonitor kesehatannya secara kontinyu selama 14 hari, memakai masker wajah, tinggal di kamar tunggal berventilasi, mengurangi frekuensi kontak dekat dengan anggota keluarga, makan sendirian, menjaga kebersihan tangan dan menghindari kegiatan di luar ruangan karena status imunitas yang menurun dan berisiko terinfeksi patogenlain;
  • Dianjurkan untuk kontrol pada minggu kedua dan keempat setelah dipulangkan.

Berdasarkan bukti yang tersedia, COVID-19 ditularkan melalui kontak dekat dan droplet, bukan melalui transmisi udara. Orang-orang yang paling berisiko terinfeksi adalah mereka yang berhubungan dekat dengan pasien COVID-19 atau yang merawat pasien COVID-19. Tindakan pencegahan dan mitigasi merupakan kunci penerapan di pelayanan kesehatan dan masyarakat.

Saat ini, diyakini bahwa penularan melalui tetesan pernapasan dan kontak langsung adalah rute utama, tetapi ada risiko penularan fecaloral. Penularan aerosol, penularan dari ibu ke anak dan rute lainnya belum dikonfirmasi.

  • Transmisi tetesan pernapasan: Ini adalah mode utama transmisi kontak langsung. Virus ditularkan melalui tetesan yang dihasilkan ketika pasien batuk, bersin atau berbicara, dan orang yang rentan dapat terinfeksi setelah menghirup tetesan.
  • Penularan kontak tidak langsung: Virus dapat ditularkan melalui kontak tidak langsung dengan orang yang terinfeksi. Tetesan yang mengandung virus disimpan di permukaan objek, yang dapat disentuh oleh tangan. Virus dari tangan yang terkontaminasi dapat ditularkan ke mukosa (atau mukosa) rongga mulut, hidung dan mata orang tersebut dan menyebabkan infeksi.
  • Coronavirus novel hidup telah terdeteksi dari tinja pasien yang dikonfirmasi, menunjukkan kemungkinan penularan tinja-oral.

Tutup kontak merujuk pada orang yang memiliki kontak dengan pasien yang dikonfirmasi atau dicurigai terinfeksi COVID-19, termasuk situasi berikut.

  • Mereka yang tinggal, belajar, bekerja atau memiliki bentuk lain dari kontak dekat dengan pasien.
  • Tenaga medis, anggota keluarga atau orang lain yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien tanpa mengambil tindakan perlindungan yang efektif selama diagnosa, perawatan, perawatan dan kunjungan.
  • Pasien lain dan orang-orang yang menyertainya berbagi bangsal yang sama dengan pasien yang terinfeksi.
  • Mereka yang berbagi transportasi atau lift yang sama dengan pasien.
  • Mereka yang dianggap demikian melalui investigasi di tempat

Pencegahan

Cara menghindari COVID 2019-nCoV terutama yang ditularkan oleh tetesan dan kontak, oleh karena itu masker bedah medis harus dipakai dengan benar. Saat bersin atau batuk, jangan menutupi hidung dan mulut dengan tangan kosong tetapi gunakan tisu atau masker sebagai gantinya.

Cuci tangan dengan benar dan sering. Sekalipun ada virus di tangan, mencuci tangan bisa menghalangi virus memasuki saluran pernapasan melalui hidung atau mulut. Tingkatkan kekebalan Anda, dan hindari pergi ke tempat yang ramai dan tertutup. Berolahraga lebih banyak dan punya jadwal tidur yang teratur.

Meningkatkan kekebalan Anda adalah cara paling penting untuk menghindari infeksi. Pastikan untuk selalu memakai masker! Untuk berjaga-jaga jika Anda melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, mengenakan masker dapat mencegah Anda menghirup tetesan pembawa virus secara langsung.

Langkah-langkah pencegahan yang paling efektif di masyarakat meliputi:

  • melakukan kebersihan tangan menggunakan hand sanitizer jika tangan tidak terlihat kotor atau cuci tangan dengan sabun jika tangan terlihat kotor;
  • menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut;
  • terapkan etika batuk atau bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan lengan atas bagian dalam atau tisu, lalu buanglah tisu ke tempat sampah;
  • pakailah masker medis jika memiliki gejala pernapasan dan melakukan kebersihan tangan setelah membuang masker;
  • menjaga jarak (minimal 1 m) dari orang yang mengalami gejala gangguan pernapasan.

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Berkaitan dengan Pelayanan Kesehatan  Strategi-strategi PPI untuk mencegah atau membatasi penularan di tempat layanan kesehatan melalui langkah-langkah pencegahan standar untuk semua pasien Kewaspadaan standar harus selalu diterapkan di semua fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi semua pasien dan mengurangi risiko infeksi lebih lanjut.

Kewaspadaan standar melalui Kebersihan tangan dan pernapasan; Petugas kesehatan harus menerapkan “5 momen kebersihan tangan”, yaitu: sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur kebersihan atau aseptik, setelah berisiko terpajan cairan tubuh, setelah bersentuhan dengan pasien, dan setelah bersentuhan dengan lingkungan pasien, termasuk permukaan atau barang-barang yang tercemar.

Kebersihan tangan mencakup: Mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol.  Cuci tangan dengan sabun dan air ketika terlihat kotor. Kebersihan tangan juga diperlukan ketika menggunakan dan terutama ketika melepas APD.

Orang dengan gejala sakit saluran pernapasan harus disarankan untuk menerapkan kebersihan/etika batuk. Selain itu mendorong kebersihan pernapasan melalui galakkan kebiasaan cuci tangan untuk pasien dengan gejala pernapasan,  pemberian masker kepada pasien dengan gejala pernapasan, pasien dijauhkan setidaknya 1 meter dari pasien lain,  pertimbangkan penyediaan masker dan tisu untuk pasien di semua area.

Alat Pelidung Diri (APD)

Penggunaan APD sesuai risiko Penggunaan secara rasional dan konsisten APD, kebersihan tangan akan membantu mengurangi penyebaran infeksi. Pada perawatan rutin pasien, penggunaan APD harus berpedoman pada penilaian risiko/antisipasi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi dan kulit yang terluka.

APD yang digunakan merujuk pada Pedoman Teknis Pengendalian Infeksi sesuai dengan kewaspadaan kontak, droplet, dan airborne. Jenis alat pelindung diri (APD) terkait COVID-19 berdasarkan lokasi, petugas dan jenis aktivitas.

Pencegahan luka akibat benda tajam dan jarum suntik dan pengelolaan limbah yang aman Pengelolaan limbah medis sesuai dengan prosedur rutin serta Pembersihan lingkungan, dan sterilisasi linen dan peralatan perawatan pasien. Membersihkan permukaan-permukaan lingkungan dengan air dan deterjen serta memakai desinfektan yang biasa digunakan (seperti hipoklorit 0,5% atau etanol 70%) merupakan prosedur yang efektif dan memadai.

Penggunaan Masker Penggunaan masker adalah efektif! Karena tujuan memakai masker adalah untuk memblokir ‘pembawa’ yang mentransmisikan virus, daripada secara langsung memblokir virus. Mengenakan masker dengan benar dapat secara efektif memblokir tetesan pernapasan dan karenanya mencegah virus masuk langsung ke dalam tubuh. Perlu diingatkan bahwa tidak perlu memakai respirator KN95 atau N95. Masker bedah biasa dapat menghalangi sebagian besar virus yang membawa tetesan memasuki saluran pernapasan.

Kita perlu cara mencegah infeksi pada 2019-nCoV selama perjalanan agar tetap sehat maka pastikan kondisi cuaca ditempat tujuan Anda, dan bawalah pakaian secukupnya agar tetap hangat. Kenakan topeng saat bepergian dengan bus, kereta api atau pesawat, dan minum air yang cukup.

Langkah Ansipatif

Pertahankan jadwal istirahat teratur selama perjalanan, makan diet seimbang dan berolah raga untuk ketahanan kekebalan tubuh. Hindari tinggal lama di tempat-tempat ramai dan memakai topeng. Gunakan barang-barang sekali pakai untuk menghindari infeksi silang kompilasi menerima tamu atau pergi ke tempat-tempat umum. Misalnya, siapkan sandal sekali pakai kompilasi ada tamu di rumah; gunakan gelas sekali pakai; bawa handuk sendiri saat pergi ke kamar mandi umum, dan lain-lain.

Menghindari kontak dengan hewan, kucing dan anjing. Makan daging yang dimasak dengan matang. Mencari bantuan medis segera jika Anda memiliki penyakit, dan jangan bepergian jika Anda sakit.

Beberapa langkah yang dapat diambil dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19 adalah sebagai berikut:

  1. Membentuk Satgas Siaga Covid-19 di setiap Gampong Untuk :
  2. mengedukasi warga tentang Covid-19
  3. menggerakkan partisipasi warga untuk siaga Covid-19
  4. membuat sistim Keamanan warga
  5. membuat sistem informasi Keamanan warga
  6. mengecekan kesehatan warga
  7. mengambil tindakan cepat tepat dan tuntas jika ada warga yang terduga (suspect) COVID-19
  8. Sosialisasi hidup bersih dan sehat
  9. rajin cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer
  10. mandi 2 kali sehari
  11. makan teratur dan bergizi
  12. makan buah dan sayur
  13. minum air yang cukup
  14. rajin olahraga
  15. kurangi bersentuhan tangan dengan orang lain
  16. istirahat yang cukup
  17. hindari menyentuh hidung, mata dan mulut
  18. tidak keluar rumah kecuali mendesak
  19. Sterilisasi fasilitas umum dan fasilitas sosial
  20. penyemprotan disinfektan di beberapa fasilitas yang terdapat di wilayah kampung, antara lain kantor desa, posyandu, sekolah, jembatan, taman, lapangan dan area publik lainnya.
  21. membersihkan fasilitas umum dan fasilitas sosial secara berkala.
  22. menutup sementara area publik untuk menghindari berkumpulnya warga.
  23. menghimbau warga untuk tidak melakukan aktifitas yang melibatkan banyak orang, seperti arisan, festival, perlombaan dan lain-lain.
  24. penyediaan hand sanitizer di sekolah dan tempat ibadah.
  25. Mengaktifkan sistem keamanan warga
  26. wajib lapor 1×24 jam bagi tamu (bukan warga tetap)
  27. cek kesehatan setiap tamu yang datang
  28. himbau warga untuk sementara tidak menerima tamu
  29. himbau warga untuk menggunakan alat makan dari rumah jika membeli makanan dari pedagang keliling
  30. himbau para pedagang makanan keliling untuk menggunakan masker dan sarung tangan saat melayani pelanggan
  31. bentuk satuan keamanan untuk menjaga kemungkinan terburuk akibat COVID-19.
  32. koordinasi dengan pihak keamanan setempat, Kepolisian dan Babinsa
  33. Membuat sistem informasi kesehatan warga
  34. melakukan pengecekan kesehatan seluruh warga
  35. menghimbau warga untuk melapor jika ada keluarga yang sakit
  36. pantau setiap warga yang dilaporkan sakit
  37. minimalisir interaksidengan warga yang sakit
  38. tetapkan nomor khusus pengaduan orang sakit
  39. bawa segera ke rumah sakit warga yang terduga (suspect) Covid-19
  40. informasikan puskesmas atau klinik terdekat
  41. informasikan nomor darurat kesehatan baik ambulance, dokter dan rumah sakit
  42. informasikan rumah sakit rujukan kasus Covid-19
  43. Mengaktifkan lumbung pangan warga
  44. satu keluarga/rumah menyetor 1 gelas beras (150 gr) satu hari, atau sesuai kemampuan, disetorkan ke sekretariat satgas
  45. boleh mendonasikan bahan makanan lain yang cukup tahan lama
  46. simpan air mineral yang cukup, baik dirumah maupun di sekretariat satgas
  47. seluruh bahan makanan dikelola secara tertib dan teratur oleh satgas sesuai kebutuhan warga
  48. bahan makanan hanya dipakai pada saat situasi darurat f. Satgas wajib membuat laporan data logistik
  49. Mengaktifkan relawan lingkungan/partisipasi sosial
  50. ajak partisipasi warga, terutama kalangan muda untuk menjadi relawan di lingkungan sendiri
  51. mulai dari memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga terkait COVID-19, membuat hand sanitizer sendiri hingga menjaga keamanan kampung jika terjadi situasi darurat
  52. saling membantu warga yang mendapat yang mendapat kesulitas, terutama terkait COVID-19
  53. Mengaktifkan WA Group untuk mendapatkan informasi – informasi yang menjadi kebutuhan selama masa pendemik COVID-19
  54. Meningkatkan ibadah dan berdoa kepada Allah SWT agar setiap waktu mendapat perlindungan-NYA terhindar dari mara bahaya, bencana dan musibah serta bersabar bila mendapatkan cobaan.

Institusi-institusi kesehatan pada semua tingkatan dan tipe harus bertanggung-jawab untuk deteksi kasus, pelaporan, isolasi, diagnosis, perawatan dan manajemen klinis, serta pengumpulan spesimen. Melatih staf medis untuk mencegah dan mengendalikan infeksi nosokomial juga merupakan bagian dari tanggung jawab setiap institusi kesehatan.

Setiap orang harus mengikuti petunjuk, pedoman, panduan, protokol dan peraturan yang dibuat pemerintah tentang kesehatan, keamanan dan keselamatan dari dampak pendemik COVID-19 berupa:

  1. Panduan bagi masyarakat di Rumah, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan tempat ibadah (Gampong Siaga).
  2. Panduan bagi orang dengan pengawasan (ODP) yang melakukan isolasi diri (protokol karantina mandiri).
  3. Panduan bagi keluarga pasien dengan pemantauan (PDP) dalam proses pengobatan. (Protokol Penanganan Pasien Positiv Covid-19).
  4. Panduan fardu kifayah bagi yang meninggal positif COVID-19 dan keluarga yang ditinggalkan. (protokol Penanganan Pasien Meninggal).
  5. Panduan pengelolaan tempat usaha atau pasar (Protokol perdagangan pasar rakyat dan layanan penjual).
  6. Panduan bagi Anak-anak, pelajar dan lansia serta perawat (Protokol pencegahan dan kontrol terhadap populasi tertentu).
  7. Panduan pada tempat pusat keramaian, Transportasi umum, tempat kerja, sekolah dan Taman kanak-kanak (Protokol pencegahan dan kontrol terhadap populasi tertentu).
  8. Ketentuan dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Gampong.

Semoga bencana, musibah, cobaan apapun namanya yang datang atas ketentuan dari Allah SWT, ini segera berakhir dari muka bumi dan kepada kita sebagai hambanya dapat menerima dengan penuh kesabaran. Semoga semua kita mendapat ampunan dan pahala yang besar dari Allah SWT. Amiiin. (**)

 

 

 

Pos terkait