Data Terbaru Situasi Terkini dan Temuan Patahan Baru Pasca Gempa Pasbar

Foto Dokumentasi

Barometernews.id | Pasbar, – Data terbaru situasi terkini dan temuan patahan baru Pasca Gempa Pasbar, yang terjadi pada Jumat (25/02) lalu yang berkekuatan M6,2, dan menyebabkan tewasnya 11 jiwa, serta puluhan orang terluka, termasuk sekitar 10.000 warga mengungsi, belum lagi kerugian materi dengan ribuan rumah yang rusak baik berat, sedang maupun ringan, kini menyisakan duka yang mendalam.

Foto Dokumentasi

Usai gempa berkekuatan 6,1 yang mengguncang Pasaman Barat pada sisi lain disebutkan hingga saat ini sudah lebih dari 161 kali terjadi gempa susulan.

Bacaan Lainnya

Korban meninggal dunia akibat musibah gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) dan Pasaman pada Jumat (25/02) terus bertambah, berdasarkan informasi hingga Rabu (02/03) siang, jumlah korban meninggal dalam peristiwa di dua wilayah tersebut telah berjumlah 11 orang,  dan pada umumnya masih didominasi oleh perempuan.

Menurut Kepala Pusat Seismologi BMKG Rahmat Triyono mengatakan kekuatan gempa susulan terus melemah dan yang terasa hanya enam kali.

Pada hari ke-tiga pasca gempa, Ia juga sudah menyampaikan rekomendasi, menurutnya persoalan gempa tidak terlalu mengkhawatirkan lagi karena potensinya semakin menurun.

Fakta baru sumber gempa Pasaman Barat

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan temuan patahan baru berdasarkan penelitian yang dilakukan usai gempa yang terjadi di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Rahmat Triyono juga mengungkap, temuan patahan baru berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasaman Barat.

“Awalnya kami mengira pusat gempa berasal dari patahan yang terdekat di lokasi gempa yaitu patahan Angkola dan Sianok, setelah diteliti lebih lanjut ternyata itu berasal dari segmen baru,” Kata dia.

Menurutnya patahan baru tersebut mekanisme- nya sesar mendatar dan mengalami pergeseran ke kanan. “Untuk sementara segmen ini diberi nama Talamau,” Terangnya.

Lebih jauh Rahmat memaparkan segmen Talamau memiliki potensi gempa hingga 6,2 magnitudo karena tidak terlalu panjang dibandingkan segmen lain.

Ia menduga segmen ini tersambung dengan Sianok akan tetapi untuk itu masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Sementara menurut Kepala Kantor SAR Kelas A Padang, Asnedi, hingga hari ini, Rabu (02/03) Jumlah korban  yang meninggal atau hilang berdasarkan laporan yang diperoleh berjumlah 15 orang dan empat orang lagi masih dalam pencarian.

Kepala Seksi (Kasi Ops) Operasi Kantor SAR Kelas A Padang, Octavianto menambahkan, para korban meninggal dunia tersebut tersebar di Nagari Kajai, Kabupaten Pasaman Barat dan Nagari Malampah, Kabupaten Pasaman Sumatera Barat.

“Korban meninggal yang telah terdata, sejauh ini berjumlah 11 orang dan tersebar di dua wilayah yakni Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasbar,” Ujarnya.

Berikut daftar nama 11 korban meninggal dunia, sementara 4 orang lagi masih dilakukan pencarian oleh petugas gabungan, baik di Pasbar maupun di Pasaman :

  1. Fitri, umur 4 tahun, asal Malampah (Pasaman)
  2. Susi Susanti, 26 tahun, asal Air Apung (Pasaman)
  3. Amaik, 17 tahun, asal Air Apung (Pasaman)
  4. Nian, 74 tahun, asal Simpang Tigo Alai
  5. Nuraya, 75 tahun, asal Air Apung Simpang Rayo
  6. Rodi, 32 tahun, asal Kampung Pisang Malampah (Pasaman)
  7. Suar, 56 tahun, warga Guguang Siparayo, Malampah, (Pasaman)
  8. Dewi, 23 tahun, asal Simpang Timbo Abu (Pasbar)
  9. Habil, 1,5 tahun, asal Simpang Timbo Abu (Pasbar)
  10. Neng Erawati, 47 tahun, asal Jorong Pasa Lamo, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau (Pasbar)
  11. Anis, 70 tahun, asal Jorong Pasa Lamo, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau (Pasbar)

Sementara korban yang masih dicari yakni, Safar, 49 tahun, Manir, 50 tahun, Sendri, 32 tahun dan Upiak Madan, 27 tahun.

Hingga berita ini dirampungkan, petugas pencarian gabungan yang dipimpin oleh Kantor SAR Kelas A Padang masih mencari korban hilang.

Foto Dokumentasi

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati Selasa (01/02) saat memaparkan perkembangan pascagempa 6,1 Pasaman Barat di ruangan VIP Bandara Internasional Minangkabau Padang Pariaman, meminta Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat agar melakukan  penyesuaian tata ruang sebagai bagian dari mitigasi setelah ditemukannya sesar baru gempa di daerah itu.

“Dengan adanya temuan patahan baru yang selama ini tidak teridentifikasi, perlu dilakukan penyesuaian tata ruang untuk kebutuhan mitigasi ke depan,” Terang Dwikorita Karnawati di Padang Pariaman.

Menurutnya setelah BMKG melakukan penelitian terungkap adanya patahan baru, sehingga perlu dilakukan penyesuaian tata ruang karena sebelumnya di wilayah itu dipandang aman.

“Namun ternyata telah ditemukan patahan Talamau di Pasaman Barat, berdasarkan hasil pemetaan baru perlu diwaspadai karena daerah tersebut masuk zona merah,” Terangnya.

Artinya daerah itu berpotensi mengalami guncangan dengan tingkat intensitas yang cukup kuat hingga 8 MMI yang dapat merobohkan rumah.

“Oleh sebab itu penting menyiapkan bangunan yang aman gempa dan menyesuaikan tata ruang di zona tersebut,” Terangnya lagi.

Ia menilai konstruksi pascagempa perlu menjadi perhatian di daerah itu dan menjadi poin penting bagi pemerintah setempat. [Zoelnasti]

Pos terkait