Dilema Pengelola Dana Ummat

Foto Ilustrasi

Oleh: Misno bin Mohd Djahri

Berita kontroversial yang pekan ini muncul adalah indikasi “penyelewengan” dana oleh salah satu lembaga pengelola dana kemanusiaan berbasis Islam (A*T). Isu ini semakin menarik karena dimuat menjadi headline majalah T**po yang memiliki riwayat panjang dalam dunia jurnalistik. Peletakan berita menjadi headline tentu saja memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu berita utama yang menjadi pokok pembahasan. Apabila ditela’ah berita ini memiliki banyak interpretasi, dari mulai trackrecord majalah yang kurang baik dengan umat Islam, isu panas Holywings yang belum selesai hingga isu sara yang selalu muncul saat ini khususnya di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Lepas dari niat dari majalah tersebut serta isu sara yang ada di Indonesia maka sejatinya pengelolaan dana umat khususnya bidang zakat, infaq, shadaqah dan wakaf memang bisa memunculkan dilema bagi para pengelolanya. Tentu saja dilemma yang dimaksud adalah ketika amanah dan professional dalam mengelola mulai tergoda dengan hawa dan kepentingan dunia lainnya. Banyaknya dana yang diberikan oleh donatur terkadang membuat pengelola mulai tergoda dengan berbagai kepentingan dunia. Sebaliknya ada juga yang karena dananya terbatas akhirnya juga terpeleset pada “kurang” amanahnya dalam mengelola dana.

Hasil penelitian yang saya lakukan pada beberapa lembaga ZISWAF menunjukan bahwa biaya operasional mereka sangat tinggi, bahkan mencapai 30-40 persen dari jumlah dana yang diterima. Apalagi jika untuk menggaji karyawan dan seluruh pengelola yang terlibat. Melalui wawancara dengan salah satu pengelola ZISWAF di B**or menunjukan bahwa biaya operasional bahkan mencapai 60 persen. Biaya operasional digunakan untuk menggaji karyawan, ini yang biasanya diambil hanya dari jatah amil (pengelola) harus ditambah dengan asnaf fii sabilillah dan gharimin. Karena apabila mengandalkan jatah asnaf amil maka sangat kecil sekali dan tidak mencukupi. Hingga akhirnya biaya operasional membengkak, padahal dana yang dikumpulkan tidak mencapai target. Ini dilemma yang dihadapi oleh para pengelola yang tidak mencapai target pengumpulan dana, efeknya adalah jumlah yang sampai kepada para mustahiq atau mereka yang berhak tidak sesuai bahkan jauh dari dana yang didonasikan oleh para donatur.

Dilemma lainnya adalah ketika dana terkumpul cukup banyak sehingga adanya surplus dalam pengelolaannya. Maka dalam hal ini biasanya, syaithan dan hawa nafsu manusia akan menggoda para pengelola dengan berbagai godaan. Dari mulai menaikan biaya operasional, pembuatan program yang tidak secara langsung bermanfaat bagi penerima donasi hingga “pendapatan sampingan” yang diperoleh dari para donaturnya. Termasuk di dalamnya menerima hadiah dari para donatur dengan berbagai kepentingannya.

Mengenai hal ini telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda,

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

“Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, ”Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali).

Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” HR. Ahmad.

Merujuk pada Riwayat tersebut maka hendaknya para pengelola dana ummat berhati-hati dengan berbagai hadiah yang diberikan kepadanya. Apalagi jika sumber dari hadiah itu belum jelas, dalam makna ada indikasi untuk memancing di air yang keruh atau karena kepentingan politik, golongan dan keduniaan lainnya. Jangan sampai hanya karena mengejar target pengumpulan dana ZISWAF kemudian melakukan segala cara yang mengarah kepada hal-hal yang dilarang oleh syariah. Jangan pula kita “menjual” program yang pada ujungnya lebih mementingkan pengelola dan diri kita sendiri. Teruslah belajar tentang agama agar keimanan kita terus meningkat sehingga kita akan terus memiliki sifat amanah dalam mengelola dana ummat.

Jika kita sudah berusaha untuk amanah, namun ada pihak lain yang berusaha untuk mencari-cari kesalahan kita maka anggaplah itu sebagai teguran, hadapi dengan data-data yang memang apa adanya yang tidak bertentangan dengan syariah. Karena kita paham, banyak sekali orang-orang yang tidak suka dengan kita sebagai pengelola dana umat yang memberikan manfaat untuk orng banyak. Maka berlaku istiqamahlah, terus menjalankan amanah, jika ada “anjing menggonggong” maka hadapilah dengan kesabaran dan keimanan. Selama kita benar dalam mengelola, inshaallah Allah Ta’ala akan selalu bersama kita. WAllahu a’lam. 04072022. []

Pos terkait