Gandum Akan Langka dan Adakah Barang Pengganti ?

Fok Dok. DR. Basuki Ranto

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Perang Ukraina-Rusia yang sudah berlangsung beberapa bulan akan berdampak kepada dunia yaitu terkait kepada krisis pangan khususnya untuk gandum, termasuk di Indonesia yang akan berdampak terhadap kelangkaan gandum dan sudah barang tentu akan berpengaruh kepada harga komoditas yang berbahan baku gandum.

Hal ini sudah disadari sebelumnya bahwa krisis pangan akan terjadi ketika perang Ukraina-Rusia terus berlangsung dan tidak segera usai. Mengapa demikian karena Ukraina merupakan produsen terbesar dunia yang menjadi sumber pangan berbagai negara termasuk Indonesia. Karena perang maka terjadi hambatan pasok keseluruh negara tujuan eksport pangan dari Ukraina maupun Rusia.

Menurut berita yang dilansir dari detikcom, saat ini terdapat 180 juta ton gandum yang tidak bisa keluar, sehingga akan terjadi kelangkaan gandum. Hal senada juga pernah disampaikan Menteri Keuangan beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa tensi geopolitik Rusia dengan Ukraine yang meninggi juga menjadi sebuah tantangan karena mengakibatkan gejolak harga didunia yang akan terkait pula dengan akan timbul krisis pangan dan energi.

Hal tersebut tak dapat dihindari mengingat Rusia sebagai penghasil energi terbesar didunia. Sementara Ukraina sebagai penghasil pangan terbesar dunia termasuk juga penghasil pupuk. Hal ini yang akan menjadi tantangan Indonesia karena untuk energi dan pangan masih membutuhkan dari dua negara tersebut.

Dua hal ini pula yang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo ketika melakukan kunjungan ke Rusia dan Ukraina sebagai negara produsen energi dan pangan serta pupuk dunia untuk tetap terjamin supplainya ke Indonesia dan menghimbau agar perang segera diakhiri karena dampaknya kepada dunia.

Hal ini akan mengakibatkan harga mi instan akan naik hingga tiga kali lipat. Kabar kenaikan ini secara langsung disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Selanjutnya dikatakan bahwa kenaikan harga bisa saja terjadi karena bahan baku mi instan (gandum) sangat bergantung pada impor. Sebab sebagai mana diketahui, saat ini Rusia dan Ukraina merupakan negara penghasil gandum terbesar dunia.

Kedua negara tersebut menyuplai sekitar 30-40% dari kebutuhan gandum dunia. Dengan situasi perang saat ini, gandum menjadi langka karena pasokan terhambat. Secara ekonomi terkait dengan penawaran dan permintaan maka ketika terjadi kelangkaan gandum berarti penawaran sedikit sedangkan permintaan banyak, maka harga akan naik. Lebih lanjut Menteri Pertanian menyampaikan dengan bicara ekstrem aja, ada gandum tapi harganya mahal banget sementara kita impor terus.

Melihat perkembangan situasi seperti ini maka pemerintah perlu mengambil sikap yang bijak dalam menghadapi krisis pangan ini .

Barang Pengganti

Ada sebuah wacana barang substitusi untuk mengganti bahan baku untuk industri makanan berbahan gandum dengan Sorgum yang merupakan hasil pertanian di Indonesia yang secara proses bisa dijadikan barang substitusi gandum dengan memerlukan beberapa telaah lanjutan agar dapat diyakini bisa dijadikan pengganti kelangkaan gandum.

Sorgum adalah tanaman berbentuk biji-bijian sereal yang memiliki manfaat sebagai pakan ternak, bahan dasar energi biodiesel, hingga bahan pangan.

Sorgum sebagai bahan pengganti gandum sudah disampaikan Presiden Jokowi di Kabupaten Subang Timur NTT beberapa waktu yang lalu ketika mengadakan kunjungan kerja ke daerah tersebut bersama masyarakat setempat.
Wacana penanaman sorgum dalam jumlah besar muncul setelah sembilan negara mengumumkan menyetop sementara ekspor gandum di tengah gejolak geopolitik Rusia-Ukraina yang menyebabkan rantai pasok pangan terganggu. Sembilan negara yang menutup keran ekspor adalah Kazakhstan, Kirgizstan, India, Afghanistan, Aljazair, Serbia, dan Ukraina. Sebab kondisi inilah Indonesia akhirnya mencari alternatif pengganti gandum bila stok komoditas itu terus menipis.

Berdasarkan data Statista, Indonesia merupakan negara pengonsumsi gandum peringkat ke-14 dunia pada 2021/2022, yaitu sebanyak 10,4 juta ton. Oleh karenanya ketika gandum akan diganti dengan sorgum yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah lahan yang tersedia dan cocok untuk tanaman, luasan, waktu tanam, musim, kapasitas produksi dan kemampuan mensubstitusi kebutuhan gandum.

Hal lain yang perlu dikaji lebih lanjut adalah bahan gandum yang diganti dengan sorgum tersebut misalnya untuk mi instan apakah setelah menjadi produksi memenuhi dan cocok dengan cita rasa pengkonsumsi mi instan sebelumnya? Hal ini menjadi penting jangan sampai bahan pengganti ini setelah menjadi olahan jadi tidak memenuhi selera dan cita rasa masyarakat Indonesia, karena selama ini gandum merupakan bahan baku untuk makanan orang bule sehingga kesannya berkelas.

Terkait dengan hal tersebut perlu kiranya melakukan sosialisasi secara kolaboratif antara pemerintah dengan dunia usia dalam hal ini produsen makanan berbahan baku gandum untuk mendapatkan berbagai curah pendapat agar sorgum ini bisa disepakati untuk pengganti gandum, meskipun secara phisik sorgum serupa/mirip dengan gandum akan tetapi secara lebih detail diperlukan kebersamaan pemikiran.

Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama: Perang Rusia-Ukraina akan memberikan dampak kepada dunia termasuk Indonesia terutama masalah energi, pangan dan pupuk.

Kedua: Kekhawatiran akan terjadi krisis pangan terutama gandum, karena saat ini terdapat 180 juta ton gandum tidak bisa keluar, sehingga akan memicu terjadinya kelangkaan gandum yang tentu saja akan mengganggu produsen makanan berbahan gandum.

Ketiga: Kalau hal ini terjadi maka secara langsung akan berkait dengan kenaikan harga seperti yang telah disampaikan Menteri Pertanian bahwa dicontohkan mi instan yang merupakan makanan favorit masyarakat dan cepat saji harganya akan naik menjadi tiga kali lipat dan ini beban kemahalan baru bagi masyarakat menengah bawah.

Keempat : Adanya wacana barang substitusi sorgum sebagai bahan pengganti gandum merupakan langkah solutif, namun perlu didetailkan lebih lanjut mengenai berbagai hal dan sosialisasi secara kolaborativ dengan dunia usaha, mengingat Indonesia merupakan peringkat 14 dunia yang menggunakan gandum sebagai bahan baku industri makanan.

Kelima: Semua tentu berharap agar perang Rusia-Ukraina tidak berkepanjangan dan segera berakhir agar tidak berdampak parah kepada dunia, sehingga diperlukan dialog intensif dari negara yang memiliki pengaruh dan peran PBB.(12082022@br). [jbm]

Pos terkait