Hari Gini Masih Percaya Pawang Hujan ??

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Anggota Dewan Pakar ICMI DKI Jakarta 

Bacaan Lainnya

Beberapa minggu terakhir yaitu sejak dimulai lomba MotoGP tingkat dunia di areal balap motor yang baru Mandalika yang megah dan mewah di Lombok begitu ramai orang menyebut “Pawang hujan”. Hal tersebut karena ditengah akan dimulainya ajang bergengsi yang menghadirkan pembalap kelas dunia terjadi hujan lebat yang berakibat MotoGP mulainya ditunda hampir satu jam sehingga diperankan yang namanya pawang hujan untuk menghentikan dan mengalihkannya ketempat lain.

Yang menarik dan membuat heboh adalah aksi Rara Isti Wulandari (RIW) yang menyebut dirinya sang pawang hujan dalam melakukan perannya yaitu menghentikan bahkan menokak hujan. Dalam aksinya RIW masuk ketengah lapangan tanpa alas kaki dan berhelm proyek dengan mangkok emas dan menggerakkan tangannya seolah menyingkirkan hujan disertai dengan membaca mantra-mantra khusus agar hujan berhenti.

Dengan aksinya tersebut wanita berusia 38 tahun atau tepatnya lahir 22 Oktober 1983 di Papua itu menjadi bahan pembicaraan karena mampu menghentikan hujan, dan konon kegiatan sebagai pawang ini bukan saja pada motoGP saja tetapi kegiatan besar lainnya seperti acara kenegaraan bahkan pada even internasional seperti Asean Games 2018 (Jakarta-Palembang).

Melihat latar belakangnya RIW sejak kecil sudah dikenal sebagai indigo dan aliran kejawen sehingga mampu membaca tarot dan memiliki kemampuan khusus dalam hal pawang hujan.

Aksi Viral RIW tersebut menimbulkan berbagi tanggapan baik dari sisi ritual, budaya, agama dan perilaku syirik dan bahkan perbuatan menyekutukan Allah SWT. Tentunya berbagai tanggapan tersebut dilandasi dengan berbagai argumentasi.

Sekilas tentang Pawang Hujan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti pawang hujan adalah orang yang pandai menolak hujan.

Dikutip dari IDNTime, Eksistensi pawang hujan ternyata sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Melansir UPLIFT, ritual yang dilakukan oleh pawang hujan tidak hanya bertujuan untuk mengontrol cuaca, tapi juga menjadi sarana untuk berhubungan dengan alam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh pemimpin suku, pemuka agama, atau tokoh spiritual di komunitas tersebut.

Ritual pawang hujan mempunyai cara dan fungsi yang berbeda-beda di tiap belahan dunia. Jika di Indonesia pawang hujan digunakan untuk mencegah hujan, di Afrika dan negara-negara di sekitar gurun, pawang hujan digunakan untuk mendatangkan hujan.

Menurut US Forest Service, orang-orang zaman dahulu menggunakan tanaman-tanaman yang bersifat psikoaktif untuk melakukan ritual. Hal ini bertujuan untuk berkomunikasi dengan para leluhur dan meminta apa yang mereka inginkan, termasuk meminta hujan.

Di Indonesia , ritual pawang hujan yang paling populer datang dari suku Jawa. Dalam tradisi jawa, pawang hujan akan membacakan mantra-mantra yang tertulis di buku Primbon. Mantra yang ada di buku Primbon dipercaya memiliki perjanjian khusus yang dibuat oleh leluhur suku Jawa dengan makhluk spiritual. Tentu daerah lain juga ada yang seperti ini namun caranya yang berbeda seperti di Bali disebut Nerang Hujan, sedangkan di Riau dikenal dengan sebutan Bomoh.

Dalam menjalankan tugasnya Pawang hujan memiliki beberapa ritual yang harus dipenuhi  biasanya tujuh hari sebelum hari-H. Menurut Facts of Indonesia, salah satu ritual pawang hujan adalah tidak boleh tidur di tempat yang beratap. Jika terjadi hujan, pawang hujan tetap harus berada di tempat yang tidak beratap dan tidak diperbolehkan untuk berteduh.

Tidak hanya itu, pawang hujan juga harus melakukan puasa selama 4 hari. Selama berpuasa dan melakukan ritual lainnya, pawang hujan akan membacakan mantra setiap harinya. Mereka juga mempunyai doa khusus dan harus mandi di tujuh mata air yang berbeda setelah matahari tenggelam.

Saat hari-H, pawang hujan harus bisa membaca pergerakan awan dengan jeli. Jika awan bergerak pelan, maka pawang hujan dipercaya bisa memindahkan awan tersebut ke tempat lain.

Di Jawa terdapat sebuah tradisi yang digunakan dalam acara hajatan perkawinan maupun acara adat lainnya untuk menolak hujan digunakan syarat ritual tanpa menggunakan pawang hujan yaitu dengan meletakkan sapu gerang (sapu yang lidinya kaku dan keras) pada posisi terbalik dengan ujung beberapa lidinya diberi cabe merah, bawang merah itu diyakini sebagai penolak hujan. Selain itu ada yang lain yaitu dengan meletakkan pakaian dalam pria dan wanita yang punya hajat diatas genteng (atap rumah) yang itu juga diyakini selama hajat berlangsung tidak akan terjadi hujan. Hal seperti ini menjadi sebuah keyakinan mengingat  hajatan berlangsung sehari semalam dan biasanya menggunakan hiburan wayang kulit atau kebudayaan setempat.

Hukum Menolak Hujan

Kira-kira bagaimana hukum menggunakan pawang hujan dalam ajaran Islam?

Seperti diketahui, praktek menolak hujan di berbagai daerah di Indonesia masih marak terjadi. Apalagi saat musim hujan tiba, hal ini kerap dilakukan oleh beberapa orang untuk menahan hujan demi kelancaran sebuah acara.

Lalu, bagaimana Islam memandang hal tersebut, apakah diperbolehkan menggunakan pawang hujan untuk memperlancar sebuah acara.

Menurut Buya Yahya dalam sebuah video yang tayang di kanal Youtube Al-Bahjah TV, mengatakan hukum pawang hujan dalam Islam merupakan tindakan haram.

“Haram, tidak boleh [menggunakan pawang hujan]. Pawang itu dukun kan, pakai komat kamit mengusir mendung. Ini tidak dibenarkan kalau urusan dukun. Nabi Muhammad tidak akan ridha,” Ujarnya.

Senada dengan Buya Yahya, Ustaz Abdul Somad (UAS) juga mengatakan hal yang serupa.

Dalam video di akun Youtube Tafaqquh Online, hukum menggunakan pawang hujan dalam Islam adalah haram. “Dia [pawang hujan] minta kepada jin, minta kepada jin. Setan itu hukumnya haram,” Ujar UAS.

Karena hukumnya haram, untuk mencegah terjadinya hujan, umat muslim bisa membaca doa di bawah ini, yang dijelaskan dalam situs resmi Nahdlatul Ulama (NU Online):

“Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari.”

Artinya: “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan”.

Percaya bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah, itu satu paket dengan percaya bahwa tidak ada yang bisa menolak hujan jika Allah akan atau sudah menurunkannya.

Itulah, terkait hujan, yang bisa dilakukan seorang muslim, yaitu:

– Shalat minta hujan (istisqa’)

– Berdoa minta hujan

– Berdoa ketika turun hujan

– Ketika hujan turun sangat deras atau sudah lama sehingga dikuatirkan banjir; berdoa agar hujan dialihkan ke       tempat lain yang membutuhkan atau tempat yang tinggi/tidak ditakutkan banjir.

Kesimpulan

Tidak ada tuntunan tertentu untuk menolak hujan. Tetapi seseorang boleh saja berdoa kepada Allah agar tidak diturunkan hujan, karena sebab tertentu. Mungkin dia punya sawah yang takut kena banjir, atau dia dalam perjalanan berkendara sepeda motor, punya acara out door (pernikahan, misalnya) yang kuatir terganggu jika hujan dan lain-lain yang karena hujan akan beresiko.

Adapun menolak hujan dengan cara-cara tertentu dan persembahan-persembahan tertentu, dan apalagi permintaannya tidak ditujukan kepada Allah, maka ini adalah syirik.

Memakai jasa pawang hujan sebagai sebuah ritual,  namun percaya bahwa  yang menurunkan hujan adalah Allah.

Oleh sebab itu, jangan pernah sekali-kali sombong melupakan Allah, karena saat kita terus melibatkan Allah dalam setiap urusan kita, maka tentu yang berat akan menjadi ringan, yang sulit akan menjadi mudah, dan yang senang akan mendamaikan.

Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka; siapa yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengannya bumi sesudah matinya; niscaya mereka akan menjawab; Allah.” ( Al ‘ankabut: 63)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Apabila engkau berbuat syirik (syirik akbar) maka akan gugurlah seluruh amalanmu, dan sungguh engkau akan menjadi orang yang merugi (di neraka Jahanam)” (QS. Az-Zumar: 65).

Dari berbagai penjelasan tersebut maka jelas untuk umat yang mengaku dirinya Islam maka tidak pada tempatnya menggunakan Pawang hujan untuk tujuan menolak hujan, atau segala sesuatu ritual yang menggunakan syarat tertentu, mantra-mantra, karena semuanya adalah perbuatan syirik dan menyekutukan Allah SWT. (Allohualam bi Sawab).

Apalagi dijaman tehnologi digital ini , sudah tidak rasional lagi menyandingkan pawang untuk acara-acara besar apalagi internasional, sehingga tidak muncul sebuah ungkapan “hari gini masih menggunkan pawang hujan? Apa tidak percaya kepada Allah Ta’ala?” (23032022). [jbm]

Pos terkait