Ikhlas Salah Satu Cara Mengelola Hati

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dalam kehidupan sehari-hari baik dalam beribadah maupun berinteraksi sosial sering sekali menggunakaan kata dan ucapan “Ikhlas”. Kata ini sudah cukup familiar sebagai bagian dari kalimat untuk komunikasi maupun bersurat. Namun banyak yang belum memahami makna sesungguhnya tentang Ikhlas tersebut.

Bacaan Lainnya

Disisi lain Ikhlas berkait erat dengan masalah hati dan dapat digunakan  sebagai salah satu sisi dalam mengelola hati agar hati menjadi tenang, tentram, legowo dan amanah. Ikhlas akan menebar berbagai masukan kedalam hati yang akan membentuk jiwa menjadi kuat dan mewujudkan suatu kebahagian. Oleh  karenanya dalam pembahasan selanjutnya akan diuraikan tentang hakikat ikhlas dari beberapa sisi dan selanjutnya akan dikaitkan dengan ikhlas sebagai salah satu cara dalam mengelola hati.

Hakikat Ikhlas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ikhlas berarti bersih hati, tulus hati. Dalam hal hubungan sesama manusia, ikhlas adalah memberi pertolongan dengan ketulusan hati. Sementara itu, keikhlasan berarti sebuah kejujuran atau kerelaan.

Sedangkan secara Terminologi ikhlas adalah: Mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah SWT, dan bukan karena faktor lainnya. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah.

Menurut bahasa, ikhlas artinya murni. Orang Arab menggunakan kata ikhlas (ikhlash) untuk menyebut roti murni.

Menurut para Ahli: Bugi (Syarbini & Haryadi, 2010), ikhlas berarti bersih dari segala kotoran dan menjadikannya bersih dan tidak kotor. Sedangkan menurut Imam Al- Ghazali (1975) ikhlas yaitu melakukan segala sesuatu dengan disertai niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dari segala bentuk ketidakmurnian selain Taqarrub Ilallah.

Pendapat lain dari Abu al Qasim al Qusyairi mengatakan bahwa orang yang ikhlas adalah yang berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah SWT dalam setiap perbuatannya. Menurutnya, orang yang ikhlas akan berbuat sesuatu karena Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari manusia.

Dalam Islam, seperti dikutip dari buku Ikhlas karya Dr. Umar Sulaiman al-Asygar ikhlas merupakan satu-satunya tujuan ibadah. Ikhlas adalah ajaran yang menjadi dasar diutusnya semua rasul Allah SWT. Ikhlas adalah inti dakwah para rasul.

Para ulama mendefinisikan ikhlas sebagai seluruh ibadah yang diniatkan kepada Allah SWT bukan yang lain. Al Raghib dalam kitabnya Mufradat mengatakan ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah. Sahl ibn Abdullah mengemukakan ikhlas adalah menjadikan seluruh gerak dan diam hanya untuk Allah SWT.

Pendapat lain dari Abu al Qasim al Qusyairi mengatakan bahwa orang yang ikhlas adalah yang berkeinginan untuk menegaskan hak-hak Allah SWT dalam setiap perbuatannya. Menurutnya, orang yang ikhlas akan berbuat sesuatu karena Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari manusia.

Umar Sulaiman menyimpulkan ikhlas adalah upaya memurnikan maksud dan tujuan kepada Allah SWT dari segala noda atau hal yang merusak maksud dan tujuan tersebut.

Dari berbagai uraian tentang Ikhlas tersebut, maka perlu ditarik sebuah pemahaman tentang makna dari Ikhlas itu sendiri.

Ikhlas adalah Memurnikan sesuatu. Disisi lain  ikhlas adalah: Mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah SWT, dan bukan karena faktor lainnya. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ikhlas artinya melakukan sesuatu dengan mengharap ridha Allah semata dan tidak mengiringinya dengan pengharapan terhadap ridha dari selain Allah. Sejatinya, ikhlas tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena ikhlas datangnya dari hati. Hanya Allah dan umat-Nya lah yang mengetahui keikhlasan tersebut (liputan6).

Terdapat tiga derajat keikhlasan, antara lain sebagai berikut :

1) Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal, dan tidak puas terhadap amal. Ada tiga penghalang yang dilakukan seseorang dari amalnya yakni: Pertama,pandangan dan perhatiannya, Kedua, keinginan atas imbalan dari amalnya dan Ketiga, puas, dan senang kepadanya.

Padahal semua kebaikan yang ada dalam diri seorang hamba semata atas karunia Allah, pemberian, kebaikan, dan nikmat-Nya.

2) Malu terhadap amal sambil tetap berusaha untuk membenahinya, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah.

Seorang hamba akan merasa malu kepada Allah karena amalnya yang dirasa belum layak dilakukan. Namun, amal itu tetap diupayakan. Derajat ini mencakup lima perkara. Antara lain amal, berusaha dalam amal, rasa malu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberian, dan karunia Allah.

3) Memurnikan amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa.

Mengelola Hati melalui Ikhlas

Berkaitan dengan mengelola hati, ikhlas merupakan kunci dalam beribadah. Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas merupakan perbuatan terpuji. Dengan ikhlas seorang muslim belajar untuk mengikuti sunnah atau tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa Ikhlas terutama dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Terkait dengan Ikhlas ini disampaikan Perintah Allah melalui firman-Nya dalam beberapa ayat Al-Quran, diantaranya sebagai mana tercantum dalam Surat Al A’raf ayat 92 yang berbunyi :

“Katakanlah, ‘Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula”.

Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah.

Dalam  salah satu ayat yang ada di dalam Al Qur’an di QS. Al Mulk ayat 2, yang Artinya :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.

Ikhlas itu merupakan pekerjaan hati. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya.”

Ikhlas merupakan kunci dalam beribadah. Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas merupakan perbuatan terpuji.

Ikhlas merupakan amalan hati yang perlu mendapatkan perhatian khusus secara mendalam dan dilakukan secara terus-menerus. Disinilah kedudukan ikhlas yang begitu penting dalam amal ibadah, agar amalan-amalan tidak sia-sia dan tidak mendapatkan azab di dunia maupun akhirat kelak.

Ikhlas merupakan salah satu akhlakul mahmudah yang harus dimiliki oleh semua orang. Secara sederhana, ikhlas adalah lawan dari riya yaitu kita melakukan segala pekerjaan ataupun ibadah hanya semata-mata karena ingin mendapatkan ridho Allah SWT. Sementara riya yaitu melakukan suatu amal perbuatan dan ibadah karena ingin mencari penghargaan dan juga pengakuan dari manusia.

Dalam kaitan dengan mengelola hati terkait dengan Ikhlas diperlukan beberapa ciri orang yang ikhlas. Dari Gramedia.com menyebutkan bahwa ciri-ciri  ikhlas adalah :

  1. Tidak Suka Dipuji

Pujian adalah salah satu ujian untuk orang-orang yang melakukan amal perbuatan baik dengan pujian seseorang dapat terkena penyakit ujub atau sombong. Oleh karena itu, seseorang mukhlis tidak akan pernah suka dengan pujian yang berasal dari seseorang.

  1. Tidak Berambisi Menjadi Pemimpin

Salah satu kelebihan dari seorang pemimpin yaitu dihormati dan disegani oleh banyak orang. Dengan kepemimpinan, seseorang akan lebih mudah menjadi sombong dan congkak. Namun, berbeda dengan orang yang mempunyai sifat ini, mereka akan tenang dan diam serta tidak akan mencalonkan dirinya sendiri untuk menjadi seorang pemimpin. Misalnya saja dengan mencalonkan diri menjadi ketua RT, RW, atau yang lainnya.

  1. Mendengarkan Nasehat

Di dalam sebuah pepatah Arab mengungkapkan: Ambilah hikmah (pelajaran) meski dari mulut binatang.

Orang yang mukhlis akan senantiasa menghargai orang-orang yang menasehatinya.

  1. Menganggap Sama Pujian dan Hinaan

Kewajiban seorang muslim yaitu melakukan perintah Allah SWT dengan baik sebagai salah satu tanda penghambaan kepada Sang Pencipta. Seringkali, apa yang orang lakukan memperoleh pujian dan juga hinaan dari orang-orang sekitar. Sementara untuk seorang mukhlis, pujian dan juga hinaan adalah hal yang sama. Mereka tidak akan memikirkan hal itu, karena yang mereka tahu hanyalah niat dari orang-orang sekitar.

  1. Melupakan Amal Baik

Salah satu ciri ikhlas selanjutnya adalah dengan melupakan amal baik yang sudah dilakukan. Saat seseorang melakukan amal kebaikan seperti halnya menolong orang lain, biasanya seorang mukhlis akan lupa dan tidak akan pernah mengingatnya lagi. Dengan begitu, orang yang ikhlas tidak dengan mudah berbicara atau mengungkit kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya.

  1. Melupakan Hak Amal Baiknya

Seseorang yang melakukan amal ibadah dengan ikhlas akan melupakan amal yang telah mereka perbuat. Tak hanya itu saja, mereka juga akan melupakan hak amal baiknya. Saat seseorang melakukan amal baik, biasanya mereka akan menuntut haknya.

Dengan sifat-sifat ikhlas tersebut kiranya mampu untuk mengelola hati agar tidak sombong karena dipuji; tidak ambisi yang menimbulkan egoistis untuk mencapai tujuan menjadi pemimpin, sementara hati juga bisa dikelola dengan sikap penuh kesederhanaan dan menganggap sesuatu dengan apa adanya apakah itu pujian atau hinanan.

Amal baik senantiasa menjadi bagian dari kewajiban yang mampu untuk mengelola hati guna menumbuhkan rasa empati dan simpati kepada sesama. Dengan melupakan amal baiknya yang sudah dilakukan secara ikhlas mampu untuk mengelola hati untuk tetap berbuat baik pada setiap kesempatan dan tidak menjadikan amal baiknya selalu ditunjukkan bahkan dipamerkan kepada  pihak lain apalagi meminta balas jasa.

Itulah sesungguhnya memaknai Ikhlas dalam Kehidupan yang menjadi salah satu cara untuk mengelola hati agar menjadi orang yang sederhana, rendah hati, tidak sombong, senantiasa berbuat baik, tidak egois  dan terus menjadi baik melalui amalan-amalan yang dilakukan semua semat-mata karena Alloh dan bukan karena ingin dipuji dan sejenisnya.

Kesimpulan

Ikhlas merupakan kunci dalam beribadah. Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas merupakan perbuatan terpuji.

Ikhlas dapat dilakukan dalam setiap perbuatan untuk semata-mata tujuan ibadah pada-Nya.

Ikhlas itu merupakan pekerjaan hati dan karenanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya.”

Ikhlas merupakan salah satu cara untuk mengelola hati melalui sifat-sifat yang dimiliki dalam ikhlas yaitu tidak ingin dipuji, tidak berambisi menjadi pemimpin, mau mendengar nasehat, menjadikan pujian dan hinaan sama, melupakan amal baik, menghilangkan hak amal baiknya sehingga tidak menjadi orang yang sombong, egois, senantiasa beramal, rendah hati, memiliki rasa simpati dan empati. (07062022@br). [jbm]

Pos terkait