Indonesia Swasembada Beras Lagi Setelah 34 Tahun

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Lembaga Internasional IRRI (International Rice Research Institute), menganugerahkan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena Indonesia berhasil swasembada beras pada 2019-2021. Presiden Jokowi adalan Presiden Indonesia kedua yang menerima penghargaan ini. Pada era Presiden Suharto Indonesia pernah swasembada beras yaitu pada tahun 1985 dan 1986  dan selebihnya mengalami kekurangan sehingga harus import beras.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan Indonesia tidak lagi mengimpor beras sejak 2019. Hal ini dikarenakan stok beras nasional mencukupi bahkan melebihi pasokan.

Sebagai informasi baru-baru ini Indonesia mendapatkan pengakuan atas sistem pertanian-pangan yang tangguh dan swasembada beras tahun 2019-2021 melalui penggunaan teknologi inovasi padi di Indonesia. Tercatat sejak 2019-2021 produksi beras Indonesia konsisten 31,3 juta ton per tahun.

Hasil produksi dalam negeri yang tinggi ini membuat Indonesia tidak lagi melakukan impor beras untuk konsumsi masyarakat. Sebab dalam setahun, hasil produksinya mencapai 31,3 juta ton, dan dalam tiga (3)  tahun terakhir kita tidak impor beras untuk konsumsi.

Berdasarkan peta kekuatan produksi  menunjukkan luas panen dan produksi padi di Indonesia 2021 telah dirilis resmi BPS berdasarkan Angka Tetap (ATAP), pada 2021 mencatat luas panen padi mencapai sekitar 10,41 juta hektare dengan produksi sebesar 54,42 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah tersebut jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi beras pada 2021 mencapai setara 31,36 juta ton.

Kebutuhan konsumsi Produksi beras setahun  sebesar 30,03 juta ton, sehingga pada produksi 2021 sebesar 31,36 juta ton diperkirakan terjadi surplus 1,33 juta ton dibandingkan perkiraan kebutuhan konsumsi setahun  sebesar 30,03 juta ton.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), diprediksikan terdapat peningkatan luas panen padi periode Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 25,4 juta ton GKG setara 14,63 juta ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 1,82 juta ton GKG (7,70%) jika dibandingkan dengan produksi padi pada Januari–April 2021 yang sebesar 23,58 juta ton padi setara 13,58 juta ton beras.

Peningkatan tersebut, secara langsung akan menaikkan produksi gabah kering giling (GKG) sekaligus produksi beras nasional. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, menyampaikan BPS mencatat potensi produksi padi pada Subround Januari–April 2022 diperkirakan mencapai 25,4 juta ton GKG setara 14,63 juta ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 1,82 juta ton GKG (7,70%) jika dibandingkan dengan produksi padi pada Januari–April 2021 yang sebesar 23,58 juta ton padi setara 13,58 juta ton beras.

Diperkirakan tahun ini ada ketersediaan beras nasional di 2022 bisa mencapai 36,95 juta ton. Jika dikurangi dengan konsumsi yang 30,90 juta ton, maka akan ada stok 6,05 juta ton yang akan masuk ke tahun 2023.

Pada kondisi seperti itu dan dikaitkan dengan kriteria swasembada beras sebagaimana disebutkan FAO 1999, maka Indonesia sudah pada posisi swasembada beras tahun 2022 dan tahun sebelumnya mulai 2019-2021 karena bukan saja produksi mencapai 90% dari kebutuhan konsumsi bahkan sudah melampui bahkan terjadi surplus 6,05 juta ton yang menjadi surplus awal tahun 2003.

Sejak Pemerintahan Presiden Suharto yang memimpin Republik ini hampir lebih tiga puluh tahun untuk memenuhi kebutuhan beras kekurangannya selalu dipenuhi dengan Import beras walaupun pembangunan sektor pertanian menjadi prioritas baik melalui intensifikasi tanam, pemberian subsidi pupuk maupun tehnologi tanam namun kebijakan import beras terus dilakukan dengan pengecualian pada 1985 dan 1986 Indonesia berhasil melakukan swasembada beras.

Kebiasaan import beras terus berlangsung dilakukan oleh Presiden berikutnya BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Joko Widodo.

Impor beras sendiri bukan menjadi aktivitas baru bagi pemerintah Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pemerintah Indonesia konsisten mengimpor beras selama 19 tahun terakhir atau sejak tahun 2000.

Jumlahnya pun bervariasi dengan puncaknya pada tahun 2011 dengan mengimpor sebanyak 2,75 juta ton beras dari sembilan negara dengan nilai mencapai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Teranyar, pemerintah mengimpor beras sebanyak 444,5 ribu ton dengan nilai 184,3 juta dolar AS pada 2019.

Namun demikian, sejarah impor beras di Indonesia sejatinya tidak dimulai pada awal milenium, melainkan jauh sebelum itu atau pada medio 60-an ketika masa awal kepemimpinan Presiden Soeharto.

Keberhasilan swasembada beras  tak lepas dari upaya pemerintah yang terus membangun infrastruktur di bidan pertanian sejak 2015. Adapun infrastruktur yang dibangun antara lain bendungan, embung, dan jaringan irigasi.

Sampai hari ini telah diresmikan 29 bendungan beast. Dan tahun ini akan selesai lagi totalnya 38 bendungan dan sampai tahun 2024 akan diselesaikan kurang lebih 61 bendungan, plus embung 4500  dan 1,1 juta jaringan irigasi yang telah kita di bangun selama 7 tahun ini. Hal tersebut dijelaskan Jokowi pada 14/08/2022.

Kesimpulan

Dari beberapa uraian yang sudah disampaikan, maka dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama: Indonesia kembali memperoleh penghargaan swasembada beras setelah lebih 34 tahun memperoleh swasembada beras yaitu pada tahun 1985-1986. Penghargaan ini diberikan oleh sebuah Lembaga Internasional: International Rice Research Institute (IRRI).

Kedua: Penghargaan ini sebagai bukti keberhasilan Presiden Joko Widodo dengan pembangunan infrastrukrur pertanian yang baik sehingga menghasilkan produksi yang konsisten 31,33 juta ton selama tiga tahun berturut-turut sejak 2019-2019 dan mencukupi kebutuhan konsumsi sebesar 30,03 ton juta ,  sehingga ada surplus sebagai cadangan.

Ketiga: Karena produksi yang mencukupi untuk kebutuhan konsumsi, maka selama tiga tahun pula tidak ada import beras walaupun selama ini tradisi import beras selama 19 tahun terakhir terus dilakukan untuk menutupi kekurangan konsumsi.

Keempat: Kondisi ini perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan kemampuan produksi dengan meningkatkan infrastruktur dan teknologi tanam , sehingga bisa melakukan eksport untuk memperkuat komoditas eksport dari beras.

Kelima: Perlu terus dijaga lahan pertanian untuk menanam padi supaya tidak terjadi alih fungsi lahan dan memberikan stimulus kepada petani baik berupa pupuk maupun kredit usaha pertanian agar petani bergairah menanam padi dan menghindari sistim ijon yang masih terjadi dikalangan petani sawah.(15082022@br).[jbm]

Pos terkait