Inilah Hakikat Kehidupan dan Insan

  • Whatsapp
Foto Dokumentasi

Oleh: Abd Misno Mohd Djahri

Kehidupan ini memang penuh dengan misteri, ada banyak hal yang tidak dapat dinalar dengan akal insani. Lebih dari itu adalah manusia yang penuh dengan hal-hal di luar prediksi, seringkali antara apa yang terlihat tidak sama dengan yang tidak terlihat. Seseorang itu nampak tersenyum, namun hakikatnya hatinya menangis sebaliknya ia menangis tapi hakikatnya ia bahagia dalam hatinya. Inilah kehidupan dunia yang penuh dengan apa yang hakikatnya tidak hanya dilihat oleh mata, tapi perlu ada rasa yang mampu untuk melihatnya.

Bacaan Lainnya

Manusia memiliki dua unsur yang luar biasa yaitu jiwa dan raga, sukma (roh) dan jasad dirinya. Keduanya seringkali berbeda dalam pandangan mata, misalnya seseorang yang jiwanya halus dan penuh dengan kebaikan tapi raga dan jasadnya penuh dengan kekurangan. Sebaliknya seseorang yang nampak sempurna jasadnya tapi faktanya jiwanya penuh dengan kejahatan dan kekurangan. Inilah hakikat manusia, terkadang apa yang terlihat dari jasadnya tidak mencerminkan apa yang ada dalam hati dan jiwanya.

Keimanan manusia pun terkadang sulit untuk diterka, seseorang berpakaian apa adanya, profesinya terlalu biasa bahkan di mata manusia tidak bernilai apa-apa namun hakikatnya di sisi Rabbnya ia adalah hamba yang paling mulia. Bisa jadi juga seseorang berpakaian layaknya ulama, memakai sorban dan berjubah putih panjang dan apa yang ada dalam jasadnya adalah simbol-simbol keimanan. Namun hakikatnya hati dan jiwanya lebih jahat dari iblis karena ia banyak menyesatkan manusia dari jalan Sang Pencipta.

Inilah hakikat dunia, apa yang kita lihat dengan mata seringkali tidak sesuai dengan apa hakikatnya. Sehingga berlaku bijak atas apa yang terlihat adalah sikap utama dalam menghadapinya. Bagaimana jika melihat seseorang yang nampak sholeh dan baik tapi ternyata ia pelaku kesyirikan atau dosa dan kesalahan? Kembali pada pemahaman tentang dunia, bahwa manusia dicipta penuh dengan kekurangan dan kelebihan. Banyak orang yang nampak biasa saja, sejatinya ia adalah hamba Allah Ta’ala yang mulia. Namun ada juga yang luarnya nampak seperti ulama tapi hatinya jahat dan penuh dengan angkara murka. Bagaimana kita menyikapinya?

Dosa dengan segala bentuknya dari yang paling besar berupa kesyirikan, dosa besar hingga dosa-dosa yang dianggap biasa sejatinya selalu ada pada diri manusia dengan akdar yang berbeda-beda. Bahkan dalam haditsnya yang mulia bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda bahwa setiap manusia pernah berbuat dosa, maka sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yag segera bertaubat kepadaNya. Merujuk pada riwayat ini maka pemahaman kita bahwa manusia itu tanpa cela adalah salah adanya, setiap manusia pernah melakukan dosa. Tentu saja ini bukan berarti kita bertoleransi dengan dosa dan kesalahan manusia.

Maka, jika kita melihat ada seorang yang nampak alim tapi dia adalah pelaku dosa hendaknya kita bijak lebih bijak dalam menyikapinya. Selama ia tidak mendzahirkan perbuatan maksiatnya tersebut, karena ia “jahil” dalam arti masih terbelenggu hawa nafsunya di sisi ini. Walaupun pasti manusia akan mengatakan “Dia tahu ilmunya tapi kenapa melakukan dosa?”. Inilah yang ada di masyarakat kita, dan sejatinya itu benar adanya tetapi jika kita merujuk kepada riwayat semula bahwa dia juga manusia sehingga “wajar” kalau dia juga melakukan dosa.

Sekali lagi bukan membela mereka yang paham ilmunya tapi kemudian melanggarnya, bukan pula mengatakan itu harus mentolerir perbuatan dosa dan kesalahannya. Tapi menyikapinya dengan bijak dan tidak menghakimi sebelah pihak, apalagi jika dia juga tidak secara terang-terangan melakukannya. Bijak dalam hal ini adalah mengajaknya dengan mauidzah hasanah serta nasehat-nasehat yang baik. Bukan dengan menyalahkannya, apalagi di depan umum sehingga manusia banyak mengetahuinya. Sebuah riwayat menyatakan salah satu dari hak seorang muslim adalah merahasiakan aib (kekurangan/dosa/maksita) muslim lainnya.

Akhirnya kita memahami hakikat dari kehidupan adalah terkadang tidak sesuai antara apa yang terlihat dan tidak terlihat. Kita juga memahami hakikat dari manusia yang diciptakan pernah melakukan dosa dan kesalahan, namun segera kembali kepadaNya. Tinggal tugas kita sebagai hambaNya menyikapinya dengan bijak, selalu berintrospeksi dengan diri sendiri dan berlaku bijak ketika melihat kekurangan dari orang lain. Semoga Allah Ta’ala sentiasa memberkahi kita… Aamiin. []

Bogor, 10 Mei 2021

Pos terkait