Janji Raja dan Ekspektasi Jelata

Foto Dok. Penulis

Oleh : Wahyu Candra, Aktivis LSM

Janji merupakan sebuah kontrak psikologis antara dua pihak dalam tujuan memberi pelayanan publik, dalam agama islam, janji merupakan sebuah etika yang harus ditaati hukum, maka jika ada yang melanggar atau tidak memenuhi janji,  orang tersebut termasuk kedalam munafiqun dan berdosa.

Bacaan Lainnya

Lewat tulisan ini saya mencoba menyebut apa itu sebuah janji, bagaimana janji selaku pemimpin terhadap rakyatnya, serta dampak buruknya terhadap masyarakat yang ia pimpin, karena apa yang dijanjikan sudah tentu menjadi sebuah harapan bagi para penagih khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Kembali kemasa politik, sudah menjadi keharusan rasanya ketika kembali kemasa kontestasi pemilu, rasanya para calon yang ikut kontestasi seakan berlomba melahirkan konsep politik, seakan melukiskan wajah kepemimpinan melalui janji, hampir semua kandidat membungkus janji tersebut sebagus mungkin dalam visi – misi mereka, semua itu dilakukan bertujuan untuk menarik simpati masyarakat agar merapat dalam barisan kemenangan, seiring berjalannya waktu, kontestasipun berakhir, hasilnya hanya ada satu kemenangan, satu pemenang.

Rasa haus rakyat pun semakin terasa dan ingin meminum seteguk air yang akan disuguhkan pemenang, tetapi apa yang terjadi ? Rakyat seolah-olah terbangun dari mimpinya, ternyata suguhan air segar dari janji manis hanyalah mimpi lewat bunga-bunga tidur saja, selimut tidur terasa penyesalan, sedangkan bantal ibarat sebuah kekecewaan, pada akhirnya retaklah kepercayaan dan semangat bersama, sehingga melahirkan para argumeniak dan opini protes terhadap janji palsu.

Pada kontestasi politik selanjutnya, para kontestan cenderung tetap akan melakukan hal yang sama yaitu menawarkan kembali janji melalui program terbaik sang calon, tujuan tetap untuk menarik simpati masyarakat, pola yang dianggap efektif mengantongi dukungan seperti pada pemilu sebelumnya, namun, masyarakat seakan sudah apatis, jalur praktis adalah cara praktis untuk mendapatkan manfaat kontestasi, tidak peduli kapasitas dan kualitas calon, tapi pilihan ditentukan oleh besaran income.

Semua itu terjadi karena apa yang masyarakat dapatkan dari pemimpin mereka sebelumnya berbanding terbalik dengan apa yang mereka ekspektasikan selama ini, sehingga terbentuklah mindset berfikir masyarakat bahwa siapapun yang menjadi pemimpin sama saja, mereka cenderung fokus pada diri dan kelompoknya, serta abai pada tanggung jawab kepemimpinan melalui janji politik mereka sendiri.

Apa yang harus dilakukan agar kepercayaan masyarakat kembali? Kita kembali kearena kontes menuju hasil yang berkualitas? Atau harus diam jadi penonton menunggu kabar dari pintu rumah?

Sebuah kontes dengan hasil baik akan mampu mewujudkan ekspektasi masyarakat sebenarnya, semua itu merupakan hal yang sangat berat, karena kepercayaan bukanlah hal mudah untuk kembali, saya percaya sangat banyak masyarakat yang jenuh oleh kenyataan kelam ini, kapankah matahari kebahagiaan terbit, hanya kembali kepada siapa dan bagaimana kita.

Pertama, tentunya dengan bersatu kita kembali sinergi menggaung kepentingan, tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar-benar ingin membangun kesejahteraan bersama, pemimpin yang punya kemampuan intelektual, tegas, berani dan tentunya sebagai seorang muslim religius.

Siapapun kita, harapan saya kepada pembaca tulisan ini, baik yang muda maupun yang tua, semuanya mari bersama kita tanamkan keyakinan bahwa kita akan bangkit dari ketertinggalan, kita akan keluar dari ruang pembodohan, dan menjadi agen perubahan bagi keluarga atau orang-orang terdekat kita.

Ketika kita benar-benar memilih seorang pemimpin yang amanah, mungkin pondasi kesejahteraan mulai terbentuk, dengan sendirinya masyarakat sadar bahwa memilih seorang pemimpin sejati, itu jauh lebih baik daripada mengambil keuntungan dari praktek money politik sesaat. Salam…

Pos terkait