Kanji Rumbi Khas Dayah Kleng di Mesjid At Taqwa Meureudu

Foto Dokumentasi

Barometernews.id | Meureudu, Pidie Jaya, – Memasak “Kanji Rumbi” merupakan tradisi yang selalu dilakukan masyarakat Aceh termasuk di Mesjid Besar At Taqwa Meureudu. Memasak Kanji Rumbi di masjid ini untuk menu berbuka puasa dan dibagikan kepada warga. Tradisi yang hanya dilakukan di bulan Ramadhan ini di Masjid Besar At-Taqwa Meureudu.

Foto Dokumentasi

“Kami merasa bangga bisa menjaga tradisi ini dari tahun ke tahun. Semua warga mendukungnya,” Papar Mahdani M. Gade, juru masak Kanji Rumbi kepada Cek Mad, Minggu (10/04).

Bacaan Lainnya

Setelah shalat Dhuhur, Mahdani dan rekan kerja termasuk istrinya sibuk menyiapkan aneka bumbu di Masjid At-Taqwa. Satu kuali besar juga disiapkan bersama kayu bakar.

Menurut Mahdani, bahan utamanya adalah beras bermutu baik. Beras dimasak sampai menjadi bubur, lalu dimasukkan bersamaan sayur-sayuran serta bumbu rempah-rempah yang sudah digiling sebagai bumbu utama. “Ada kentang, wortel, kunyit, jahe, bawang, daun sop, santan kelapa, daun pandan, serai, daun pandan dan banyak lainnya,” Katanya.

Butuh waktu dua jam untuk membuat masakan khas Aceh itu siap saji. Para juru masak mengaduknya bergantian bahkan jamaah shalat Ashar turut mengaduknya, “Selesainya bisa usai shalat Ashar,” Ujarnya.

Usai shalat Ashar, warga berdatangan membawa wadah untuk mengambil kanji untuk warga yang berbuka di rumah, sedangkan sebelumnya telah di sisihkan 2 ember untuk mereka yang berbuka di masjid.

Memakan bubur ini akan membuat tubuh segar. Karena ada khasiat ampuh sebagai obat masuk angin dan maag. Misalnya, ini terkandung dalam bumbu yang digunakan serta dikenal mujarab untuk menyehatkan tubuh, seperti jahe, daun serai, dan kunyit.

Menjelang berbuka, bubur Kanji Rumbi yang disediakan untuk makanan berbuka puasa di masjid dituangkan ke dalam gelas untuk disajikan kepada warga. Bila masih ada sisa, maka akan disantap para pengurus dan jamaah masjid usai salat tarawih.

Menurut Mahdani, tradisi memasak Kanji Rumbi masih berlangsung hingga kini karena ada kesepakatan warga dalam menjaganya. Menjelang Ramadhan, biasanya warga akan duduk untuk rapat serta mengumpulkan dana khusus memasak Kanji Rumbi.

Mereka yang kaya biasanya akan menderma lebih banyak dana, sehingga setiap Ramadhan kebutuhan untuk memasak Kanji Rumbi selalu terpenuhi.

“Beginilah kami menjaga tradisi sejak dulu,” Tutup Mahdani. [CM/jbm]

Pos terkait