Ketua DPRK Aceh Utara Tinjau Langsung Lokasi Kekeringan di Kecamatan Banda Baro.

  • Whatsapp
Istimewa (Tj)

Barometernwes.id | Aceh Utara, – Ketua DPRK Aceh Utara, Teungku Arafat Ali, dan didampingi anggota DPRK dari Partai Aceh, Teungku Hasanuddin, Haji Jirwani dan Nazaruddin meninjau langsung sawah yang dilanda kekeringan di Kecamatan Baro, Senin (03/02).

Gerak cepat Ketua DPRK dan Anggota dari Partai Aceh ini, dilakukan setelah mendapat informasi dari salah satu Akun Facebook Tajuddin Taju Banba, yang menuliskan tentang keluhan petani, yang masih turun ke sawah dengan kondisi persawahan tadah hujan dan saban musim tanam dilanda kekeringan.

Istimewa (Tj)

Teungku Arafat Ali, setelah melihat langsung kondisi yang dialami petani, merasa sangat prihatin, dan langsung menganjurkan kepada penyuluh pertanian di Kecamatan Banda Baro, Mukhliza, berkoordinasi dengan Camat dan Geuchik mengusulkan Sumun Bor, yang akan diprioritaskan.

Untuk program jangka panjang, pembebasan tanah saluran pembawa air dari Jamuan yang bendungannya di Kecamatan Sawang. Sebagaimana kita ketahui bersama luas lahan persawahan tadah hujan di Kecamatan Banda Baro 619.Ha (berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Utara)

“Saya akan bantu sumur bor dangkal untuk petani Banda Baro yang lokasi sawahnya dilanda kekeringan, Insya Allah di anggaran perubahan, karena untuk Anggaran murni tidak memungkinkan lagi,” kata Teungku Arafat.

Pembangun sumur bor ini adalah langkah cepat yg harus di ambil oleh pemerintah daerah, karena masalah utamanya adalah belum ada irigasi yang mengairi persawahan yang ada di Kecamatan Banda Baro, ujar Politisi Partai Aceh ini.

Ketua Forum Peduli Banda Baro, Tajuddin mengucapkan terima kasih kepada Ketua dan Anggota DPRK yang bergerak cepat, merespons keluhan petani di Banda Baro, dan keadaan kekeringan yang dialami oleh petani Banda Baro sudah termasuk kategori darurat. Dan perlu segera diprioritaskan pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Pemerintah Aceh.

“Sudah saban musim tanam kondisi kekeringan seperti ini dialami, seolah tak berujung. Dan harapan pembebasan tanah saluran pembawa air bagai mimpi yang tidak kesampaian,” ujar Taju Banba, sapaan akrabnya.

Lanjut Taju penuh harap, semoga semua stake holder seharusnya fokus ke bidang pertanian, dan dalam Musrenbang Kecamatan Banda Baro, selama 6 tahun terakhir Kecamatan Banda Baro selalu mengusulkan pembebasan lahan saluran pembawa air DI Jamuan di peringkat pertama perioritas. (Red/Tj)

Pos terkait