Koreksi Diri Memasuki Tahun Baru Islam 1444 H

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Saat ini Umat Islam di seantero belahan  dunia telah meninggalkan bulan Dzulhijjah yang merupakan akhir tahun 1443 H dan memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah.

Bacaan Lainnya

Bulan Muharram termasuk bulan suci dari empat bulan suci yang ditetapkan, sebagaimana Firman Allah Ta’alla yang artinya : “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Alloh adalah 12 bulan (yang telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan (suci) tersebut.”(QS. At Taubah : 36)

Diantara keempat bulan haram (suci) tersebut adalah : bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keempat bulan tersebut dinamakan bulan haram tentu ada makna yang terkandung didalamnya.

Abu Ya’la rahimahulloh mengatakan, dinamakan bulan haram karena dua makna  yaitu:

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah dahulu.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan maksiat lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya dikarenakan mulianya bulan tersebut.

Segala kiprah dan berbagai peristiwa selama setahun sudah kita lakukan dengan berbagai prestasi dan catatan kekurangan, kini waktunya untuk melakukan evaluasi diri dengan beberapa sisi  diantaranya:

(1) Sikap dan prilaku kita, dipengaruhi, bahkan  ditentukan oleh cara pandang kita dalam melihat dan  memahami siapa sejatinya diri kita. Di tambah pengetahuan dan pengertian kita terhadap apa dan kemana tujuan  perjalanan hidup kita.

(2) Karena pentingnya, pada setiap budaya dan agama besar, pasti memberi ruang utama membahas kedua hal tersebut. Karena pentingnya, setiap manusia mesti mengetahui keduanya dengan jelas dan memahaminya dengan benar. Setiap kekaburan dan ketidak pahaman, akan membawa kesesatan. Ujungnya, bermuara pada kesedihan dan kerusakan.

(3) Atas dasar keduanya, disusun peta jalan dan rambu-rambu agar kita dapat berjalan sesuai disain penciptaan dan bisa berlabuh di dermaga yang telah digariskan sebagai tujuan. Diyakini, hanya dengan demikian, kebahagiaan disini dan diakhir nanti dapat kita temukan dan rasakan.

(4) Patut kita garis bawahi dengan huruf tebal bahwa peta, rambu-rambu, dan perjalanan yang kita ikuti dan lakukan, tidak boleh menyimpang, apalagi berlawanan dengan kesejatian diri dan tujuan yang telah digariskan. Setiap penyimpangan dan perlawanan akan menjauhkan kita dari  kebahagian.

(5) Bukan hanya sebagai pribadi dan umat Islam, yang telah Allah beri pedoman baku yang dengan erat kita genggam.  Konsepsi ini, berlaku pula dalam atribut apapun yang hari ini kita sandang dan emban. Apakah sebagai presiden, dosen, menteri, polisi, pegawai negeri, petani, bahkan petugas bersih-bersih dan juru parkir.

(6) Mumpung masih ada waktu, saatnya kita menjemput berkah. Mari kita renungkan kembali dan bertafakur mengevaluasi diri. Supaya kualitas iman dan pribadi meningkat lebih tinggi lagi.

(7) Dalam mengisi kehidupan selanjutnya mari kita dengan prinsip Hijrah yang secara harfiah berpindah tempat ( jaman Nabi dari Mekah ke Medinah), namun saat ini sudah kurang relevan lagi karena perubahan jaman sehingga Hijrah harus diartikan secara maknawiah yaitu: perubahan perilaku, perubahan iman-taqwa dan perubahan aklaq sehingga mampu membentuk manusia yang memiliki peradaban kuat.

(8) Evaluasi sejauh mana amalan-amalan di Bulan Muharram tahun sebelumnya apakah sudah dilaksanakan dengan baik antara lain: memperbanyak Amal shaleh, menjauhi maksiat dan melakukan puasa sunnah Tasu’a (9 Muharram), puasa Asyura ( 10 Muharam) dan Yaumil Bid (13, 14 & 15 Muharram). Kalau disadari belum baik, maka perbaiki pada bulan Muharram Tahun ini dan bulan-bulan selanjutnya agar kita menjadi manusia yang memiliki nilai Iman dan Taqwa yang kokoh dalam beribadah.

Dan tentu masih banyak hal yang lain yang perlu dilakukan muhasabah, agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan barokah.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan terkait dengan koreksi diri memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah antara lain:

Pertama: Hidup ini beraneka ragam keadaan dan perilaku kehidupan dan berbagai ragam masalah akan tetapi juga berbagai kebahagiaan dan kesenangan. Hidup ini pilihan memang benar adanya, sehingga mau seperti apa itu pilihan .

Kedua: Jadikan momentum Tahun Baru Islam menjadi sarana untuk lebih menguatkan jati diri dan memperkokoh Iman dan Taqwa.

Ketiga:  Lakukan perubahan paradigma Hijrah bukan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain melain sebuah perubahan maknawi yaitu perilaku, kebersamaan dan perubahan akhlak.

Keempat: Melihat ke belakang sebagai pengalaman yang berharga, melihat ke dalam kita gunakan untuk muhasabah diri dan melihat ke depan kita berusaha untuk mencari jalan yang lebih baik.

Kelima: Bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati, karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.

Semoga Allah membimbing kita menuju ke arah kebahagiaan yang hakiki, berakhlak dan berbudi pekerti mulia seperti yang dicontohkan oleh Baginda kita, Rasulullah Muhammad SAW. (01082022@br) [jbm]

Pos terkait