Last Minute…

Oleh: Misno bin Mohamad Djahri

Kehidupan memang penuh dengan keajaiban, baik itu yang tidak Kita inginkan atau yang sangat kita inginkan. Demikianlah Ar Rahman mengajarkan kita tentang makna kesabaran.

Bacaan Lainnya

Ahad, 09 Januari 2022 adalah Hari yang juga membuktikan keajaiban itu, sederhana memang tapi menjadikan semakin kuatnya keyakinan, bahwa ada Ar Rahman Sang Pemilik keteraturan alam.

Agenda saya Hari ini adalah berangkat ke Pandeglang untuk mengisi acara besok di salah satu Pesantren di sekitar Batu Bantar Pandeglang. Lokasinya lebih kurang 1-2 KM sebelum wisata Batu Qur’an.

Keajaiban itu dimulai sejak mulai mempersiapkan diri untuk berangkat, pilihan transportasi online, membawa kendaraan sendiri hingga menelepon teman untuk mengantar ke terminal Baranang siang Bogor. Lebih dari 3 kali berusaha untuk memesan transportasi online baik bike ataupun car, hasilnya baru sekitar Jam 11.00 an mendapatkannya. Hingga mengantar saya ke terminal di Jalan Pajajaran Raya, Bogor.

Setelah sampai terminal, maka yang terfikirkan adalah mencari Bis jurusan Serang. Setelah berjalan cukup lumayan dari pintu keluar bis hingga ke dalam, melewati terminal yang becek di beberapa bagian, akhirnya sampai di tempat Bis trayek Bogor-Merak yang lewat Serang. Namun ternyata baru sekitar 15 menit bisa berangkat, saya hanya mendapatkan bis berikutnya yang masih kosong. Kata orang yang ada di situ akan berangkat Jam 12.30 WIB. Setelah berfikir sejenak, kemudian saya memutuskan untuk kembali berjalan berbalik arah menuju Bis lain jurusan Kampung Rambutan. Jalan balik ini lumayan juga membuat kaki pegal, maklum sudah lama sekali tidak berjalan kaki.

Barusan bis yang nampak tidak seramai dahulu membawa ingatan tentang Terminal Baranang siang yang dulu, tidak banyak yang berubah, warung-warung pinggir terminal yang nampak kumuh, ditambah dengan pedagang asongan yang berpeluh memberi warna terminal yang masih nampak lusuh.

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah saya di depan terminal di mana Bis akan segera meluncur ke luar Kota Bogor. Satu bis yang cukup bagus ‘Lorena” jurusan Bogor-Kampung Rambutan sudah standby di barisan paling depan. Melirik sekilas tulisan yang ada di depan bis, kemudian menaikinya dengan tenang. Bangku di barisan kedua bagian kanan menjadi pilihan, pandangan yang luas serta harapan agar dua bangku untuk seorang (egois dikit…).

Kesabaranku kembali diujicobakan, sudah lebih dari 30 menit ternyata bis belum juga berjalan. Kembali terfikirkan, “Kenapa tidak kembali ke bis Arimbi tadi?, Bukankah katanya juga akan berangkat 12.30” pikirku dalam hati. Namun Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab (baca: gak enak sama bis yang sudah dinaiki lebih dari 30 menit, walau tidak berjalan tapi sudah memberi Rasa nyaman dengan pendingin ruangan yang cukup nyaman). Kesabaran itu masih dipertahankan, walau suara Pengamen sumbang sudah dua kali bergantian, suaranya cukup bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau gak usah nyanyi, lagian hukumnya haram lagi. Ya… Kalau para pedagang dipersilahkan, mereka mencari makan dengan berdagang yang lebih halal. Walaupun saya tidak membeli, tapi saya doakan semoga rizki mengalir tiada henti dari Ilahi.

Akhirnya, sopir bis menduduki singgasananya, sedikit tenang walaupun dalam hati selalu muncul buruk sangkaan. “Biasanya sopir cuma bikin senang penumpang, yang sekian lama menunggu bis diberangkatkan tanpa adanya kepastian”. Berdasarkan pengalaman yang tidak bisa dilupakan ketika naik angkutan penumpang, walaupun sopir sudah di tempat dudukan, tapi biasanya cuma memberi sedikit rasa nyaman. Ujung-ujungnya 15 menit berlalu tanpa kepastian. Ini bukan curhatan, tapi mohon lah para sopir dan knek memberi jawaban yang sesuai dengan kenyataan, berangkat jam 12.30 ya on time. Itu jeritan para penumpang, yang kalau dipikir ulang memang harus lebih berkeadilan, karena sopir juga Cari penumpang, agar setoran sesuai yang ditargetkan.

Bis perlahan bergerak… Walaupun Masih ada pikiran untuk Naik Arimbi, dan ini sudah beberapa kali terjadi. Menengok ke sebelah kiri, berharap Sang Arimbi ada di belakang bis ini.

Perlahan bis bergerak, lebih kurang 10 senti, dan tiba-tiba Bis Arimbi Bogor-Merak datang menghampiri. Ia datang di saat hati ini gamang, memilih ke Kampung Rambutan atau langsung ke Serang, ia datang memberi harapan, tentang penghematan dan keefektifan yang selalu mengganggu pikiran. Tanpa berfikir panjang, hanya hitungan detik akhirnya saya memutuskan, turun dari Bis ini menuju Sang Arimbi yang dari tadi mengganggu hati (karena telah menjadi harapan sejak awal tadi).  Hanya hitungan detik, kaki ini dengan sigap, melangkah pasti meninggalkan bisa yang telah lebih dari 30 menit dinaiki.

Ya… Bis Arimbi datang di menit terakhir ketika seolah-olah sudah tidak ada lagi harapan, pasrah untuk naik bis ke Kampung Rambutan dan nanti disambung bis ke Serang. Ia datang di waktu yang telah ditentukan Ar Rahman, ketika harapan itu hanya dipasrahkan hanya kepadaNya.

Inilah kehidupan, pertolonganNya terkadang hadir di ujung harapan, ketika diri sudah memasrahkan semuanya kepada Ar Rahman. Itu lah apa yang nampak dan dipikirkan oleh manusia, padahal sejatinya di sisiNya semua adalah yang terbaik untuk semua hambaNya. Harapan itu akan selalu ada, pertolongan Allah akan selalu ada, dan waktunya bukan pada apa yang dipikirkan oleh manusia, tapi semua adalah kuasaNya. Karena Dia Maha Segalanya…

Jangan pernah berputus asa, karena janji Allah itu pasti adanya, dan harapan itu akan selalu ada. Jika harapan datang menjelang, makan jangan disia-siakan, karena di sanalah keputusan harus dilaksanakan.

NB: Mohon maaf kepada sopir dan bis  Lorena Trayek Bogor-Kampung Rambutan, Jazakallahu Khairan, terimakasih atas tumpangan dan AC-nya semoga Allah membalasnya dengan rizki yang melimpah. Maafkan calon penumpang mu yang kurang tahu malu, sehingga turun tanpa seizinmu, langsung naik bis di sebelahmu. Semoga jeuleus-mu tak ada untukku … karena rizki itu mungkin bukan milikmu….

Semoga perjalanan ini mendapat ridha-Mu, Bismilllah majreeha wa mursaaah…

Bogor-Serang, 09 Januari 2022 di atas bis yang terus bergoyang…

Pos terkait