Lorong Waktu Menjemput Lailatul Qodar

Foto Ilustrasi

Oleh : Karyadi el-Mahfudz, S.Th.I, M.A

Alhamdulillah kita masih diberikesempatan oleh Allah pada Ramadhan tahun 1441 M, dihadapan kita masih tersisa sepuluh hari perjalanan sepiritualitas yang harus kita eksekusi dengan bijak dan syarat makna, sadar sebagai makhluk yang dilingkupi kealfaan niat untuk lebih maksimal dalam menjalankan ibadah puasa di tahun ini serasa ‘ambyar’ dengan kehadiran covid-19. Kita berharap rangkaian ibadah kita mulai dari  salat tarawih dengan sederat pahala didalamnya, tadarus al-Qur’an meski tertatih-tatih mempertahankan ‘one day one juz’, ditambah qiyamul lail, serta memper banyak sadaqah ditengah musibah harus lebih bertambah. Mengingat pahala yang tak ternilai yang Allah gelontorkan bagi ummat Rasulullah.

Bacaan Lainnya

Saatnya kita melakukan laku spiritual mencari ‘malam penuh kemulyaan’ atau familiar malam lailatul qodar, yang kisi-kisinya sudah kita kantongi dari berbagai literatur islam bahkan pendapat para Ulama, semua merujuk pada bilangan angka ganjil dari malam 21 sampai 29. Mengapa begitu istimewa malam lailatul qadar ? Ini dia kisahnya, disebutkan dalam kitab ‘Mukasyaafah al-Qulub : al-Muqarrib ilaa Hadhrah ‘Allaam al-Ghuyuub fi ‘ilm at-tashawwuf’ karya Imam Al-Ghazali halaman 259-260, Ibn Abbas r.a. meriwayatkan :

“Rasulullah saw. pernah bercerita bahwa beliau mendapat wahyu dari Allah tentang seorang laki-laki Bani Israil yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan tanpa henti. Rasulullah saw. sangat kagum, lalu beliau berdoa,”Tuhanku, Engkau telah menjadikan umatku orang-orang yang pendek usia dan sedikit amalan.”

Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang digunakan oleh laki-laki Bani Israil itu berjihad di jalan Allah menjadi bahan renungan buat kita bersama bahwa dimensi ruang dan waktu masih ada, dibutuhkan ikhtiar lahir maupun batin. Nama laki-laki Bani Israil itu adalah Syam’un. Ia berperang melawan kaum kafir selama seribu bulan tanpa henti. Ia diberi kekuatan dan keberanian yang membuat musuh-musuhnya ketakutan. Lalu kaum kafir mendatangi istri Syam’un. Mereka membujuk istrinya bahwa mereka akan memberi hadiah perhiasan emas jika ia dapat mengikat suaminya. Syam’un pun terpedaya oleh keculasan istrinya. Ibadah Syam’un yang luar biasa maka Allah memberikan kepada  Rasulullah malam lailatul qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang dipakai syam’un berjihad dijalan Allah.”

Hitungan matematis 1000 bulan sama dengan 83 tahun lebih 4 bulan, ibadah mana yang dapat menembus ‘lorong waktu’ selama 83 tahun lebih didunia ini kalau bukan ‘lailatul qadar’ ?

Ramadhan adalah momen teristimewa kita menjemput ‘lailatul qadar’

Kita semua harus melakukan pencarian malam penuh kemuliaan, begitu banyak ladang amaliah di bulan suci Ramadhan 1441 M atau 2020 H angka yang penuh keseimbangan semoga kehidupan dunia dan akhirat kita mampu seimbang, muhasabah buat kita dari Ramadhan ke Ramadhan apakah kita mampu menjaga keseimbangan duniawi atau ukhrowi, tentu hanya kita dan Allah yang maha mengetahuinya, bukan ?

Pos terkait