Menelusuri Kampung Gunung Tua, Nagari Persiapan Ranah Malintang, Kec. Sungai Aur, Kab. Pasaman Barat, Sumbar

  • Whatsapp
Foto Saat Diskusi

Catatan Kecil Di Awal Januari 2020

Oleh Dr. Ir. Hamzah Lubis, S.H., M.H., M.Si.

Bacaan Lainnya

Pagi itu  Rabu 10 April 2019,  saya memasuki sebuah hotel di Kuamang, Ujunggading Kecamatan Lembah Melintang menjemput tamu dari NGO  DD yang datang dari Jakarta.

Rencananya ia berkunjung kekampung melihat potensi wisata di atas lahan lebih kurang 9 Ha. di mana 6Ha adalah milik keluarga sedangkan yang 3 Ha. sebagai tambahan yang juga sudah ada perjanjian kerjasama tertulis.

Lalu, saya mendapat telpon dari nomor yang tidak dikenal.  Penelpon mengaku bernama Devi Irawan, SPd, Sekretaris Dinas Pariwisata Pasaman Barat.

Menurutnya ia baru saja menerima surat undangan berlampirkan  perencanàan ekowisata  Gunungtua. Meskipun surat belum di disposisi Kepala Dinas, namun ia berencana hadir walau terlambat, karena saat menelepon ia masih berada di kantor Simpang-Empat.

Jujur saya katakan,mengirim surat dari Medan ke Dinas Pariwisata hanya “basi-basi” saja.  Kendati saya putra Pasaman Barat, namun saya tidak punya akses ke Pemkab termasuk ke Dinas Pariwisata. Jangankan kepala dinas, seorang staf-pun  tidak ada saya kenal.Alamatnyapun saya tidak tahu. Jadi, saya tidak yakin akan ada perhatian apalagi mereka akan hadir atas surat tersebut.

Foto Saat Diskusi

Yang membuat saya salut, yang datang  ternyata memang betul sebuah tim kecil yakni sekretaris Dispar Pasbar, Bapak Devi Irawan, bersama Bapak Joni yang membidangi destinasi, dan seorang lagi staf membidangi promosi. Dalam penyampaian pada kata sambutan menurut saya memang biasa-biasa saja, hanya sebagai formalitas.

Ternyata kali ini, saya sebagai aktifis mendapat tantangan. Sebab Sekretaris Dispar Pasbar menyampaikan, bahwa Pemkab siap mendukung dan membangun pariwisata, bila memenuhi  semua persyaratan yang ditetapkan. Bahkan dalam diskusi formal, saya sebut,”Tantangan Bapak saya terima.”

Yang membuat saya tersanjung, adalah pujian mereka atas  perencanaan  ekowisata tersebut.

“Maaf, menurut mereka, Dispar jarang menemukan proposal perencanaan yang komprehensif, model wisata, lokasi di area, dan biaya per obyek lengkap dan terinci.  Merekapun meminta agar proposal pendanaan dapat juga diajukan  oleh kelompok atau Pemkab ke pemerintah Pusat.” Sambutan yang positif ini tentu diluar perkiraan saya. Apalagi saya tidak pernah membayangkan begitu besarnya perhatian  Pemkab untuk pariwisata.

Bahkan untuk mendapatkan surat rekomendasi pencarian dana, menurut Sekertaris Dispar pihak Dinas Pariwisata siap membantu dalam hitung jam. Bukan hanya itu, menurut beliau di konsep surat rekomendasipun saya dilibatkan.

“Salut untuk Pemkab Pasbar, khusus Dispar.”

Selanjutnya, menurut Bapak Devi Irawan ia dan tim sudah tak terhitung datang ke Gunungtua. Ia sangat proaktif. Padahal, saya sebelumnya tidak pernah kenal. Sekarang seperti keluarga. Kemarin, ia dan tim datang lagi dalam suasana lain.

Foto Saat Meninjau Lokasi Wisata

Masyarakat kampung, menunggu harap cemas. Ucapan syukur Alhamdulillah keluar dari bibir masyarakat Gunungtua,  atas disetujui  pendanaan sarana pariwisata tahun 2020. Harapan dan pinta terkabulkan. Saya lagi-lagi salut, bahwa Pasal 30 huruf g, UU No.10 tahun 2009, bahwa  wewenang Pemkab Pasbar untuk  memfasilitasi pengembangan daya tarik wisata baru, dilaksanakan dengan baik.

Tentu, bagi kampung lain, anggaran pembangunan mendekati  “1 keranjang”  ini tidaklah  besar.  Tapi bagi saya, bagi kami orang kampung,  pembangunan fisik sebesar itu, sudah sangat  besar. Dan tidak pernah terbayangkan. Saya sudah wanti-wanti sejak awal, kendati sebagian besar “di PL kan”  semua keluarga tidak boleh terlibat dalam proyek fisik tersebut.

Dan kami berharap, kelanjutan dapat lagi dianggarkan di tahun 2021.

Enam item yang dianggarkan pada anggaran 2020 adalah bahagian kecil dari rencana besar wisata halal Gunungtua Resort.

Ucapan terimakasih patutlah  saya dan masyarakat berikan kepada Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Bappeda dan kepada Bupati. Apresiasi khusus, kepada tim lapangan  Bapak Devi  dan Bapak Joni, yang telah proaktif memperjuangkan obyek wisata ini.

“Mereka rela sore sampai malam berada di lapangan berdiskusi.”

Saya dan kita berharap, akan lebih banyak para ASN yang melayani bukan dilayani. Bahkan bekerja dengan tulus, proaktif  tanpa pamrih. Melebihi tupoksinya.

Kita berharap, tidak ada lagi pameo, ” kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah.” Mudah- mudahan mereka yang mempermudah urusan orang,  mendapatkan imbalan di dunia dan diakhirat. Aamiin. [Red/Zoelnasty]

 

Pos terkait