Mudik Lebaran Akan Menggerakkan Ekonomi Secara Dramatis

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Anggota Dewan Pakar ICMI DKI Jakarta

Bacaan Lainnya

Mudik Lebaran tahun 2022 dalam rangka merayakan Idul Fitri 1443 H merupakan momen yang sangat ditunggu masyarakat setelah dua  kali lebaran tahun sebelumnya yaitu 2020 dan 2021 ada larangan mudik dari pemerintah dikarenakan pandemi covid 19.

Pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan larangan mudik Lebaran tahun 2020 dan tahun 2021 akibat pandemi Covid-19. Keputusan tersebut diambil mengingat masih tingginya angka penularan dan kematian akibat Covid-19 setelah beberapa kali libur panjang, khususnya setelah libur Natal dan Tahun Baru.

Dengan adanya keputusan pemerintah yang mengijinkan mudik lebaran tahun ini maka akan terjadi ledakan mudik lebaran dan euvoria merayakan Idul Fitri dalam suasana yang dahsyat.

Presiden Joko Widodo mengumumkan secara langsung setelah sidang Kabinet  terbatas bahwa mudik lebaran diperbolehkan dan tentu saja ini disambut baik oleh seluruh warga masyarakat yang ada diperantauan untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halamannya. Tentu saja disamping pemudik yang merayakan Idul Fitri juga akan dimanfaatkan oleh pemudik Non muslim yang memanfaatkan libur dan cuti bersama untuk rekreasi, ketempat wisata, kuliner, belanja kerajinan daerah dan belanja oleh-oleh makanan khas daerah serta souvenir dari kerajinan industri kreatif yang merupakan potensi yang dimiliki daerah.

Mudik lebaran tahun 2022 ini suasana akan menjadi berbeda dibanding tiga tahun sebelumnya yang sama sekali tidak ada kegiatan mudik dengan adanya larangan mudik dikarenakan pandemi covid 19, sehingga masyarakat merasakan semangat yang luar biasa setelah 3 kali lebaran tidak mudik didorong rasa rindu keluarga dan kampung halamannya dan melepaskan kegembiraannya. Persyaratan mudik yang ditetapkan adalah masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis kedua dan vaksin booster.

Persyaratan tersebut cukup dipahami dan dimengerti bahkan tidak menjadi penghambat karena hampir semua sudah melaksanakan, mengingat mereka membutuhkan vaksin untuk melindungi diri dan antisipasi terhadap terkena virus yang mematikan tersebut. Hal yang tidak kalah penting sebagai pendorong mudik lebaran adalah dibebaskannya persyaratan test antigen dan PCR yang sekaligus akan mereduksi biaya perjalanan mudik.

Diharapkan momen mudik lebaran tahun ini menjadi daya dukung bergeraknya ekonomi secara dramatis kalau tidak disebut secara fantatis.

Pengertian dramatis adalah sebuah situasi / kondisi tertentu yang dilebih-lebihkan dan seringkali tidak sesuai dengan keadaan.

Yang dimaksud perubahan dramatis  adalah perubahan yang cukup mengagetkan dari kondisi kesulitan kemudian menjadi adanya momen tertentu (mudik lebaran) maka terjadi perubahan yang mengejutkan secara dramatis karena semua kondisi sudah bisa diskenario dengan  baik, sementara untuk mengeksekusinya melibatkan lintas peran dalam hal ini kementerian  yang masing-masing terkoordinasi dengan baik sehingga akan menghasilkan cerita keberhasilan dalam babak sebuah drama. Pergerakan ekonomi secara dramatis tersebut akan berdampak kepada beberapa sektor mulai dari transportasi, pariwisata, UMKM  dan secara komplementer pada sektor lain secara bersamaan.

Daya Dukung

Memanfaatkan Momen Mudik Lebaran akan menggerakan ekonomi secara dramatis karena adanya  daya dukung diantaranya :

Libur dan Cuti Bersama : Pemerintah telah menetapkan libur Nasional hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah pada 2 dan 3 Mei 2022, dan juga menetapkan cuti bersama Idul Fitri pada 29 April, 4, 5 dan 6 Mei 2022,” sehingga total libur dalam rangka Idul Fitri termasuk hari Sabtu – Minggu berjumlah sepuluh (10) hari. Libur ini memberikan peluang untuk orang melakukan pulang mudik apalagi yang merayakan Idul Fitri. Dalam kondisi libur panjang dipastikan bagi yang tidak merayakan Idul Fitri dirumah tidak ada asisten rumah tangga sehingga juga akan ikut melakukan perjalanan keluar kota untuk tujuan wisata dan sekaligus mampir mengunjungi keluarga dan sanak famili walaupun hanya sebentar dan selebihnya melakukan perjalanan kunjungan wisata atau melakukan napak tilas ketempat bersejarah dan memiliki kenangan. Dalam situasi seperti ini maka secara dramatis akan menggerakkan ekonomi mulai dari transportasi, bahan bakar, makan, penginapan (hotel) , souvenir dan barang konsumtif lainnya.

Jumlah Pemudik: Diperkirakan tahun ini jumlah pemudik lebaran mencapai 85,5 juta jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah yang akan melakukan banyak transaksi ekonomi , akan terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar dan dalam waktu bersama secara serentak membawa efek perubahan ekenomi yang dramatis besar, karena selama liburan para pemudik disamping bersilahturahmi juga berwisata, wisata kuliner dan mencari belanja souvenir dan oleh-oleh makanan khas yang merupakan ciri kedaerahan yang selama ini jarang ditemukan.

Moda Transportasi Jalan Raya: Berdasarkan data dari Balitbang kementerian perhubungan, diperkirakan pengguna kendaraan pribadi sebanyak empat puluh juta kendaraan pribadi yang akan melewati Jalan raya. Presiden Joko Widodo mengumumkan seusai sidang kabinet terbatas bahwa terdapat dua puluh tiga(23) juta kendaraan mobil pribadi dan tujuh belas (17) juta kendaraan bermotor roda dua akan mudik lebaran. Dengan rata-rata satu mobil 4 penumpang maka akan  terdapat 92 juta manuasia melewati jalan ini dan sekaligus sebagai pelaku konsumsi barang dan jasa, sedangkan untuk sepeda motor dengan rata-rata dua penumpang maka terdapat 34 juta orang yang melewati jalan dan sekaligus sebagai konsumen dalam menggerakkan ekonomi secara dramatis. Dari daya dukung ini akan terjadi transaksi mulai dari saat mempersiapkan kendaraannya agar lancar maka terlebih dahulu diservice, lalu bahan bakar (solar, bensin), biaya masuk jalan tol trans jawa, jajan di jalan dan pengeluaran konsumtif lainnya.

Jumlah Pemudik: Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub). Pilihan moda transportasi terbanyak kedua setelah kendaraan pribadi, yaitu angkutan jalan (bus dan penyeberangan) sebanyak 26,7 juta orang, pesawat sebanyak 8,9 juta orang, dan kereta api sebanyak 8,2 juta orang. Kemudian, sebanyak 1,4 juta orang akan meggunakan kapal dan 0,1 juta orang memilih menggunakan moda transportasi lainnya. Dari jumlah tersebut akan terjadi sebuah aktifitas dalam waktu bersamaan selama libur dan melakukan transaksi konsumtif secara dramatis yang sudah barang tentu akan menggerakkan ekonomi secara dramatis dan akan terkait kepada sektor perhubungangan, usaha transportasi, UMKM, pariwisata dan sektor lainnya yang terkait baik langsung maupun tidak langsung.

Kesiapan Sarana dan Prasarana

Untuk menunjang kelancaran dan peluang akibat mudik lebaran maka telah dipersiapkan operasional sarana angkutan baik darat, laut, dan udara selain kendaraan pribadi sebagaimana diuraikan sebelumnya.

– Menurut data dari Kemenhub, direncanakan selama puncak arus mudik lebaran setiap harinya akan ada 58 rangkaian kereta api dengan total kapasitas 3.300 penumpang yang diberangkatkan dari Jakarta.

– Untuk mempercepat layanan bagi pemudik sehingga tidak terjadi antrian panjang yang bisa menyebabkan kemacetan, PT Indonesia Ferry menambah jumlah loket penjualan tiket dibeberapa Pelabuhan seperti Ketapang, Banyuwangi dan Gilimanuk, Bali.

– Sebanyak 9 juta orang diperkirakan akan melakukan perjalanan mudik  tahun 2022 melalui jalur udara. Dengan demikian Bandara Sukarno-Hatta dipastikan akan menjadi bandara sentral bagi para pemudik. Sehingga diperlukan kesiapan sarana dan sistem untuk mengantisipasi lonjakan.

– Jalan Tol dengan melonjaknya kendaraan pribadi yang akan melewati jalan tol yang diperkirakan untuk ke Pulau Jawa saja 23juta kendaraan pribadi akan menggunakan jalan tol, sehingga diperlukan langkah antisipasi terjadinya kemacetan dan antrian dipintu tol. Sistem satu arah yang direncanakan akan dilakukan pada hari padat arus keberangkatan dan  kepulangan menjadi sebuah kebijakan yang baik.

Perputaran uang

Dilansir dari CNN, aktifitas mudik lebaran diproyeksi perputaran uang dari pada periode Lebaran 2022 tembus Rp8.000 triliun. Angkanya tercatat tumbuh 4,26 persen dibanding pada bulan-bulan biasanya, yakni Rp7.672,4 triliun berdasarkan data Bank Indonesia (BI).

Angka itu diperoleh dari perhitungan total pemudik Lebaran tahun ini yang disurvei Kementerian Perhubungan mencapai 80 juta orang, baik lewat perjalanan darat, udara, maupun laut yang terjadi dari lonjakan konsumsi

Perputaran uang tersebut akan menyebar didaerah-daerah tujuan mudik yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang pada gilirannya akan mengkontribusi pertumbuhan perekonomian nasional, dan juga akan mempengaruhi sektor perhubungan, UMKM, pariwisata dan sektor lainnya.

Walaupun tidak dirinci unsur-unsur yang menjadikan perputaran uang sebesar Rp.8.000 trillIun, namun setidaknya dari beberapa gambaran kondisi yang akan terjadi selama mudik lebaran dapat digunakan sebagai faktor yang menyebabkan peredaran uang tersebut, beberapa diantaranya adalah :

Pertama, adanya THR yang dibayarkan secara penuh bagi pegawai swasta dan gaji ke tiga belas bagi ASN, TNI, BUMN termasuk pensiunan ini akan mengakibatkan peredaran dan perputaran yang terdistribusi ke daerah untuk transaksi kebutuhan konsumtif dan kebutuhan lainnya.

Kedua, dari jumlah pemudik sebanyakp 80 juta tersebut  akan membawa sejumlah dana untuk bertransaksi selama liburan mudik. Dengan mengunakan asumsi rata-rata konsumsi harian untuk makan Rp. 50.000,- dikali jumlah pemudik 80 juta maka akan terjadi transaksi dan perputaran uang yang cukup besar. Transaksi ini akan mengakibatkan perputaran ke sektor lain sehingga akan terjadi perputaran kas (cash cicles) yang tinggi.

Ketiga, dari penggunaan Jalan Tol bagi pengguna kendaraan pribadi, misalnya untuk Pulau Jawa dengan jumlah mobil pribadi sebanyak 23 juta kendaraan dengan tujuan Jawa Tengah misalnya untuk Jakarta – Semarang harus mengeluarkan uang untuk tol sebesar Rp. 353.500,- sekali jalan sehingga untuk pergi-pulang sebesar Rp.765.000. Sementara untuk Jakarta-Solo Rp.446.000,- sekali jalan sehingga untuk pergi-pulang uang tol yang perlu dikeluarkan Rp.892.000,-. Belum lagi yang tujuan Jawa Timur, Jawa Barat juga akan melakukan transaksi Jalan Tol yang cukup tinggi. Sedangkan untuk yang diluar Pulau Jawa selain menggunakan transaksi jalan tol juga memerlukan biaya penyeberangan kapal yang besarnya bervariasi sesuai dengan kelasnya. Dengan demikian akan terjadi perputaran uang yang cukup besar dari sektor ini dan secara langsung akan terjadi pengaruh ganda untuk sektor lain.

Keempat, dari penggunaan Bakar baik bensin, solar dan bahan bakar lainnya juga akan terjadi perputaran uang yang tidak kecil akibat transaksi penggunaan bahan bakar. Misalnya untuk penggunaan bahan bakar mobil pribadi Jakarta-Solo setidaknya penggunaan bahan bakar Rp.500.000,- dan  dikalikan dengan jumlah kendaraan untuk sekali jalan, sehingga perlu kelipatannya. Transaksi bahan bakar masih harus bertambah selama libur untuk tujuan wisata, sehingga akan terjadi perputaran uang  yang dramatis peningkatannya.

Kelima, dari sisi pelaku ekonomi UMKM akan banyak dilibatkan untuk memenuhi barang dan jasa selama mudik lebaran. Sehingga akan terjadi pergerakan transaksi yang melibatkan UMKM mulai dari sarana, kuliner, souvenir yang akan menimbulkan perputaran uang yang begitu dramatis.

Keenam, sektor pariwisata mulai tujuan tempat wisata saatnya bangkit setelah terpuruk akibat pandemi Covid 19 untuk kurun waktu yang hampir tiga tahun. Dengan momen mudik lebaran ini harus mampu bangkit untuk melayani pemudik yang akan berwisata bersama keluarga selain berkunjung bersilaturahmi dengan orang tua dan keluarga lain. Akan terjadi pergerakan yang dramatis dari sektor ini mulai tiket masuk, fasilitas permainan, kuliner, souvenir dan tempat belanja oleh-oleh sehingga uang yang beredar di sektor ini akan menjadi besar dan akan menjadikan industri kreatif daerah juga bergerak.

Ketujuh, sektor ketenagakerjaan dengan adanya aktifitas mudik lebaran ini akan menyerap tenaga kerja yang banyak dan setidaknya akan memberikan kesempatan pekerja yang selama ini dirumahkan, digilir dan dikurangi jam bekerja akan menjadi normal kembali. Disisi lain akan terjadi perputaran karena jasa tenaga kerja yang cukup besar.

Hal-hal tersebut kiranya yang akan mengkontribusi peredaran uang yang menurut para ahli menjadi Rp. 8.000  triliun.

Kesimpulan

Momen mudik lebaran yang merupakan kebijakan Pemerintah menjadi sebuah kebijakan yang ditunggu oleh masyarakat dan pelaku bisnis.

Aktifitas mudik lebaran menjadi langkah awalnya bangkitnya ekonomi setelah beberapa waktu mengalami keterpurukan akibat pandemi Covid 19.

Momen lebaran akan menggerakkan banyak sektor dalam perekonomian mulai sektor perhubungan, UMKM, pariwisata dan ekonomi kreatif serta sektor lainnya secara komplementer.

Dengan aktifitas mudik lebaran diharapkan akan terjadi peredaran uang yang diperkirakan mencapai Rp. 8.000 trilliun mampu menggerakkan ekonomi secara dramatis dan mampu dijaga keberlanjutannya.

Melalui kebijakan memberikan ijin mudik lebaran juga mampu merecovery berbagi kondisi yang terpuruk akibat pandemi Covid 19 dan sebuah pertanda baik bahwa pandemi akan berubah menjadi endemi dan semua aktifitas bisa normal kembali. (18042022). [jbm]

Pos terkait