Neraca Perdagangan Surplus Pertanda Perekonomian Semakin Baik

Foto Dok. DR. Basuki Ranto

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Neraca perdagangan adalah perbandingan antara jumlah nilai eksport dengan jumlah nilai import.

Eksport akan mengakibatkan devisa masuk sedangkan import akan menimbulkan devisa keluar. Apabila nilai eksport lebih besar dari import maka akan menimbulkan ekses surplus dan sebaliknya bila nilai eksport lebih kecil dari import maka yang akan terjadi adalah defisit neraca perdagangan.

Dari data yang dilaporkan  Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2022 mengalami surplus US$ 5,09 miliar. Surplus terjadi karena neraca eksport lebih besar daripada impor.

Nilai ekspor pada Juni 2022 tercatat US$ 26,09 miliar. Sementara impor pada bulan Juni ini senilai US$ 21 miliar, sehingga terjadi neraca surplus sebesar US$ 5,09 . Nilai eksport naik 12,87% dibanding bulan lalu.

“Impor Juni 2022 tercatat US$ 21 miliar. Juga meningkat 12,87% kalau dibandingkan Mei 2022.

Pergerakan nilai eksport selama kurun waktu enam bulan di tahun 2022 terus meningkat, hal tersebut nampak dalam trend sebagai berikut: Januari 2022 surplus US$ 0,93 miliar; Februari 2022 surplus US$ 3,82 miliar; Maret 2022 surplus US$ 4,53 miliar; April 2022 surplus US$ 7,56 miliar; Mei 2022 surplus US$ 2,9 miliar; Juni 2022 surplus US$ 5,09 miliar.

Dari data tersebut menunjukkan selama satu semester ini surplus tertinggi terjadi pada bulan April 2022 yaitu 7,56 miliar .

Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2022 secara keseluruhan mencatat surplus 24,89 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada semester pertama 2021 sebesar 11,84 miliar dolar AS.

Sementara secara akumulasi pada tahun 2021 juga sudah terjadi surplus dengan total 31,89 milliar, ini menunjukkan surplus neraca perdagangan telah berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data dari departemen komunikasi BI menyebutkan bahwa Surplus neraca perdagangan Juni 2022 bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah peningkatan defisit neraca perdagangan migas.

Pada Juni 2022, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat 7,23 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar 4,76 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor nonmigas dari 20,01 miliar dolar AS pada Mei 2022 menjadi 24,56 miliar dolar AS pada Juni 2022.

Peningkatan kinerja ekspor nonmigas terutama bersumber dari ekspor komoditas berbasis sumber daya alam, seperti CPO dan batu bara, serta sejumlah produk manufaktur, seperti kendaraan dan bagiannya dan alas kaki yang tercatat meningkat, didukung oleh harga global yang masih tinggi. Ditinjau dari negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tercatat meningkat. Adapun impor nonmigas meningkat pada seluruh komponen, sejalan dengan terus berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat dari 1,86 miliar dolar AS pada Mei 2022 menjadi 2,14 miliar dolar AS pada Juni 2022, sejalan dengan kenaikan impor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan ekspor migas.

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:

Pertama, neraca perdagangan yang merupakan perbandingan antara nilai eksport dan nilai import mengalami surplus mulai 2021 dan berlanjut sampai dengan Juni 2022. Terjadi kenaikan dua kali lebih surplus neraca perdagangan bila dibanding semester pertama 2022 yang sebesar US$ 24,89 milliar dibanding semester pertama tahun sebelumnya (2021) sebesar US$ 11,84.

Kedua, penyumbang surplus neraca perdagangan didominasi dari sektor non migas dan ini fakta bahwa sumber kekayaan alam yang melimpah menjadi primadona untuk mengkontribusi eksport. Sementara dari sektor migas masih defisit dan ini perlu disikapi dengan cerdas dan bijak.

Ketiga, surplus neraca perdagangan yang terus meningkat ini memberikan indikator bahwa perekonomian Indonesia semakin baik dan berkontribusi positif terhadap ketahanan ekternal perekonomian Indonesia.

Keempat, perlu lebih mengoptimalkan eksport mengingat sumber daya alam baik non migas maupun migas sehingga surplus neraca perdagangan semakin meningkat, sementara disisi lain perlu menekan import dan berinovasi untuk barang substitusi import serta menggalakkan penggunaan produk nasional termasuk ekonomi kreatif.(br170722). [jbm]

Pos terkait