Nyata, Ekonomi Bergerak Dampak Mudik Lebaran

Foto Dokumentasi

Oleh: Dr. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Kebijakan Pemerintah mengijinkan mudik lebaran dalam rangka merayakan Idul Fitri 1443 H disambut dengan gegap gempita oleh seluruh warga masyarakat yang ada diperantauan baik yang merayakan Idul Fitri maupun bagi warga masyarakat lainnya dalam memanfaatkan libur panjang sekaligus melakukan perjalanan wisata di beberapa daerah di nusantara.

Mudik lebaran tahun ini tampak sangat dahsyat pelaksanaannya, dan kondisi ini betul-betul memberikan dampak terhadap seluruh aspek kehidupan ekonomi mulai dari transportasi, UMKM, jasa penginapan-hotel, kuliner, tempat wisata dan semua ini memberikan manfaat yang cukup mengejutkan bagi aktifitas ekonomi daerah yang secara langsung akan meningkatkan pendapatan daerah yang pada gilirannya akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional sebagai dampak mudik lebaran.

Khusus untuk perjalanan mudik lebaran ke Jawa Tengah  penulis mengikuti dan mencermati aktifitas hiruk pikuknya semua orang yang terlibat dalam mudik lebaran mulai penyiapan kendaraan, kesiapan ban, perlengkapan dalam-luar kendaraan, bahan bakar, masuk jalan toll, rest area, penginapan/hotel, kuliner, hari H, pasca Idul Fitri, perjalanan lanjutan, oleh-oleh sampai saat kembali ke tempat tinggal dirumah masing-masing, akan saya rangkum dalam tulisan ini walaupun tidak rinci sekali namun setidaknya bisa memberikan gambaran bahwa “Nyata mudik lebaran akan menggerakkan ekonomi“ berkait kepada sektor-sektor penting yang berhubungan mulai dari perhubungan-transportasi, perdagangan, pariwisata, UMKM dan tenaga kerja. Tulisan ini akan melengkapi tulisan sebelumnya “Mudik Lebaran akan mengerakkan perekonomian secara dramatis.”

Dinamika Perjalanan Mudik

Perjalanan mudik lebaran (keluarga) dalam rangka silaturahmi keluarga besar orang tua di sebuah kota kecil di Kabupaten Boyolali dan tepatnya di Karanggede yang merupakan salah satu kecamatan di kota tersebut.

Biasanya kami memang pulang mudik untuk sowan Ibu  (Ayah sudah meninggal) untuk setiap lebaran, namun sudah dua tahun ini memang tidak pulang karena ada larangan mudik dari pemerintah karena pandemi covid 19.

Dengan diijinkannya pulang mudik maka seluruh anak yang jumlahnya sebelas keluarga ditambah cucu dan buyut maka berkumpullah semuanya lebih dari 65 orang ditempat itu untuk jangka waktu sedikitnya empat hari lalu meneruskan perjalanan berikutnya ke beberapa obyek wisata sampai dengan menjelang liburan berakhir.

Untuk memberikan gambaran tentang pergerakan ekonomi baik langsung maupun tidak langsung akan dipengaruhi oleh sejumlah transaksi sebelum, selama dan sesudah lebaran diantaranya adalah:

– Transaksi persiapan kendaraan untuk mudik, saya contohkan saya sendiri. Kendaraan yang saya gunakan dipastikan harus sehat mesin sehingga harus service ke bengkel resmi harus keluar biaya tidak kurang dari Rp 2.400.000, kemudian ban harus ganti semua, rata-rata Rp 1.000.000/ban maka perlu pengeluaran Rp 4.000.000 ditambah untuk kenyamanan dan keamanan perlu tambahan asesoris tidak kurang dari Rp 2.100.000, sehingga diperlukan pengeluaran persiapan Rp 7.500.000 untuk satu mobil. Bagaimana kalau dalam keluarga kami sepuluh keluarga? berarti sepuluh mobil, berapa dana yang harus dibutuhkan untuk persiapan mudik?. Apalagi kalau yang mudik berkendara mobil pribadi via jalan tol sebanyak dua puluh tiga juta mobil? Dengan begitu banyak dana yang harus keluar berarti akan terjadi peredaran uang yang cukup besar dari transaksi ini, karena tidak semua menggunakan mobil yang masih tahun anyar.

– Biaya perjalanan yang pasti, bahan bakar rata-rata Rp.500.000 per pemberangkatan dan biaya jalan tol tidak kurang dari Rp.450.000, maka akan terjadi peredaran transaksi tol yang cukup besar. Untuk perjalanan melalui jalan tol terjadi suatu kondisi yang dahsyat tidak diduga sebelumnya yaitu mulai masuk pintu tol sampai sepanjang pintu tol cikampek terjadi kemacetan yang luar biasa, bayangkan saja untuk menuju tol cikampek perlu waktu tiga setengah (3,5) jam ini berarti perlu tambahan biaya bahan bakar dan biaya ketidak nyamanan dan biaya sosial lainnya. Belum lagi ada keluarga yang sehari tinggal di Makasar memerlukan perjalanan melalui pesawat terbang memerlukan biaya tiket untuk empat orang yang cukup besar.

– Biaya kuliner di rest area, dipastikan setiap kendaraan yang lewat di jalan tol setidaknya akan mampir di dua lokasi rest area baik untuk istirahat, sholat dan makan (bagi yang tidak berpuasa atau batal puasa karena musafir). Tidak cukup dengan itu saja karena dipastikan ada jajanan yang dibeli, minuman dan cemilan lain yang akan digunakan untuk oleh-oleh ataupun makanan iseng dijalan sambil menunggu jalan terurai karena macet hampir di sepanjang jalan. Fakta menunjukkan bahwa hampir semua rest area penuh bahkan ada beberapa rest area yang ditutup akses masuknya karena penuh dan ini terjadi baik rest area kanan dan kiri karena semua digunakan satu arah (one way). Bisa dibayangkan perjalanan yang seharusnya ditempuh 5-6 jam menjadi 13-15 jam, apa dampak transaksi perjalanan ini?

– Tempat penginapan dan hotel diperlukan bagi para pemudik karena disamping berada ditempat orang tua atau sanak famili, ada hari yang digunakan untuk sengaja menginap ditempat lain sehingga perlu pengeluaran tambahan untuk beberapa hari di hotel. Seperti yang penulis alami karena membawa bayi yang baru tiga bulan maka sesampainya didekat tujuan harus menginap di hotel untuk jangka waktu empat hari di Salatiga, setidaknya satu kamar untuk si bayi berikut bapak-ibunya, walaupun pada siang harinya kita tetap absen ke rumah Eyang. Bahkan ada beberapa keponakan saya beberapa hari sebelumnya sudah melakukan perjalanan wisata dibeberapa kota yang dilewati secara estafet mulai dari Tegal, Pekalongan, Semarang, Jogya, Solo yang berarti pindah dari satu hotel ke hotel lainnya dan baru menjelang hari H menuju ke titik kumpul akhir keluarga besar. Sebagai sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa mudik lebaran memberikan dampak dramatis terhadap sektor periwisata-perhotelan dapat dicontohkan ditempat kami menginap di Salatiga yaitu kami menyewa kamar hotel bintang empat sebut saja Hotel Wahid yang merupakan salah satu dari empat hotel bintang empat. Tingkat hunian rata-rata pada H-1 adalah hampir 90% demikian halnya untuk hotel lainnya. Dari kamar yang tersedia sebanyak 103 kamar hanya 3 kamar yang kosong berarti 100 kamar terisi. Kamar yang kosong hanya yang President Suite dan VIP, sementara tipe kamar yang lain adalah standar, deluxe dan eksekutif terisi dengan tarif  yang berbeda-beda dengan opsi penawaran dengan breakfast dan non breakfast yang tentu saja akan mengkait kepada harga dan ini tidak lazim karena kamar hotel itu biasanya ada sarapan pagi. Soal tarif jangan ditanya pasti lebih tinggi dari biasanya. Sesuai penjelasan dari Edo manajer piket saat itu soal tarif adalah menggunakan konsep permintaan dan penawaran, ketika permintaan banyak dan penawaran sedikit maka harga akan naik, sehingga yang terjadi adalah harga yang semula untuk tipe Deluxe Rp 600.000  dinaikan 55% menjadi lebih Rp 900.000, sedangkan untuk tipe eksekutif yang semula Rp 900.000 menjadi hampir Rp 1.400.000, sementara untuk President Suite yang semula Rp  3.000.000 menjadi Rp 4.500.000, lebih lanjut Edo menambahkan bahwa sebelumnya tingkat hunian hotel hanya pada kisaran 30 sampai 35%, ini berarti terjadi kenaikan yang mengejutkan .

– Transaksi selama Hari Lebaran, juga terjadi pengeluaran yang tidak sedikit diantaranya makanan buka puasa terakhir, semua makanan khas lokal dibeli ada sate sapi khas karanggede, sate ayam khas beringin sampai makanan cepat saji pizza hut satu meteranpun tersedia, itu semua untuk santapan buka puasa dan makanan untuk malam takbiran. Sementara untuk makanan lebaranpun berbeda yaitu ketupat, opor ayam, sambel goreng ati-krecek, sayur kates, sambel pete plus kerupuk yang disantap dengan kekhasan yang dimiliki dan dilengkapi makanan penutup buah, es campur, puding yang dinikmati selepas sungkeman. Yang paling seru adalah perlu perjuangan dengan antrian yang cukup lumayan untuk tujuh puluh orang. Berapa banyak nilai transaksi untuk menyediakan makanan ini yang kesemuanya dibeli dari ketersediaan di pasar lokal, belum lagi untuk kebutuhan makan berikutnya. Belum selesai aktifitas lebaran biasanya dilanjutkan dengan saweran untuk anak-anak dan yang mau pamit pulang atau melanjutkan perjalanan biasanya memberikan tinggalan sebagai bentuk bakti kepada orang tua yang nilainya bervariasi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan. Hal ini menunjukkan betapa besar transaksi yang menunjang peningkatan perekonomian daerah yang pada gilirannya akan mengkontribusi peningkatan perekonomian nasional.

Pasca Idul Fitri

Biasanya setelah Idul Fitri dirumah Orang Tua sendiri atau Mertua, dilanjutkan dengan silaturahmi ke mertua atau orang tua istri/suami mana yang lebih didahulukan karena memiliki nilai keseimbangan antara orang tua dan mertua. Pada situasi ini juga akan terjadi pengeluaran yang kurang lebih tidak berbeda dengan yang diuraikan sebelumnya, mengingat masing-masing suami dan istri mempunyai kewajiban dan hak yang sama. Dengan demikian akan terjadi perputaran pengeluaran berikutnya mungkin pada daerah yang berbeda.

Perjalanan selanjutnya akan terjadi pada saat menuju kepulangan yaitu wisata didaerah sekitar sebagai bagian dari kebutuhan hidup yaitu mencari kesenangan dan ketenangan. Sebagai contoh dikeluarga kami setelah silaturahmi ada yang melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur  untuk wisata dan daerah lainnya yang sudah direncanakan sebelumnya bahkan ada yang ke Bali untuk beberapa waktu. Pada kegiatan ini juga akan terjadi transaksi yang akan menggerakkan sektor pariwisata daerah setempat tidak saja biaya masuk, penggunaan fasilitas sarana wisata, penginapan dan souvenir yang semuanya akan memiliki nilai kenangan yang akan tercatat dalam memori kehidupan mereka, sementara dari sisi lain disamping pariwisata juga akan menggerakan pelakunya yaitu UMKM berikut tenaga kerjanya.

Kuliner dan Oleh-oleh

Sebagaimana kita tahu bersama bahwa setiap daerah memiliki potensi yang berbeda dan mengandung nilai kekhasan yang bisa digerakkan . Hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa setiap berwisata akan ada ikutannya berupa souvenir yang memiliki nilai kultur dan merupakan kearifan lokal yang menjadi industri kreatif yang memberikan nilai ekknomi. Ikutan lainnya adalah oleh-oleh makanan khas daerah, seperti di Salatiga ada enting-enting gepuk, paru goreng, abon khas Salatiga yang semuanya khas dan jangan khawatir untuk jumlah yang banyak dan takut bagasi kendaraan sudah penuh maka cukup kasih alamat dan akan dikirim melalui ekspedisi logistik yang mungkin akan sampai lebih dahulu demikian halnya untuk kuliner di salatiga ada wedang ronde, tumpang koyor dan sate khas beringin yang semuanya ngangeni (merasakan rindu). Berdasarkan obrolan langsung dengan para pedangang ketika saya tanyakan kondisi sebelum lebaran (PPKM) dan mudik lebaran dia mengatakan “wah sampun kalih tahun tiarap pak mboten saget sadeyan wong nek ndalu dibatesi jam wolu kamongko sadeyan kula ndalu, nek saniki musim mudik lebaran meniko Alhamdullilah saget sadean dugi ndalu pajeng ngantos 150 mangkok” artinya kurang lebih (sebelumnya tidak bisa jualan karena tempat ini dibatesi tutup jam 08.00 malam padahal dia jualan waktu malam hingga lewat dini hari, kalau musim mudik lebaran ini Alhamdulilah bisa jualan malam dan omsetnya sampai 150 mangkok. Hampir semua pedagang yang dijumpai mengatakan hal yang senada. Sekali lagi hal ini menunjukkan betapa banyak nilai transaksi yang dramatis meningkat sampai kepada kaki lima, sehingga nyata kebijakan mudik lebaran mengerakkan ekonomi mulai dari perhubungan, pariwisata dan UMKM serta sektor ikutan lainnya.

Kesimpulan

Dari seluruh uraian yang disampaikan sebelumnya dan dengan sebuah simulasi sederhana dari perjalanan mudik lebaran penulis, maka dapat disampaikan simpulan bahwa ”Nyata ekonomi bergerak dampak kebijakan mudik lebaran”. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya kepadatan yang amat sangat untuk kendaraan yang melalui jalan tol pada H-2 sehingga jarak tempuh yang semula 6 jam menjadi 15 jam dan berimbas kepada rest area yang mengalami kepadatan sehingga banyak rest area yang pintu masuknya ditutup karena penuh pengujung yang memenuhi tempat parkir kendaraan.  Sementara disisi lain didaerah tujuan mudik juga terjadi transaksi yang meningkat secara dramatis di tempat perdagangan, kuliner, hunian hotel, souvenir, pelaku UMKM yang berdampak terhadap meningkatnya perekonomian daerah yang akan bermuara kepada peningkatan perekonomian nasional termasuk sektor-sektornya mulai perhububungan, transportasi, pariwisata, pelaku UMKM dan ikutannya.

Dari kondisi ini bisa jadi perkiraan pemerintah dalam hal ini Kementerian perhubungan yang memprediksi jumlah pemudik delapan puluh lima juta akn terlampaui. Demikian halnya dengan prediksi pemudik lebaran yang menggunakan kendaraan pribadi sebanyak dua puluh tiga juta juga terlampaui yang akan berimbas kepada penerimaan jasa tol yang mengalami panen raya dan meningkat dramatis.

Tentu saja akibat dari itu semua akan berdampak terhadap peredaran uang yang diprediksi Bank Indonesia sebanyak delapan ribu (8.000) trilliun rupiah akan terlampaui. Hal ini dapat dilakukan dengan sebuah perhitungan kasar bahwa setiap pemudik mengeluarkan uang Rp 10 juta saja dikalikan 85 juta pemudik maka jumlah uang yang beredar sudah melampaui yang di prediksi.

Oleh karena kebijakan memberikan ijin mudik lebaran kepada semua lapisan masyarakat adalah cukup tepat dan bijaksana karena sesungguhnya masyarakat sudah bosan dengan batasan-batasan akibat pandemi covid 19 yang cukup lama waktunya.

Semoga momen ini menjadi sebuah pertanda bahwa ekonomi akan bangkit, harga-harga akan stabil, situasi akan menjadi normal, peluang kerja kembali terbuka, UMKM yang terpuruk menjadi tumbuh dan yang paling penting pandemi berakhir.(04051022). [jbm]

Pos terkait