Nyentrik Ketika Akad Nikah

Foto Ilustrasi

Oleh: Mahfud Hidayat

Penyuluh Agama Non PNS, Tinggal di Bogor Jawa Barat

Bacaan Lainnya

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman video berupa kalimat ijab kabul dalam sebuah akad nikah. Video yang berdurasi satu menit 39 detik ini menggambarkan proses ijab kabul antara wali (ayah calon pengantin wanita) dan calon pengantin pria.

Kalimat ijab kabul dengan bahasa Arab. Tidak ada yang ‘aneh’ kecuali ketika kalimat kabul disampaikan oleh calon pengantin pria. Dengan penuh percaya diri dan tenang, pria tersebut membaca basmalah, hamdalah, dan selawat sebelum menyatakan ‘qabiltu nikahaha’ (saya terima nikahnya dan seterusnya). Dalam video tersebut, usai ijab kabul, tampak beberapa ulama yang hadir atau bahkan banyak diantaranya yang diam saat ditanya oleh penghulu, apakah sah?

Jika mengatakan sah, khawatir keliru karena antara ijab dan kabul tidak bersambung, namun terpisah oleh basmalah, hamdalah, dan selawat. Namun jika tidak mengatakan sah, mereka khawatir ada ilmu atau pengetahuan agama dalam hal ini yang belum sempat dikaji. Mereka pun membawa pulang masalah ini sampai pada meja mudzakarah atau ngaji bareng. Sedangkan saksi akad nikah dengan kompak menyatakan akad tersebut hukumnya sah.

Saat mudzakarah inilah, kami menemukan dua pendapat dalam Mazhab Syafi’i tentang permasalahan di atas. Pertama, akad tersebut dihukumi sah. Kalimat pemisah antara ijab dan kabul dengan hamdalah dan selawat Nabi yang diucapkan oleh calon pengantin pria, tidak membatalkan akad. Kalimat tersebut merupakan ‘khutbah’ yang ada hubungannya dengan akad nikah. Seperti halnya tayamum yang dilakukan sebagai pemisah antara dua shalat jamak. Intinya hal tersebut tidak dianggap sebagai pemisah. Pendapat ini dikemukakan oleh Syeikh Abu Hamid Al Asfarayini, Syeikh Al Mahamili, dan Syeikh Ibn Al Shabbag.

Pendapat kedua mengatakan bahwa akad tersebut dihukumi batal atau tidak sah. Baik khutbah ataupun bukan, ketika memisahkan kalimat ijab dari wali dan kalimat kabul dari calon pengantin pria, maka status akad ini tidak bersambung (ittishal). Padahal syaratnya harus bersambung kecuali hanya sekedar menarik nafas atau kondisi lainnya yang masih dapat ditoleransi. Menurut pendapat ini, analogi tayamum yang memisahkan dua shalat jamak yang disamakan dengan khutbah yang memisahkan kalimat ijab dan kabul, adalah tidak relevan. Sebab khutbah dihukumi sunah dan dilakukan sebelum akad, sedangkan tayamum (pengganti air wudu) hukumnya wajib untuk setiap shalat. Namun pendapat kedua ini kami belum menemukan siapa yang mengatakannya.

Dari dua pendapat di atas, mayoritas ulama menurut Imam Al Nawawi dalam kitabnya Raudhah Al Thalibin mengikuti pendapat yang pertama. Demikianlah keterangan dalam kitab Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab oleh Imam Al Nawawi serta kitab Al Bayan fi Madzhab Al Syafi’i oleh Syeikh Abu Husein Al Yamani Al Syafi’i.

Tidak Lumrah Mengundang Fitnah

Sahabat sekaligus guru kami dari daerah yang berbeda menyampaikan bahwa yang kami anggap nyentrik di atas adalah lumrah di kalangannya. Bahkan hal itu termasuk adab. Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Juz 2 menyajikan adab-adab ijab kabul. Antara lain adalah memasukkan kalimat hamdalah dan sholawat sebelum ijab (yang diucapkan wali nikah) dan kalimat yang sama sebelum kabul (yang diucapkan oleh calon suami). Sehingga bagi kalangan di daerah sahabat kami tersebut, justru jika hamdalah dan shalawat diatas dihilangkan sebelum kalimat ijab atau kalimat kabul maka dinilai tidak sesuai dengan adab (etika) ijab kabul.

Meskipun akad ‘nyentrik’ ijab kabul di atas dihukumi sah menurut jumhur ulama Syafi’iyah, bahkan sesuai tuntunan adab, namun bukan berarti saat dipraktikkan di suatu daerah yang tidak lumrah dengan hal tersebut dipandang sebagai hal yang biasa. Sebab hal itu berbeda dengan adat istiadat setempat.

Karenanya kami dalam tulisan ini tidak akan mempersoalkan keabsahan akad di atas. Namun kami ingin melihat dari sisi hukum fikih yang sudah membudaya. Terkadang suatu amalan agama yang dinilai baik oleh masyarakat di suatu daerah, namun karena tidak lumrah dengan pengamalan agama di daerah yang lain, lalu diterapkan di daerah tersebut, maka kerapkali menjadi fitnah.

Dalam sebuah pepatah dikatakan, tarkul ‘adah ‘adawah, menyalahi kebiasaan dapat menyulut permusuhan. Misalnya kebiasaan di suatu daerah dengan dua kali azan sebelum shalat Jumat, kemudian kita menyalahinya dengan satu kali azan. Meskipun sama-sama sah secara hukum fikih, namun sikap tersebut dapat menimbulkan polemik. Begitu pula dengan masalah furuiyah lainnya seperti qunut Subuh, tahlilan, ziarah kubur menjelang Ramadan dan sebagainya. Ketika itu sudah mengakar di masyarakat, kemudian kita mengamalkan amaliah yang berbeda atau bertolakbelakang dengan kebiasaan tersebut, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya fitnah.

Pepatah lain mengatakan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya sangat bijak jika kita mengikuti tradisi yang berlaku di tempat kita berada. Pun dalam masalah akad ijab kabul yang diawali dengan hamdalah dan shalawat. Di suatu daerah yang biasa langsung  dalam ijab kabul, tanpa dipisah oleh kalimat yang lain, praktik di atas dinilai sebagai hal yang aneh dan nyentrik. Bahkan bagi kalangan tertentu, praktik tersebut membatalkan keabsahan akad ijab kabul, karena tidak ittishal.

Memang betul, hal itu dikarenakan ketidaktahuan masyarakat di wilayah tersebut. Namun lebih alangkah bijaknya jika amaliah di atas tidak dipraktikkan kecuali di tempat yang sudah lumrah melakukannya. Semata-mata untuk menghindari munculnya fitnah. Wallahu a’lam. []

Pos terkait