Pandemi Corona Bikin Rupiah Semakin Meriang

Foto : CRFR

Oleh Cut Ricky Firsta Rijaya

*) Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmuha Aceh| Kabid Sosial Dan Pemberdayaan Masyarakat DPD IMM Aceh.

Bacaan Lainnya

Pandemi wabah virus corona kini merebak kemana – mana, bukan hanya menyerang kekebalan tubuh manusia, namun virus ini sudah menyerang perekonomian di Indonesia. Salah satu dampaknya adalah hari ini (18/03/2020) nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS tembus 15.400 per 1 Dollar AS.

Pemerintah Indonesia mencatat, kasus covid 19 (corona) di Indonesia pada hari ini (18/3/2020) sudah menyentuh angka 227 kasus positif corona di Indonesia dan 19 orang meninggal dunia.

Secara tidak langsung, adanya persebaran corona yang kian masif ini pasti akan beedampak kepada adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Salah satu dampak dari pelemahan dan pelambatan ekonomi ini menyebabkan pergerakan rupiah saat ini semakin melemah.

Tanpa disadari, melemahnya rupiah akan berdampak pada perekonomian Indonesia contohnya saja seperti naiknya harga impor sehingga akan berdampak kepada melambungnya harga – harga kebutuhan di dalam negeri.

Kemudian salah satu masalah semakin mahalnya harga dollar terhadap rupiah adalah beban hutang pemerintah yang semakin tinggi.

Kita masih belum tahu, kapan pandemi corona di Indonesia ini kapan ia akan berakhir. Pemangku kebijakan seperti Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Gubernur BI harus segera mengambil kebijakan agar rupiah semakin tidak melemah.

Untuk menguatkan opini penulis juga mengutif pernyataan dari ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal yang penulis kutip dari CNN Indonesia, Fithra Faisal menilai pelemahan rupiah terhadap Dollar AS bakal meningkatkan hutang – hutang negara dan perusahaan – perusahaan didalam negeri,

ia juga melihat trend pelemahan rupiah ini juga akibat kurangnya optimalisasi penanganan virus corona dari dalam negeri.

Kalau pemerintah tidak segera mengambil kebijakan untuk menguatkan rupiah, penulis yakin bahwa rupiah semakin melemah hari ke hari akibat adanya sentimen negatif terhadap pasar di Indonesia. Nah!

Pos terkait