Perbedaan Jangan Dianggap Sebuah Perpecahan

Foto Dok. Dr. Basuki Ranto

Oleh: DR. Basuki Ranto

Perbedaan penetapan Idul Adha 1443 H yang terjadi dikarenakan adanya penggunaan methode perhitungan yang berbeda. Muhammadiyah dalam menetapkan Waktu Idul Adha berdasarkan kepada metode Hisab Mutlak, sementara NU menggunakan methode Rukyah sedangkan Pemerintah menggunakan kedua methode tetapi dengan titik yang berbeda. Akibat methode yang berbeda maka hasilnyapun akan berbeda dan itulah yang terjadi pada Idul Adha tahun ini.

Bacaan Lainnya

Oleh karenanya jangan dipandang perbedaan ini sebagai sebuah kondisi tidak bersatu atau sebuah perpecahan antara satu kelompok dengan kelompok lain misalnya antara Muhammadiyah dengan NU, padahal semuanya Umat Islam.

Perbedaan yang terjadi bukan sesuatu yang diskenariokan agar memperoleh simpati, namun masing-masing mempunyai dasar hukum yang dianut dan menggunakan konsep keilmuan.

Bagi masyarakat dalam hal ini umat Islam pada umumnya bisa memahami perbedaan ini dengan latar belakang pengetahuan yang memadai, namun ada sebagian yang masih saja menganggap bahwa perbedaan ini sebuah kondisi yang mencerminkan kurangnya kebersamaan.

Dalam Islam perbedaan adalah rahmat, oleh karena itu perlu kita syukuri.

Dalam sudut pandang  lain perbedaan itu justru akan menjadi indah dan cerminan adanya dinamika untuk saling membantu guna mewujudkan kebersamaan. Bukankah pelangi yang berwarna-warni  dilangit biru itu menggambarkan sebuah keindahan, sehingga diabadikan dalam sebuah lagu yang diciptakan oleh AT Mahmud. Coba simak syair lagu tersebut : ”pelangi-pelangi; alangkah indahmu; merah-kuning-hijau; dilangit yang biru; pelukismu agung; siapa gerangan; pelangi-pelangi ; ciptaan Tuhan”.

Oleh karenanya diperlukan sebuah sikap yang sama karena perbedaan adalah sesuatu yang biasa dan sering terjadi.

Sesungguhnya yang lebih penting dalam Idul Adha ini jangan melihat perbedaan waktu sholat Idul Adha dan qurbannya, akan tetapi yang lebih penting adalah semangat dalam memahami hakikat Qurban dan semangat dalam meneladani keihklasan Nabi Ibrahim AS dan ketaatannya dalam melaksanakan Perintah Allah SWT.

Bagi yang memiliki keyakinan lain diharapkan sikap saling menghormati dan menghargai kepercayaan masing-masing dengan tetap mempertahankan prinsip “lakum dinukum waliyadin yang artinya “Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (QS al-Kafirun : 6).

Kesimpulan

Dari beberapa uraian yang disampaikan sebelumnya maka dapat disimpulkan:

Pertama, bahwa perbedaan waktu sholat Idul Adha sudah sering terjadi dikalangan umat Islam di tanah air, demikian halnya waktu Sholat Idul Fitri juga sering terjadi.

Kedua, Perbedaan terjadi karena methode  yang digunakan berbeda yaitu Hisab dan Rukyah serta dalam hal lain juga membandingkan waktu di Arab Saudi saat melakukan Wukuf di Arofah. Sehingga karena methode yang berbeda hasilnyapun akan berbeda.

Ketiga, hendaknya perbedaan ini tidak dianggap sebagai sebuah perpecahan atau tidak ada nya persatuan, namun jadikan perbedaan ini sebagai sesuatu yang indah.

Keempat, untuk menghilangkan kesan yang kurang baik, sudah saatnya disepakati satu kata agar menghasilkan sesuatu yang sama.

Kelima, prinsip saling menghormati, menghargai antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain dengan tetap memperhatikan perintah ”untukmu agamamu, untukku agamaku” .

Semoga umat semakin cerdas dan umaroh juga semakin bijaksana, sehingga kondisi seperti ini tidak terus berulang dan menjadi kegelisahan di masyarakat. (@br-08072022). [jbm]

Pos terkait