Perlunya Menghitung Kembali BEP Akibat BBM Subsidi Naik

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen Pascasarjana Universitas Suropati

Bacaan Lainnya

Dalam bisnis diperlukan sebuah alat pendekatan manajemen dalam rangka perencanaan laba  (profit planning) terkait kepada : volume, harga, biaya, beban dan keuntungan. Sehingga dapat diketahui strategi yang harus dilakukan untuk mengeksekusi tujuan yang hendak dicapai perusahaan apapun bidang kegiatan usaha pokok (core bussines), baik perdagangan, industri maupun jasa lainnya.

Salah satu alat pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan menghitung Break Event Point (BEP), selain pendekatan analisa lainnya yang dapat dilakukan dalam bisnis.

Menghitung kembali BEP akibat BBM bersubsidi naik menjadi penting, mengingat dampaknya terhadap kenaikan beberapa  komponen biaya secara berantai dan akan mempengaruhi strategi perencanaan. Hal tersebut perlu dilakukan karena akan berkait dengan penetapan harga jual, volume, biaya harga pokok, beban operasional dan tingkat laba (profit).

Sekilas tentang BEP

Pemahaman sederhana BEP adalah suatu kondisi ketika hasil penjualan (pendapatan) hanya cukup untuk menutup biaya dan beban sehingga tidak laba dan tidak rugi alias keuntungan sama dengan nol.

Dalam praktek keseharian, BEP seringkali disebut dengan titik impas, balik modal atau Bak-Buk (bahasa Jawa). Break even point atau BEP adalah istilah yang tentu sudah tak asing lagi. BEP seringkali jadi tolak ukur seseorang untuk berinvestasi maupun memulai bisnis.

BEP dalam kaitannya dengan strategi dapat dianalogikan dengan _trafficligh strategic yaitu digambarkan dalam lampu kuning yaitu memberikan sinyal hati-hati, karena ketika dalam dimensi waktu lampu kuning harus aman dan selamat karena pada gilirannya akan masuk lampu merah. Namun pada pembahasan kali ini hanya fokus dilampu kuning dan yang lain akan dibahas kemudian secara series.

Agar BEP dapat dijadikan sebuah pendekatan dan analisa maka diperlukan pra-syarat sesuai dengan kaidah akuntansi diantaranya adalah;

(1) Biaya hanya dikelompokkan dalam dua golongan biaya yaitu: Biaya berubah (variable cost)_yang berubah-ubah dalam naik, turun dan konstan bergantung kepada aktifitas yang dilakukan. Sedangkan berikutnya adalah Biaya Tetap _(fixed cost) yaitu biaya yang pengeluarannya senantiasa tetap sama tanpa dipengaruhi kegiatan dalam arti kegiatan naik, turun atau tidak ada aktifitas sama sekali biaya yang dikeluarkan tetap sama dan sebaliknya ketika aktifitas tinggi biayanya pun tetap sama.

(2) Harga diasumsikan relatif stabil untuk kurun waktu tertentu relatif panjang.

(3) Biaya hanya digolongkan menjadi dua golongan yaitu biaya variabel dan biaya tetap.

(4) BEP hanya digunakan untuk satu jenis produk dan jasa, apabila lebih dari satu atau beberapa jenis maka digunakan bauran  produk atau bauran pemasaran _(product or marketing mix).

Oleh karena itu ketika data biaya belum digolongkan menjadi dua yaitu variabel dan tetap maka harus terlebih dahulu disaji ulang kedalam  dua golongan dimaksud. Hal ini bukan sesuatu yang sulit karena sudah ada karakteristik biayanya. Sebagai sebuah ilustrasi yang termasuk dalam biaya variabel diantaranya: bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan overhead. Sedangkan yang termasuk biaya tetap diantaranya: gaji pegawai, sewa tetap, depresiasi, dan biaya yang sifatnya tetap lainnya.

Cara Menghitung BEP

Pada dasarnya BEP dapat dihitung dalam satuan Uang (Rupiah, USD, Yuro, Ringgit dan Mata Uang lain) dan dalam Satuan Unit serta dapat digambarkan dalam bentuk grafik.

Untuk menghitung BEP harus ada unsur-unsur: Harga jual per unit atau Total Penjualan; Biaya Variabel dan Biaya Tetap, karena unsur-unsur yang akan dilibatkan dalam formulasi perhitungan BEP, dengan formulasi perhitungan sebagai berikut:

  1. BEP dalam satuan mata uang dihitung dengan formulasi: Biaya tetap (fixed cost) dibagi dengan kontribusi margin ratio _(CMR). Sementara CMR bisa dihitung dengan membandingkan: Penjualan dikurang biaya variabel dibagi penjualan.
  2. BEP dalam satuan Unit atau Volume dapat dihitung dengan formulasi: Biaya Tetap dibagi harga jual per unit dikurang biaya variabel per unit (FC/Harga jual per unit – Biaya Variabel per unit, Atau dengan formulasi lain: Biaya Tetap dibagi dengan CMR per unit).
  3. Dalam gambaran grafik: BEP akan terjadi pada saat titik potong antara garis total penjualan (sales line) dengan garis total biaya (total cost line). Akan tetapi perlu diingat karena sifat dari biaya tetap yang pengeluarannya senantiasa tetap sama, maka garis total biaya ditarik dari titik biaya tetap sementara garis penjualan ditarik dari titik nol. Titik BEP tersebut kalau ditarik garis vertical dan horizontal akan terlihat pada BEP satuan mata uang dan BEP dalam Unit atau satuan volume.
  4. Apabila dilakukan rekonsiliasi angka BEP tersebut dengan perhitungan laba-rugi (statement of income) pola variabel costing, maka laba (profit) yang dihasilkan sama dengan nol atau impas, pulang pokok/modal atau Bak-Buk.

Agar dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai perhitungan BEP diperlukan simulasi contoh dalam angka perhitungan, sehingga memerlukan pembahasan sendiri secara khusus.

Konklusi

Dari beberapa uraian sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, maka dapat diambil sebuah konklusi sebagai berikut:

Pertama: Diperlukan menghitung BEP akibat naiknya BBM bersubsidi yang memberikan komponen barang dan jasa menjadi ikut naik. Hal tersebut diperlukan terkait dengan kebutuhan perencanaan laba (profit planning strategy) mulai harga jual, volume, harga pokok dan laba untuk entitas bisnis baik perdagangan, manufaktur maupun jasa.

Kedua: Melalui BEP Perusahaan bisa menentukan kapasitas produksi agar bisa mencapai keuntungan yang diharapkan dan sekaligus apa dengan kapasitas tersebut diperlukan investasi.

Ketiga: Dengan pendekatan BEP  perusahaan bisa melakukan langkah-langkah efisiensi yang perlu dilakukan untuk menekan harga pokok sehingga mampu menjadi pemimpin biaya (cost leadership) dan menjadi keunggulan karena efisiensi.

Keempat: Dengan BEP dapat diketahui perubahan harga jual, biaya, dan volume produksi, sehingga mampu menentukan tingkat keuntungan yang akan dicapai.

Kelima: Dengan BEP perusahaan bisa mendapatkan informasi untuk proses pengambilan keputusan dan dijadikan sebagai pagu ukur (benchmarking) untuk strategi lanjutan.(19092022@br) [jbm]

Pos terkait