Qaulan Layina : Kata Yang Lemah lembut

  • Whatsapp
Foto Ilustrasi

Bagian ke Empat

Oleh: Karyadi el-Mahfudz, S.Th.I, MA

Bacaan Lainnya

Menurut KH Musthofa Bisri atau Gus Mus menatakan, dakwah berarti mengajak. Bukan memerintah, menakut-nakuti apalagi marah-marah. Ayat yang dipakai untuk berdakwah yakni Ud’u ila sabili robbika bil hikmah wal mau’idhotil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan inna robbaka huwa a’lamu bi man dholla ‘an sabilih wa huwa a’lamu bil muhtadin.

Artinya, “Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan  hikmah dan tutur  yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl ayat 125).

Berbeda dengan ayat amar makruf nahi munkar. Dari segi bahasa saja kedua terma itu (dakwah dan amar makruf nahi munkar) sudah berbeda. Dakwah itu mengajak, sementara amar itu perintah, nahi itu melarang.

Jadi, berdakwah dulu baru amar makruf nahi munkar. Amar makruf  nahi munkar pun ada tingkatannya. Yang pertama dengan perbuatan. Kedua, dengan lisan dan terakhir dengan menggunakan hati. Perlu digaris bawahi bila amar makruf nahi munkar harusnya juga bil makruf (dengan kebaikan). Karena amar makruf nahi mungkar merupakan manifestasi kasih sayang terhadap sesama.

Selain itu, Gus Mus mengibaratkan bahwa berdakwah hendaknya selayaknya seperti calo bus di terminal. Untuk siapa ajakan calo? tentu untuk orang-orang yang belum naik bus. Dengan apa calo mengajak? Dengan rayuan dan kata-kata yang indah.

Dakwah dengan penyampaian yang penuh kelembutan yang kita kenal dengan ‘qaulan layyina’ harus terprogram dengan baik, fase demi fase kehidupan yang beranjak dari individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Performance individu harus diasah dengan kepekaan qalbu, harus ada nilai-nilai ilahiyah yang mengilhami setiap tutur kata kita, apapun latar belakang profesi kita, pendekatan humanis lebih efektif tingkat keberhasilannya.

Keluarga juga menjadi icon yang ga kalah urgent, jika suasana keruh, maka akan mengganggu fokus dakwah kita, bahkan menata keluarga bagian dari cerminan keberhasilan medan dakwah kita, bukankah kita diperintahkan, ‘jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka,’ (at-Tahrim : 6 ) maka sejauh mana ikhtiar kita membina keharmonisan rumah tangga ? Tentu kitalah yang lebih mengetahuinya.

Kita lihat bagimana dakwah Nabi Musa melalui firman Allah ;

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 44).

Qaulan layyina yakni penyampaian pesan yang lemah lembut dengan suara yang enak didengar, lunak, tidak memvonis, mengingatkan tentang sesuatu yang disepakati seperti kematian, dan memanggilnya dengan panggilan yang disukai, penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

Apapun konteksnya jika penyampaiannya penuh kelembutan akan berhasil, Islam mengajarkan merangkul bukan memukul, Islam mengajarkan mengapresiasi bukan memaki.

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita yang disampaikan.

Nabi Muhammad SAW. mencontohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman.

Banyak diantara kita belum mampu mengajarkan dakwah ala Rasulullah, yang mengispirasi dalam setiap moment, ditata dengan penuh kebijaksanaan, yang membawa wajah Islam penuh rahmatallilalamin, bukan ? []

Pos terkait