Restrukturisasi Utang untuk Penguatan Bisnis

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Dosen STIE Mulia Pratama

Bacaan Lainnya

Pandemi Covid 19 yang terjadi  beberapa tahun belakangan ini, berdampak terhadap aktivitas perekonomian secara  signifikan, berakibat pula kegiatan bisnis yang hampir terhenti. Tak dapat dipungkiri hal tersebut mengakibatkan banyak perusahaan yang menghentikan operasi yang berakhir dengan tidak dapat membayar utangnya atau mengalami kredit macet. Akibatnya, beberapa perusahaan kemudian mengajukan restrukturisasi utang kepada kreditur dengan harapan adanya pengurangan utang yang menguntungkan kedua belah pihak.

Sejak awal 2022 kondisi pandemi covid sudah menurun sehingga aktivitas bisnis sudah mulai  bergerak namun masih pada fase memulai kembali dan masuk pada kondisi pemulihan (recovery), sehingga beban bunga dan angsuran pokok terhadap utang  kepada bank maupun pihak ketiga lainnya masih berat, sehingga diperlukan restrukturisasi utang melalui penjadwalan kembali pembayaran pinjaman pokok dan beban bunga.

Restrukturisasi utang bukanlah perkara mudah, karena hal ini akan berpengaruh terhadap keseluruhan kegiatan perusahaan kedepannya. Dengan demikian dalam menyusun restrukturisasi utang, perusahaan perlu memiliki strategi dilihat baik dari aspek bisnis maupun aspek hukum yang perlu dipersiapkan dalam restrukturisasi utang tersebut.

Dari aspek bisnis diperlukan suatu gambaran tentang prospek bisnis jangka pendek-menengah & panjang yang digambarkan dalam financial proyection yang mampu menggambarkan kemampuan menghasilkan laba yang tercemin dalam Income statement (perhitungan laba rugi).

Dari aspek hukum tentu akan berkait kepada substansi materi yang akan dituang dalam kotrak restrukturisasi, sehingga dapat digunakan pedoman berkait kepada landasan hukum dan bentuk lainnya.

Langkah-langkah Restrukturisasi Utang

Restrukturisasi utang pada dasarnya adalah peninjauan kembali akan utang dalam rangka memperbaiki kondisi keuangan dengan cara mengatur kembali utang-utangnya dengan mengajukan syarat-syarat dan kondisi-kondisi tertentu yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Restrukturisasi sendiri dapat dilakukan baik secara litigasi (di dalam pengadilan) atau yang dikenal sebagai penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) maupun melalui non litigasi (di luar pengadilan) dengan cara negosiasi antar para pihak.

Untuk melakukan restrukturisasi utang diperlukan pertemuan antara peminjam dengan bank pemberi pinjaman untuk membicarakan berbagai hal terkait dengan keinginan restruturisasi, tujuan, jangka waktu perpanjangan, kemampuan mengangsur, suku bunga restruturisasi, pemotongan (hair cut) bunga terutang, penangguhan beban bunga terutang (interest baloning payment) dan masalah prinsip lainnya.

Metode yang digunakan dalam restrukturisasi utang bisa dilakukan dengan empat metode restrukturisasi utang yang sering digunakan oleh debitur, diantaranya :

(1) Rescheduling yaitu metode perpanjangan waktu atau penjadwalan kembali terhadap utang debitur dengan cara mengubah jangka waktu pelunasan.

(2) Hair Cut yaitu pemberian potongan atas pembayaran bunga dan/atau utang.

(3) Debt to Asset Swap yang merupakan pengalihan aset milik debitur sementara hingga aset tersebut dibeli oleh pihak lain dan hasilnya digunakan untuk melunasi utang debitur.

(4) Debt to Equity Swap yang dilakukan dengan cara mengubah utang menjadi bagian modal.

Langkah pertama yang harus dilakukan tentu saja prinsip kesepakatan baik jenis maupun methode yang dipilih.

Langkah kedua adalah hal yang terkait sengan aspek hukum restrukturisasi utamanya aspek hukum yang harus diperhatikan serta strategi-strategi dalam menyusun restrukturisasi utang perusahaan. Apabila semua sudah diperoleh kesepakatan prinsip maka melibatkan Notaris untuk menyusun kontrak restrukturisasi.

Langkah selanjutnya dilakukan penandatanganan perjanjian restrukturisasi sesuai dengan prinsip kesepakatan dan yang pasti akan lebih ringan baik kuantitas maupun kualitas sisi persyaratan.

Setelah penandatangan restrukturisasi maka kedua belah pihak yaitu perusahaan yang meminjam maupun bank pemberi pinjaman tentu berada pada posisi yang lebih, disatu sisi peminjam tentu akan lebih fokus dalam mengembangkan usahanya tanpa dibebani angsuran pokok dan bunga yang memberatkan, sehingga returnnya untuk penguatan modal. Disisi lain dari pihak pemberi pinjaman statusnya menjadi hijau yang semula utang bermasalah akan berubah menjadi terjadwal.

Dengan melakukan restrukturisasi utang maka perusahaan pasca-pandemi akan fokus pada langkah pemulihan menuju penguatan bisnis.

Kesimpulan

Dari beberapa uraian sebagaimana disampaikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama : Restrukturisasi Utang merupakan strategi untuk memperkuat bisnis pasca pandemi covid 19 yang berdampak pada melemahnya bisnis dan beban utang yang terakumulasi yang akan membebani.

Kedua : Melalui restrukturisasi maka beban utang bisa lebih ringan sehingga return yang dihasilkan akan digunakan untuk memperkuat bisnis, sekalipun kewajiban membayar utang terus berjalan namun memiliki keterjangkauan dan tidak memberatkan.

Ketiga : Memperpanjang jangka waktu akan meringankan beban apalagi ada penurunan suku bunga karena restrukturisasi akan mengakibatkan angsuran periode berjalan memiliki keterjangkauan.

Keempat : Kebijakan hair cut akan memberikan kontribusi pendapatan internal dan juga akan menguatkan, apalagi bunga terutang setelah ada hair cut bisa ditarik beberapa tahun kebelakang setelah bisnis kuat, tidak akan menimbulkan beban yang berat.

Kelima : Melalui restrukturisasi akan berdampak positif baik peminjam maupun pemberi pinjaman. Bagi peminjam akan membangun tingkat kepercayaan baru kalau semula kesannya sebagai penunggak maka akan berubah menjadi komitmen. Bagi pemberi pinjaman kalau sebelumnya menjadi utang bermasalah (NPL) akan kembali menjadi utang yang lancar karena restrukturisasi.

Tentu masih banyak strategi yang bisa dilakukan dalam penguatan bisnis pasca pandemi covid 19, baik melalui reorientasi core bisnis, reorganisasi, dan restrukturisasi permodalan serta kerjasama dengan pihak lain melalui colaborasi, coopetisi, maupun merger yang akan membawa dampak penguatan.(04112022@br) [jbm]

Pos terkait