Sebagai Wisatawan-pun UAS di Deportasi

Foto Dokumentasi

Oleh: DR. Basuki Ranto

Ustadz Abdul Somad yang selanjutnya disebut UAS, siapa yang tidak kenal UAS seorang pendakwah kondang  yang dalam tablighnya senantiasa mengajak kita kepada kebaikan-kebenaran dan melawan kemungkaran-kebatilan (Amar mahrub nahi munkar). Dalam ceramahnya selalu berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadist sesuai dengan kapabilitasnya dia sebagai ahli tafsir. Dengan kompetensinya, beliau lulusan Al-Azhar dan Mesir, beliau mendapat gelar Doktor dan Visiting Profesor dalam usia yang relatif masih muda.

Bacaan Lainnya

Sebuah kondisi yang tidak diperkirakan sebelumnya, ketika dia mau melakukan perjalanan ke Singapura setiba dipulangkan (deportasi) tidak boleh masuk oleh otoritas Bandara tanpa alasan dan penjelasan yang bisa dipahami oleh UAS . Kejadian ini berlangsung pada tanggal 16 Mei 2022 pada saat UAS beserta istri dan anak bayinya dan saat bersamaan juga ikut sahabatnya beserta istri dan anaknya berangkat dari Batam menuju Singapura.

Menurut keterangan UAS melalui chanel Youtube menjelaskan bahwa kepergian UAS dan keluarga bersama sahabat dan kekuarganya menuju Singapura untuk tujuan wisata kebetulan hari libur saat itu untuk sekedar refreshing ke negara tetangga tersebut. Ditegaskan oleh UAS bahwa kepergiannya ke Singapura tidak untuk berdakwah atau tausiah, namun betul-betul untuk wisata dan akan membawa devisa bagi Negara Singapura berapapun besarnya.

Dari sisi persyaratan administrasi semua lengkap sesuai ketentuan yang berlaku, tetapi entah kenapa kok UAS tidak boleh masuk ke Negara Singapura.

Sekali lagi UAS sendiri menegaskan dia dan rombongannya ke Singapura bukan untuk acara pengajian atau tabliq akbar, melainkan untuk berlibur.

Dia mengaku tidak mendapat penjelasan dari otoritas Singapura yang menolaknya masuk. Situasi itulah yang membuatnya menuntut penjelasan dari Singapura, dan yang pasti UAS bukan teroris, atau karena ISIS dan tidak pula membawa narkoba, sehingga sesungguhnya alasan Itu mesti dijelaskan.

Sudah barang tentu Perlakuan yang dialami Ustadz Abdul Somad juga mengundang kritik keras dari kalangan netizen, sampai anggota DPR Fadli Zon, yang dalam  akun di Twitternya menyebut Penolakan pemerintah Singapura atas penceramah populer UAS ke negeri mereka 16 Mei lalu mendapat sorotan masyarakat dan reaksi beragam dari sejumlah pihak.

Penjelasan Pemerintah Singapura

Menurut penjelasan Pemerintah  Singapura melalui Kementerian Dalam Negeri memaparkan alasan mengapa UAS dan rombongan perjalanannya ditolak masuk, salah satunya karena dia “dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura”.

Selanjutnya Kemendagri Singapura menjelaskan, Pemerintah Singapura membuat komentar bahwa UAS merendahkan anggota komunitas agama lain, seperti Kristen dengan menggambarkan salib Kristen sebagai tempat tinggal “jin (roh/setan) kafir”.

“Selain itu, Somad secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai “kafir” (kafir).”

Sementara itu Ustadz Abdul Somad diklaim Singapura berusaha memasuki negara itu dengan pura-pura untuk kunjungan sosial.

“Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi.”

Sekilas Ajaran Ekstremis dan Segregasi

Secara bahasa arti segregasi adalah praktik atau kebijakan pemisahan kelompok orang berdasarkan, agama, dan lain-lain, seperti dikutip dari laman kamus Merriam-Webster.

Lebih lanjut segregasi dapat diartikan menurut beberapa sisi yaitu : proses, tujuan, genetika, interaksi sosial. Dari sisi proses segregasi diartikan suatu proses memisahkan diri dalam kondisi yang terpisah.

Berdasarkan tujuan, segregasi dapat berarti pemisahan atau pengasingan kelompok ras, kelas, atau suku dengan secara paksa atau sukarela di daerah tertentu yang terkendala dengan sikap diskriminatif seperti hambatan untuk berhubungan sosial, atau fasilitas yang dipisah.

Segregasi dalam genetika adalah pemisahan gen alelik yang terjadi biasanya selama meiosis. Segregasi merupakan hukum pertama dari Hukum Pewarisan Mendel, yaitu hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme dalam percobaan persilangan tanaman oleh ahli botani Gregor Johann Mendel.

Segregasi dari sisi interaksi sosial adalah upaya saling memisahkan diri atau saling menghindar di antara pihak-pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan.

Sementara Ekstremis atau Ekstremisme secara harfiah artinya “kualitas atau keadaan yang menjadi ekstrem” atau “advokasi ukuran atau pandangan ekstrem”.

Saat ini, istilah tersebut banyak dipakai dalam esensi politik atau agama, yang merujuk kepada ideologi yang dianggap berada jauh di luar sikap masyarakat pada umumnya, dikutip dari Wikipedia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata ekstremis adalah orang yang ekstrem. Arti lainnya dari ekstremis adalah orang yang melampaui batas kebiasaan (hukum dan sebagainya) dalam membela atau menuntut sesuatu.

Dari uraian terkait dengan uraian tentang segregasi dan ekstremis tersebut, lebih lanjut perlu diindentifikasi apakah pada diri UAS baik secara personal individu maupun dalam kapasitasnya sebagai Ustadz atau Da’i UAS memiliki sikap seperti itu bahkan ada tuduhan UAS berpura-pura sebagai wisatawan lalu akan melakukankan Da’wah disana sehingga dilarang?

Sepanjang yang kita ikuti dari tausiah yang dilakukan di tanah air tidak pernah ada maksud memecah belah atau memisahkan diri dengan kelompok lain. Justru yang dilakukan adalah mempersatukan umat dan mengajak untuk bersama-sama melakukan amalan yang mengandung nilai yang baik dalam keaneka ragaman baik suku maupun agama. Bukankah dia selalu mengajak dalam kebaikan dengan menjunjung tinggi prinsip amar mahruf nahi munkar? Dia selalu melarang untuk sebuah permusuhan atau perpecahan, mengajak menjaga persatuan dan senantiasa merujuk kepada Al-Qur’an dan hadist pada setiap syiar yang dilakukannya, karena sesungguhnya agama Islam ini agama yang akan memberikan Rahmat kepada semua manusia.

Lalu tindakan segregasi apa yang dia lakukan, sementara dia menyampaikan sesuatu yang intinya mengajak kepada kebenaran, tidak bermusuhan dan saling menghormati sesama.

Sementara itu terkait dengan ekstrimesme seorang UAS yang seperti apa yang melekat pada dirinya sehingga dia disebut seorang ekstrimis. Dalam menyampaikan tausiahnya dia senantiasa menggunakan bahasa yang halus dengan menggunakan kata-kata yang baik tidak kasar bahkan dalam menyampaikan tausiah dengan santun. UAS bisa menyesuaikan diri dengan audien, ketika dia bicara dengan orang jawa bisa melempar bahasa jawa, dengan orang melayu menggunakan budaya melayu, dengan orang Padang menggunakan bahasa padang pokoknya begitu fleksibel. Intonasinya juga datar tidak meledak-ledak keras, provokatif, lalu ekstrimis seperti apa yang melekat pada diri UAS? Hal yang selalu disampaikan sekali lagi bahwa Islam adalah agama rahmatan lilalamin yaitu memberikan rahmat bagi seluruh alam sehingga akan jauh dari sikap  segregasi dan ekstrimis.

Perlu Sikap yang Adil dari Pemerintah

Melihat kejadian seperti ini kiranya diperlukan sikap yang adil dari Pemerintah Indonesia, mengingat kejadian ini sudah berulang dimana UAS terakhir dilarang masuk ke Singapura. Hal ini menjadi penting untuk memberikan jaminan kepada warga kita dalam melaksanakan aktifitasnya secara bebas dan aman.

Disatu sisi diperlukan konfirmasi dan klarifiksi dengan pemerintah Singapura terkait dengan larangan masuk UAS ke Singapura. Selain itu juga meyakinkan bahwa tujuan UAS ke Singapura betul-betul melaksanakan wisata dengan keluarga dan tidak ada tujuan untuk melakukan tausiah di negara tersebut dengan melakukan tindakan berpura-pura seperti disampaikan Pemerintah Singapura melalui Kementerian Dalam Negeri Singapura. Penjelasan UAS  tentang tujuan kepergiannya ke Singapura  seharusnya cukup dipercaya  karena kecil kemungkinannya UAS melakukan tindakan berpura-pura sementara UAS seorang Ustadz tentu memiliki kejujuran Akhlaq yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sementara disisi lain pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama dan pihak yang terkait lainnya perlu memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada UAS tentang permasalahan yang sesungguhnya terjadi dan penyebab dilarangnya UAS ke Singapura. Sikap perlindungan dan pembelaan kepada UAS selaku warga negara yang akan menjalankan hak-hak perlu mendapat perhatian. Sehingga terhilang kesan yang selama ini terstigma kepada para ulama, Da’i, Ustadz seolah dimusuhi dan dihambat hak-haknya akan terkikis hilang dan menjadikan suasana menjadi teduh. Sesungguhnya seorang Ustadz seperti UAS menjadi Asset Bangsa karena kemampuan intelektual dan agama yang dimiliki sangat berguna dan kena dihati umat.

Pernyataan Staf khusus Menteri Agama yang mengatakan, “ada yang  bisa diambil sebagai pelajaran dari insiden ini”  juga perlu dijelaskan lebih lanjut agar masyarakat mengerti maksudnya, walaupun Staf khusus Menteri Agama RI, Ishfah Abidal Aziz, mengatakan makna yang  dipetik dari peristiwa itu adalah penceramah agama “perlu menjaga dan berhati-hati dalam hal melakukan kegiatan keagamaan, atau menyampaikan pandangan-pandangan keagamaan, utamanya terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Dia mengungkapkan Kementerian Agama sudah memiliki program penguatan kapasitas dan kompetensi penceramah agama, sehingga mereka diharapkan “bukan hanya bicara soal narasi-narasi keagamaan, tapi juga harus diselaraskan dengan komitmen kebangsaan”, namun dalam konteks kejadian terhadap UAS perlu kejelasan secara spesifik.

Banyak kalangan yang mengharap Pemerintah untuk bersikap tegas kepada Pemerintah Singapura atas kejadian ini yaitu terkait kepada tindakan protektif atas tindakan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga kejadian seperti ini tidak berulang lagi kepada UAS dan warga yang lain.

Kesimpulan

Kejadian yang dialami UAS adalah merupakan peristiwa yang luar biasa (extra ordinary), dikarenakan sesuatu yang tidak terkira sebelumnya dan sebuah pertanyaan besar bagi UAS yang memerlukan klarifikasi dan penjelasan yang terang melegakan, tidak saja bagi UAS sendiri tapi bagi banyak kalangan terutama umat Islam.

Betapa tidak, karena secara figur personality UAS sebagai tokoh panutan dan Ustadz yang cukup terkenal dikalangan Umat dan Tausiahnya memberikan pencerahan dan kesejukan untuk setiap sisi kehidupan. Sementara disisi lain secara prosedur dan kelengkapan perjalanan sudah memenuhi persyaratan untuk sebuah tujuan wisata keluar negeri dan kalau toh dia ada catatan khusus maka seyogyanya sudah dapat diketahui pada saat proses pemberangkatan.

Agar permasalahan ini tidak menjadi berlarut dan berulang maka diperlukan langkah klarifikasi dan harmonisasi  tiga pihak yaitu UAS, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Singapura agar permasalahan menjadi jernih dan ketika ada catatan hitam bisa terhapus sehingga tercipta hubungan antara bangsa yang baik dan saling dan menghargai .

Semoga kejadian ini tidak berulang bagi UAS untuk masa mendatang dan juga untuk yang lain, dan oleh karenanya perlu mengevaluasi diri masing-masing agar segala permasalahan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya dilandasi semangat kebersamaan dan saling menghormati. (25052022@ br). [jbm]

Pos terkait