Suara Adzan Versus Suara Anjing Menggonggong

Foto Dokumentasi

Penulis: Dr. Basuki Ranto

Anggota Dewan Pakar ICMI DKI Jakarta

Bacaan Lainnya

Adzan dikumandangkan sebagai pertanda waktu sholat sudah tiba dan iqamah sebagai tanda bahwa sholat segera dimulai. Adzan dan iqomah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan muslim dan muslimah. Penggunaannya pun tidak terbatas pada saat sholat wajib, pada kasus dan waktu tertentu pun dikumandangkan.

Adzan fungsinya sebagai pemberitahuan kepada umat Islam sekaligus memanggil untuk datang kemesjid guna melaksanakan sholat berjamaah Sholat Wajib mulai Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib dan Isya agar umat muslim segera bergegas melaksanakan ibadah sholat tanpa menunda-nunda karena pahalanya akan berbeda sholat tepat waktu dengan menunda.

Selain Adzan digunakan untuk panggilan  sholat wajib , adzan juga digunakan ketika anak baru lahir.  Didalam masyarakat muslim memiliki kebiasaan anak yang baru lahir di Adzankan oleh orang tuanya (biasanya sang ayah). Demikian juga  halnya adzan juga digunakan untuk orang yang meninggal dunia yaitu ketika jenazah dimasukkan keliang lahat.

Adzan di mesjid, mushola, dan surau biasanya dikumandangkan oleh orang pilihan dalam arti tidak boleh sembarangan, setidaknya orang yang aklaqnya baik, baca Al-qur’annya baik dan tartil, dan yang pasti suaranya juga baik.

Adzan dikumandangkan biasanya dengan suara yang merdu, sehingga orang yang mendengarkannya terharu, terkesima dan fokus. Bahkan dalam adab Adzan yang mendengar disunahkan untuk mengikuti apa yang dikumandangkan Muadzin dengan suara pelan atau mengikuti apa yang dikumandangkan seolah jawaban bergantian. Adzan dilantunkan dengan indah dan memiliki alunan yang sangat baik, demikan halnya nada – langgamnya juga baik dengan berbagai pakem.

Adzan yang pasti bukan suara yang riuh, gaduh, bukan sebuah teriakan yang asal, dan bukan pula sebuah suara yang menghebohkan serta merusak telinga yang mendengarkan. Adzan dikumandangkan dalam waktu hanya kurang dari lima menit bergantung kepada langgam suaranya.

Mengingat bahwa untuk kepentingan umat sebagaimana diuraikan sebelumnya dan dikumandangkan oleh suara manusia pasti memiliki keterbatasan daya jangkau, bahkan dalam kehidupan masyarakat untuk mengetahui waktu sholat sering bertanya kecil kepada lingkungan “sudah adzan belum ya?”. Untuk memperoleh jangkauan yang lebih luas dengan mempertimbangkan luasnya lingkungan tempat tinggal umat yang meliputi lingkungan RT, RW maka diperlukan suara Adzan yang bisa menjangkau lebih luas, karena tidak setiap wilayah (RT, RW) memiliki satu tempat ibadah mushola dan mesjid, sehingga diperlukan pengeras suara yang biasa masyarakat menyebutnya dengan TOA (yang sebetulnya itu merk alat pengeras suara). Pengeras suara adalah alat teknologi yang digunakan untuk memperbaiki kualitas (memperkeras) suara Adzan. Begitu cepat perkembangan teknologi ini dan bahkan sudah masuk pada era digital yang berarti tidak diragukan lagi terkait kepada kualitas suara.

Pengeras suara pemanfaatannya juga dibedakan untuk diluar mesjid dan didalam mesjid. Untuk Adzan biasanya menggunakan suara luar yang dipasang di topping menara mesjid semata – mata untuk daya jangkau, namun kerasnya suaranyapun diatur melalui tehnologi, sementara untuk kegiatan dalam mesjid digunakan suara dalam yang tinggi-rendahnyapun diatur dengan sistem agar tidak mengganggu yang didalam mesjid apalagi untuk yang diluar mesjid.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari dalam masyarakat tidak jarang suara Adzan dijadikan sebagai waktu janjian pertemuan bisnis, memulai rapat, mengundang selamatan , pergi kesawah  dan kegiatan lain yang dengan suara adzan dianggap mudah menentukan waktu.

Dengan berbagai pertimbangan  manfaat dan kepentingan pengeras suara sebagai sebuah sarana yang diperlukan di semua mesjid/musholla dan memberikan manfaat bagi umat, lalu kenapa menjadi masalah? Apakah ditempat ibadah lain (untuk agama) tidak menggunakan alat pengeras suara? Pernahkah ada yang komplin terhadap hal itu? Hal ini sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan dan dijawab dengan bijak serta adil.

Suara gonggongan anjing merupakan suara khas yang keluar setiap saat. Anjing adalah hewan yang dipelihara oleh manusia dan digunakan penghuni  rumah sebagai pengamanan karena biasanya anjing akan menggonggong ketika ada orang lewat yang belum pernah dikenalnya, sehingga keluarlah suara gonggongan anjing tersebut dan tidak jarang dia mengejarnya lalu menggigit , menyerang dan berontak kepada orang yang dicurigainya, tentu saja ketika dia tidak diikat dan terlepas dari pagar. Dengan gonggongan tersebut tuan rumah yang mendengar  akan bereaksi melanjutkan sinyal anjing tersebut, membahayakan atau menenangkan ketika tidak ada masalah.

Di satu sisi anjing juga merupakan binatang kesayangan yang dirawat dengan cinta kasih bahkan makanannya pun juga perlu makanan khusus sesuai kebutuhan gizi hewan (anjing). Binatang peliharaan yang menjadi kesayangan ini tentu yang memelihara bukan masyarakat muslim, karena bagi umat islam binatang yang satu ini dilarang untuk didekati apalagi dipelihara, karena memiliki sesuatu yang membatalkan wudhu yaitu ketika bagian tubuh atau pakaian terkena air liur karena dijilad atau bentuk lain, sehingga harus disucikan terlebih dengan syariat yang berlaku dalam islam.

Suara gonggongan anjing tidak menentu dan tidak bisa diatur volumenya maupun waktunya secara terjadwal melainkan anjing menggonggong sesuai situasional lingkungan. Sepanjang pengetahuan, sampai saat ini tidak ada aturan yang mengatur bunyi anjing.

Gonggongan anjing juga sering digunakan untuk memberikan perhatian untuk suatu kondisi tertentu dengan menggunakan kata kiasan, “biarlah anjing menggonggong kafilah pergi”.

Didalam lingkungan bermasyarakat rasanya jarang orang meributkan gonggongan anjing karena adanya kesadaran tentang kebersamaan dan saling menghormati dalam hidup bertetangga yang masing-masing menyikapi dengan baik.

Dengan uraian tersebut menunjukkan bahwa suara Adzan sangat berbeda dengan suara gonggongan anjing dari berbagai sisi; baik pelakunya, nada suaranya, intonasi, langgam, keindahan, keterikatan perasaan, keteraturan, volume suara , manfaat penggunaannya dan fungsi perannya.

Analogi yang kurang tepat

Beberapa hari terakhir terjadi kegaduhan dengan beberapa perbedaan perspektif pendapat di  media sosial. Hal ini dipicu oleh penjelasan Menteri Agama yang viral di media sosial atas pertanyaan media terkait dengan Surat Edaran Menteri Agama terbaru Nomor SE05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaqn Pengeras Suara di Mesjid dan Musholla.

Dalam sebuah wawancara Menteri Agama menyatakan “Kita bayangkan, saya Muslim saya hidup di lingkungan nonmuslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanyabagaimana?” ucapnya.

Selanjutnya dikatakan, “Contohnya lagi, misalkan tetangga kita kiri kanan depan belakang pelihara anjing semua, misalnya menggonggong di waktu yang bersamaan, kita terganggu tidak? Artinya semua suara-suara harus kita atur agar tidak menjadi gangguan,“. Itulah transkrip dari ucapan Menteri Agama.

Dengan pernyataan tersebut timbul berbagai pendapat yang berbeda-beda yang intinya menentang pernyataan tersebut dari berbagai pihak yang menimbul kegaduhan di masyarakat. Ada yang beranggapan seolah-olah Umat  Islam berada pada posisi yang selalu menjadi obyek dalam berbagai kebijakan yang kontroversial. Menteri Agama mungkin tidak bermaksud lain kecuali bagaimana soal pengaturan penggunaan pengeras suara di Mesjid dan Mushalla, karena sebagai seorang Menteri pasti sudah tidak perlu diragukan lagi tentang kapabilitas, pengalaman, kepemimpinan dan cerita keberhasilan.

Namun menjelaskan Surat Edaran Menteri Agama tentang penggunaan pengeras suara di Masjid dan Musholla dengan menggunakan analogi yang memperbandingkan suara Adzan dengan suara Anjing menggonggong rasanya kurang tepat .

Menyandingkan (kalau tidak bisa dikatakan membandingkan) antara “suara adzan dengan suara anjing menggonggong” tentu saja berbeda sebagaimana sudah diuraikan sebelumnya, apalagi anjing bagi umat Islam adalah binatang haram, sehingga memiliki sensitifitas ketersinggungan yang tinggi terkait kepada akidah.

Kondisi ini menjadi sebuah keprihatinan kita dan mengganggu kebersamaan. Soal aturan tentu bagi masyarakat tidak menjadi masalah asalkan sebelumnya disosialisasikan dengan baik melalui pihak – pihak yang berkepentingan (stake holders) sehingga kebijakan yang diambil bisa diterima dengan baik dan tidak ada resistensi yang melebar.

Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil alamin) yang senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan, melakukan sesuatu dengan tujuan menegakkan kebenaran dan menolak kemungkaran. Islam tidak suka permusuhan dan perpecahan.

Semoga kita senantiasa memperoleh petunjuk dari Allah SWT. Mudah – mudahan para pemimpin kita adil dalam mengambil kebijakan, menciptakan kesejukan, melindungi, mengayomi, mensejahterakan sehingga tercipta kehidupan beragama yang kondusif . Aamiin.. (27022022). [jbm]

Pos terkait