Tempe Goreng…Apa Kabar?

Foto Dokumentasi

Penulis: DR. Basuki Ranto

Hari ini merupakan hari ketiga tindakan mogok para pengrajin tempe dan tahu yang berimbas kepada tukang ketoprak, tukang gado-gado, tukang gorengan tak terkeuali warung makan setelah 3(tiga) hari terjadi pemogokan.

Bacaan Lainnya

Mogok produksi para pengrajin se-DKI Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi ini didasarkan kepada Surat PUSKOPTI DKI Jakarta Nomor : 004/II/2022 tanggal 13 Pebruari 2022 tentang mogok produksi dan dagang tempe-tahu yang tentu saja akan berimbas kepada tukang gorengan, tukang ketoprak, tukang gado-gado dan warung makan secara komplementer.

Secara ekonomi hal ini akan menyebabkan banyak transaksi perdagangan tempe-tahu yang tidak bisa berlangsung dan tentu saja berimbas pada kehilangan pendapatannya para produsen. Belum lagi masyarakat konsumen yang tidak bisa mendapatkan kebutuhan pangan secara terjangkau karena kemampuan pendapatannya. Tempe-tahu merupakan menu yang paling akrab dengan masyarakat berpendapatan kecil dan memiliki daya keterjangkauan. Makan nasi panas dengan tempe goreng merupakan menu paling handal plus sambal bawang (itu juga kalau cabe tidak mahal) tetapi setidaknya ada tempe-tahu itu sudah sangat memadai bagi rakyat kecil.

Ketika tempe-tahu langka dipasaran dan harga mahal, apa yang akan terjadi bagi masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena belum tersedia barang pengganti (substitusi) untuk yang satu ini. Walaupun tempe-tahu juga dikonsumsi oleh masyarakat menengah atas namun bukan masalah bagi mereka karena masih ada pilihan lain dan biasanya tempe-tahu hanya merupakan menu tambahan.

Tempe Goreng (apa khabar?)

Kondisi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya diakumulasi dengan kelangkaan minyak goreng yang sudah berlangsung beberapa lama ini menjadikan masalah bagi ibu rumah tangga.

Untuk mendapatkan 1 liter minyak goreng harus datang pagi-pagi di mini market (Alfa, Indomart) dan lewat jam 9.00 sudah habis. Sementara untuk ke Super Market (Superindo misalnya) minyak goreng murah tidak tersedia, yang ada hanya minyak goreng berkualitas dan harga mahal yang tentu saja masyarakat kecil tidak bisa mendapatkannya. Akibatnya tempe-tahu goreng yang biasanya bisa dinikmati sebagai lauk makan tidak tersedia lagi, lalu apa penggantinya?

Minyak goreng dibutuhkan bukan hanya untuk tempe goreng, akan tetapi untuk masakan lainnya juga. Sehingga kondisi ini akan menjadi sebuah pertanyaan “Tempe Goreng” (apa kabarnya?). Bukan itu saja yang menjadi pertanyaan, namun juga sampai kapan kondisi ini akan kembali normal? Tentu saja butuh kehadiran pemangku kepentingan baik terkait kepada ketersediaan kedelai dengan harga wajar maupun ketersediaan minyak goreng dengan harga terjangkau untuk masyarakat kecil berpendapatan rendah.

Masalah berulang dan fokus perhatian

Masalah tingginya harga kedelai sebagai bahan baku tempe-tahu bagi para pengrajin/produsen tempe-tahu merupakan masalah yang sering berulang hampir setiap tahunnya. Demikian halnya masalah kelangkaan minyak goreng juga sering terjadi. Suatu kondisi Ironis dimana di negeri yang subur, luas, dan kaya akan sumber daya alamnya ini sering terjadi kelangkaan, sehingga menimbulkan pertanyaan dimana dan apa penyebabnya?

Kondisi yang berulang tentu saja menjadi sebuah pengalaman dalam mencari rumusan penyelesaian masalah sehingga tidak menjadi berlarut yang berdampak kepada banyak pihak.

Karenanya diperlukan kesigapan dan percepatan dalam merespon penyelesaian masalah yang berulang tersebut sehingga kesan ada pihak tertentu yang ingin mencari keuntungan apalagi ada upaya pihak tertentu yang sengaja menimbun menjadi tereleminasi dengan kesigapan penanganan.

Melihat kondisi ini maka diperlukan fokus perhatian dalam mengatasi permasalahan ini diantaranya pemerintah harus segera hadir melakukan intervensi menstabilkan harga dan terjaminnya ketersediaan, sehingga masyarakat mudah untuk memperoleh dua komoditi tersebut. Hal lain dalam jangka pendek perlu melakukan operasi pasar dengan menjual murah minyak goreng diberbagai wilayah, Rukun Warga (RW), Kelurahan dan di pasar-pasar tradisional. Sedangkan untuk kedelai diberikan stimulus bagi pengrajin maupun pedagang sampai normalnya pasokan dan harga.

Sebuah kabar baik, kebetulan saya berdomisili di Bekasi Selatan, bahwa Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bekasi akan mengadakan  operasi pasar minyak goreng dan untuk setiap kelurahan diberikan 3.000 liter minyak goreng dengan harga Rp. 13500 per liter. Kegiatan ini akan sangat membantu masyarakat untuk memperoleh kebutuhan minyak goreng, namun diperlukan langkah lanjutan yang lebih banyak lagi guna menghilangkan kegalauan masyarakat. Wallahualam. [jbm]

Pos terkait