Tersangka Pelaku Penganiayaan Anak di Pontianak Belum Ditahan

Foto Ilustrasi

Barometernews.id |Pontianak, – Kasus dugaan tindak pidana kekerasan dan atau pengeroyokan atau penganiyaan terhadap anak kali ini terulang kembali dikota Pontianak, yang menjadi korbannya adalah Inisial RWA berusia 15 tahun dengan pelaku berinisial E yang tidak lain adalah pamannya sendiri.

Kasus ini terjadi pada hari jumat tanggal 28 Februari 2020, bermula saat korban selesai sholat dimasjid dan ketika mau pulang bertemu dengan Pelaku E, namun Pelaku E bersama kawan-kawannya tiba-tiba melakukan penganiyaan atau pemgeroyokan terhadap RWA, akibat kejadian tersebut RWA sempat dirawat dirumah sakit karena mengalami luka dan memar.

Bacaan Lainnya

Meskipun orang tua korban langsung melapor atau membuat laporan pada hari itu juga sebagaimana tanda bukti lapor Nomor: Lp/255/VI/RES.1.6/2020/Kalbar/ tertanggal 28 februari 2020, namun pihak kepolisian tidak langsung memproses para pelaku atau seketika itu menetapkan tersangka, dimana penetapan tersangka atas pelaku baru pada sekitar akhir bulan Juni 2020.

Orang tua korban sempat membuat pengaduan kepada ombudsman karena lambatnya proses penetapan tersangka yang dilakukan oleh pihak kepolisian, kejadiannya sudah jelas disiang hari, bukti visum juga telah ada, saksi yang melihat juga ada, tapi kenapa pihak kepolisian lama sekali dalam menetapkan para pelaku sebagai tersangka, ko’ hanya  sdr. E yang ditetapkan tersangka yang lain bagiamana, ini ada apa?

Setelah sdr. E ditetapkan tersangka, pihak kepolisian tidak melakukan penahanan dengan alasan ancaman hukuman dibawah 5 tahun, pelaku yang ditetapkan tersangkapun hanya sdr. E, yang lain bagaimana, padahal saat kejadian banyak yang mengetahui juga, seharusnya pihak kepolisian mengusut tuntas para pelaku yang telibat dalam penganiayaan tersebut.

Suparman, S.H., M.H. selaku kuasa hukum menilai penetapan tersangka terhadap sdr. E, diluar kebiasaan pada umumnya mengapa demikian? karena saat terjadinya pengeroyokan atau penganiyaan pada hari itu juga dilaporkan keluarga korban, semestinya penetapan tersangka bisa dilakukan pada hari itu juga tidak harus menunggu berbulan-bulan baru ditetapkan tersangka, semestinya pada hari itu juga bisa dilakukan penangkapan,  karena akibat kejadian tersebut korban jadi trauma mau sholat dimasjid sudah tidak mau lagi takut bertemu dengan pelaku. Selanjutnya dengan tidak ditahannya si tersangka menjadikan kesan kepada publik khususnya kepada keluarga korban bahwa seolah-olah sipelaku kebal hukum.

R.Hoesnan, S.E. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalbar menilai bahwa meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak salah satu penyebabnya adalah lemahnya penegakkan hukum, dimana biasanya pelaku kekerasan terhadap anak seringkali ditingkat kepolisian maupun kejaksaan pelakunya tidak ditahan biasanya yang sering dijadikan alasan karena ancamannya dibawah 5 tahun.

Jika tidak dilakukan penahanan pada setiap pelaku kekerasan terhadap anak tentu ini akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum, mengapa? karena berpotensi orang lain akan melakukan hal serupa dengan perspektif meskipun menjadi tersangka pelaku kekerasan terhadap anak tapi tidak ditahan, atau jangan-jangan tidak ditahannya tersangka karena mempunyai kedekatan dengan aparat penegak hukum sehingga terkesan pelaku kebal hukum, ini yang harus dihindari Karena dimata hukum semua warga negara memiliki derajat yang sama.

Dengan ketegasan Aparat Penegak Hukum diharapkan mampu memberikan efek jera bagi pelaku serta memberikan Efek tangkal  agar masyarakat lainnya tidak dengan gampang melakukan kekerasan terhadap anak. Sehingga kedepan diharapkan Kasus Kekerasan terhadap anak  akan terus berkurang. [KHOT]

Pos terkait